
Ditengah cuaca terik, seorang pria yang mengenakan kacamata hitam dengan kaus pendek berwarna putih, dan celana jeans abu-abu. Dengan gagahnya berdiri disamping mobil sedan mewah yang sedang terparkir di seberang sekolah. Berkali-kali melirik jam tangannya dengan tidak sabar.
Sedangkan para emak-emak yang juga sedang menunggui anak-anak mereka pulang sekolah, merasa mendapat pemandangan gratis. Mereka sibuk berbisik-bisik, membicarakan tentang betapa tampan dan gagahnya pria itu. Sekaligus penasaran siapa gerangan pria keren itu.
Saat pintu gerbang sekolah dibuka, anak-anak berhamburan keluar dari dalamnya. Berlari menuju kearah orang tua mereka masing-masing.
Chan sedang kebingungan. Ia mencari sosok ibunya di tempat biasanya Binar menunggu. Tapi ia tidak bisa menemukannya. Anak itu langsung manyun dan nampak kecewa.
“Chan!!” Panggil Pamungkas sambil melambaikan tangannya. Ia melepas kacamatanya agar Chan lebih mudah untuk mengenalinya.
“Papa!!!!” Pekik Chan yang langsung berlari mendekati Pamungkas. Ia langsung mencium punggung tangan Pamungkas. Seolah sudah terbiasa dengan hal itu.
Begitu pula dengan Pamungkas yang mengusap-usap puncak kepala Chan dengan gemas.
Pemandangan itu langsung menjadi pembicaraan dikalangan ibu-ibu yang sedang menjemput anak-anak mereka.
Mereka heran mendengar panggilan Chan untuk pria tampan yang baru saja mereka kagumi. Sepengetahuan mereka, Chan tidak punya ayah. Jadi kenapa anak itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’?
Dan, muncullah praduga-praduga diantara mereka.
“Kok Papa disini? Biasanya Mama yang jemput.” Tanya Chan.
“Mama gak sempat jemput. Jadi Papa yang jemput Chan. Kan kemarin Chan bilang mau nginep dirumah Nenek sama Kakek. Kenapa? Gak mau dijemput Papa?” Tanya Pamungkas dengan memasang wajah sedih.
“Enggak, kok. Chan seneng kalau Papa jemput. Chan kira Papa lupa.”
Pamungkas meraih tubuh putranya itu kedalam pelukannya. Mengusap lembut punggung dan kepala Chan.
“Papa gak mungkin lupa, sayang. Ayo, kita pulang.” Ajak Pamungkas.
Pamungkas melajukan mobilnya menuju kerumah Binar. Tidak lupa ia berhenti untuk membeli beberapa buah untuk ia bawa.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Pamungkas dan Chan bersamaan saat mereka sampai didepan rumah Binar.
“Wa’alaikum salam.” Jawab Ustadz Syuhada yang sedang duduk di beranda sambil membaca Al-Qur’an.
“Kakung!!” Pekik Chan. Ia langsung menyalami kakeknya.
“Sudah pulang?” Tanya Ustadz Syuhada. “Mari masuk, Nak Pam.” Ajak Ustadz Syuhada kemudian.
“Iya, Ustadz. Ini, ada sedikit buah-buahan.” Pamungkas memberikan keranjang penuh dengan berbagai macam buah itu kepada Ustadz Syuhada.
“Walah. Kok jadi merepotkan. Terimakasih banyak ya, Nak Pam.”
“Gak kok Ustadz.”
__ADS_1
“Uty mana, Kung?” Tanya Chan yang tidak menemukan neneknya.
“Uty di warung. Tunggu sebentar, ya. Tak buatkan minuman dulu.”
“Gak usah, Ustadz. Gak perlu repot. Saya cuma mau mengantar Chan, sekalian minta izin untuk Chan. Karna malam ini dia akan menginap dirumah orang tua saya.” Pamungkas langsung menolaknya. Mana mungkin ia tega melihat Ustadz Syuhada berjalan tergopoh-gopoh untuk membuatkannya minuman.
“Oh, iya. Binar sudah memberitahu semalam. Baju ganti Chan juga sudah di siapkan.” Jelas Ustadz Syuhada.
Tidak lama kemudian, Chan muncul dari dalam dengan sudah mengganti pakaiannya. Ia menjangkat sebuah tas ransel kecil yang berisi pakaiannya.
“Kalau gitu, kami Pamit dulu, Ustadz.” Ujar Pamungkas sambil menyalami Ustadz Syuhada.
“Iya. Hati-hati.”
“pamit ya, Kung. assalamualaikum.” Ujar Chan yang juga menyalami kakeknya.
“Wa’alaikum salam. Inget, jangan merepotkan disana, ya.”
