
yang sudah biasa.
“Nge, buk. (iya, buk) ini udah bangun kok.” Binar menjawabnya.
“Ayo, sayang. Wudhu.” Ajak Binar kepada Chan.
Nampak kemudiaan memasukkannya kedalam rantang untuk dibawa kerumah sakit. Ia berfikir kalau tidak ada yang akan membawakan mereka makanan.
“Ayah gak ikut kerumah sakit?” Tanya Binar sambil mengambilan nasi untuk ayahnya.
“ kebun Binatang.
Chan nampak berfikir sejenak. Tapi kemudian ia menyetujui ucapan Binar. Memang pada dasarnya ia sangat senang pergi ke kebun Binatang. Ia tidak pernah bosan walaupun sudaha sering kesana.
Binar
“Buk, rantangnya taruh didepan sini aja. Biar Ibuk gak susah.” Tawar Binar sambil meminta rantang yang dipegang oleh Rukayah.
Karna tadi Chan naik didepan, jadi tidak ada ruang untuk menaruh rantang itu disana.
Rukayah mengangguk dan memberikan rantang itu kepada Binar. Dan setelah itu, Binarpun segera memacu sepeda motornya menuju ke rumah sakit MMC.
“Masih pagi kok udah panas gini ya hawanya.” Ujar Rukayah.
“Biasalah, Buk.”
“Besok lusa Pakde sama Bude mau kesini. Tadi Ikhsan nelfon.” Jelas Rukayah memberitahu.
“Beneran Buk? Wah senengnya. Udah lama mereka gak kemari ya Buk.”
“Iya. Terkhir kita ketemu waktu istri Ikhsan melahirkan, kan ya? Pas kita kesana.”
“Iya. Udah hampr setahun, Buk.”
__ADS_1
“Udah lama ternyata.”
Binar membelokkan sepeda motornya memasuki kawasan rumah sakit. Ia langsung menuju ke tempat parkir.
Ia membantu melepaskan helm Rukayah dengan hati-hati. Kemudian mengambil rantang dan menjinjingnya.
“Ayo, Buk.” Ajaknya kemudian.
“Pagi Mbak Binar.” Sapa wahyu. Si satpam paruh baya yang selalu ramah kepada Binar dan teman-temannya. “Lho saya fikir mbak masuk malam, soalnya ada motor Mbak Binar disana.”
“Pagi juga Pak Wahyu. Iya Pak, kemarin motor saya kempes bannya. Jadi saya tinggal disini. Kok sendirian, Pak?”
“Iya, ini Mbak. Pak Ronggo lagi kurang sehat katanya. Ini ibunya Mbak Binar?”
“Iya, Pak. Ini Ibuk saya.”
Wahyu mengangguk sopan kepada Rukayah. Begitu pula sebaliknya.
“Oh, ya Mbak. Silahkan.”
Binar kembali berjalan bersama dengan Rukayah masuk kedalam rumah sakit. Ia langsung menuju ke arah lift.
Setelah pintu lift terbuka, ia dan Rukayah segera masuk kedalamnya. Ada tiga orang dokter yang juga berada didalam lift.
Dengan sopan Binar menyapa mereka dengan menganggukkan kepalanya.
“Assalamualaikum, Buk” Sapa suara yang tidak asing telinga Binar dan ibunya.
Mereka berdua kompak menoleh kebelakang. Dan ternyata ada Ubay juga disana.
Binar tidak melihatnya karna Ubay berdiri dibelakang rekannya.
“Wa’alaikum salam. Nak Ubay to.” Jawab Rukayah.
__ADS_1
“Tumben ikut kemari Buk. Mau ngawasin Binar ya Buk? Tenang aja Buk. Ada aku kok. Hehehe..” Seloroh Ubay seperti biasanya.
“Kamu ini. Ibuk mau jenguk temen Ibuk. Kata Binar kemarin dibawa kesini.” Jelas Rukayah.
Ubay seprti bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Rukayah.
Ting!
Saat pintu lift terbuka di lantai 3, Binar dan Rukayah segera turun.
“Maaf ya Buk. Aku gak bisa nemenin. Udah ditunggu pasien.” Jelas Ubay tanpa keluar dari lift.
“Iya, gak apa-apa. Kamu pasti sibuk.”
Senyum Ubay menghilanag saat pintu lift kembali tertutup.
Sedagkan Binar dan Rukayah terus berjalan menuju kesebuah kamar rawat inap yang ada diujung lorong. Tempat Diyah dirawat.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
terimakasih...
__ADS_1