“Oke.” Jawab Chan dengan mantap.
Ada sedikit kekhawatiran di mata Ustadz Syuhada saat melihat cucunya masuk kedalam mobil. Selama ini Chan tidak pernah tidur diluar. Tidak pernah pergi dengan orang lain selain keluarganya. Ia takut kalau nanti Chan malah menangis dan merepotkan keluarga Pamungkas.
“Chan. Kita Pamit sama Uty dulu, ya.”
“Iya. Itu warungnya ada di dekat jalan besar.” Tunjuk Chan.
“Assalamu’alaikum, Uty!” Pekik Chan dari depan pintu masuk.
“Wa’alaikum salam.” Jawab Rukayah. Melihat kedatangan Chan dan Pamungkas. Ia langsung menghampiri mereka.
“Sudah mau pergi?” Tanya Rukayah.
“Iya, Buk. Izin bawa Chan ya, Buk” ujar Pamungkas.
“Iya. Chan jangan nakal ya disana. Jangan ngerepotin orang, ya.” Pesan yang sama dengan suaminya.
“Iya, Uty.”
“Mamamu udah pulang belum, Chan?”
“Belum Uty. Tadi aja yang jemput Chan disekolah, Papa.” Jelas Chan.
Rukayah beralih menatap Pamungkas.
“Buk, boleh minta nomor hapenya Binar? Buat jaga-jaga.” Pinta Pamungkas.
__ADS_1
“Oh, iya. Sebentar.” Rukayah meraih ponsel dari dalam saku celemek yang ia kenakan. Kemudiann mencari nomor ponsel Binar dan memberikannya kepada Pamungkas.
Dengan segera Pamungkas mencatat nomor itu kedalam ponselnya dan menyimpannya. Dan setelah Pamit kepada Rukayah, Pamungkas menggandeng Chan untuk masuk kedalam mobil. Ia tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang melihatnya dengan bertanya-tanya.
Sepeninggalnya Pamungkas dan Chan, Siti langsung bertanya kepada Rukayah. “Siapa itu, Mbak?”
“Ayah kandungnya Chan.”
“Hah? Jadi itu mantan suami Binar?”
“Bukan. Binar itu belum pernah menikah lho, Ti. Mana punya dia mantan suami.” Jelas Rukayah. Sepertinya ia harus menjelaskan sejelas-jelasnya kepada Siti.
“Lha tapi, si Chan itu...”
“Jangan suudzon dulu, Ti. Chan itu anak angkatnya Binar. Dulu waktu kami masih tinggal dirumah lama, ada yang tega buang bayi didepan rumah kami. Jadi diangkat anak sama Binar.”
“Astaghfirullah hal adzim, Mbak. Maaf ya, Mbak. Selama ini aku udah berfikir yang aneh-aneh. Aku kira Binar itu janda.” Sesal Siti.
Wajar saja jika orang-orang dilingkungan mereka menganggapnya begitu. Karna keluarga Binar memang tidak pernah menjelaskannya dengan gamblang.
“Ya udah. Gak apa-apa. Makanya jangan suka suudzon dulu. Daripada mengira-ngira, mending tanyakan langsung sama orangnya. Kan jelas. Jadi gak ada fitnah.”
“Mbak sih, gak pernah cerita yang sebenarnya.” Protes Siti.
“Kami cuma kasihan sama Chan, Ti. Gimana kalau dia tau, kalau dia itu anak angkat? Anak sekecil itu, yang sedang membutuhkan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya, terutama kami, keluarganya. Kami gak tega, Ti. Binar udah sayang banget sama Chan. Perhatiannya semua untuk Chan. Sampai-sampai dia gak mikirin tentang masa depannya sendiri.”
Siti mengangguk-angguk membenarkan ucapan Rukayah. “Jadi karna itu Mbak menolak lamaran Bu Rw?”
“Soal lamaran itu, sepenuhnya keputusan Binar. Aku gak ikut campur, Ti.”
“Iya juga sih, Mbak. Aku aku sendiri, kayak gak ikhlas gitu Binar nikah sama sepupunya Buk Rw. Mana anaknya udah besar-besar.”
Rukayah memukul lengan Siti untuk menghentikannya bicara. Kalau dibiarkan, bisa panjang nanti. Apalagi jika ada orang lain yang ikut menguping pembicaraan mereka. Sebisa mungkin ia menghindari fitnah untuk Binar.
Siti yang mendapat teguran itu langsung mengatupkan mulutnya erat-erat sambil tersenyum. Kemudian melanjutkan melayani pembeli. Begitu juga dengan Rukayah. Karna jam makan siang begini, warungnya lumayan ramai.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...