Pindah

Pindah
23


__ADS_3

Binar merebahkan tubuhnya di atas tepat tidur. Mencoba terpejam.


Tapi walaupun matanya bisa terpejam, tapi ia masih gagal menjemput rasa kantuknya. Kamarnya terasa sepi karna Chan tidur bersama Kakung dan Utynya.


Ia memikirkan matang-matang. Apa ia akan tetap berangkat bekerja besok?


Yang pastinya dengan begitu banyak sindiran dan desas-desus tentang dirinya dari rekan-rekannya.


Binar kembali menyibakkan selimutnya. Ia turun dari tempat tidur kemudian berjalan kedalam kamar mandi.


Ia mengambil air wudhu kemudian menjalankan sholat sunnah dua rakaat.


Setelah selesai sholat, ia membaca surat Yaasin dan beberapa surah jus Amma.


Fikirannya perlahan kembali tenang karna sejuknya air wudhu yang masih terasa di wajahnya.


Binar menunduk lama sekali. Ia mengadu dan menumpahkan segala yang menjadi permasalahannya kepada sang maha pendengar. Memohon agar ditunjukkan jalan keluar terbaik atas rencana tuhan yang sama sekali tidak bisa ia tebak.


Ia tersedu.


Bahkan beberapa tetesan airmatanya jatuh disamping Al-Qur’an yang masih ia genggam.


Ia sungguh-sungguh menumpahkan segalanya saat ini. Meyakini bahwa segala bentuk ujian yang ditimpakan kepadanya merupakan proses untuk memperdalam ketakwaannya.


Kalau Allah memberikan dia ujian seberat ini, pastilah ia punya kekuatan untuk melewatinya.


Seperti kata-kata yang selalu ia dengar,


‘Allah tidak akan memerikan ujian jauh melampaui kekuatan manusia itu sendiri.’


Bukankah itu berarti ia adalah seorang hamba yang kuat?


Karna itu dia mendapatkan ujian istimewa ini.


Allah saja percaya padanya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak percaya pada dirinya sendiri.


Binar kembali membaringkan tubunya diatas kasur tanpa melepas mukenahnya. Ia menatapi ponselnya.


Teman-temannya sangat mengkhawatirkannya. Terlihat dari grup obrolan yang berisikan dirinya, Yuli, Via, dan Sonya. Mereka semua menayakan apakah dia sudah merasa lebih baik.


‘Aku udah lebih baik, kok. Makasih ya, kalian udah perhatian sam aku’ -Binar.


‘Beneran ya, Bin’ –Via.


‘Itulah gunanya temen, Bin.’ –Sonya.


‘Besok aku traktir bakso beranak ya, Bin.’ –Via


‘Kok tiba-tiba ngomongin bakso, sih?’ –protes Yuli


“Sengaja, biar kamu pengen. Kamu kan maniaknya bakso Yul.’ –Via


‘Sialan kalian. Kan aku jadi kepingin bakso. Mana udah malem banget lagi.’ –Yuli


‘Besok aku tagih ya, Vi. Awas kalok gak jadi.’ –Binar

__ADS_1


‘Iya. Awas aja kalau gak jadi. Soalnya kamu udah terlalu sering melanggar janji, Vi...’ –Sonya


‘Yaelah, kalian gak percayaan amat sih. Serius ni aku.’ –Via


‘Tapi besok kamu tetep masuk kerja, Bin?’ –Yuli


‘Gak tau. Kayak berani, kayak enggak.’ –Binar


‘Semangat Binar. Kamu kuat kok. As always you do.’ –Sonya


‘Iya. Ngapain juga dengerin ocehan orang-orang. Mereka kan cuma dengar dari berita. Gak usah diurus lah. Masih ada kami, Bin.’ –Yuli


‘Gayamu, Yul tadi kamu bilang besok gak usah masuk kerja.’ –Binar


‘Ya tapi setelah denger pejelasan dari Mas Ubay, masuk akal juga, sih.’ –Yuli


‘Dasar Yuli. Plin plan.’ –Sonya


‘Ye maap...’ –Yuli


‘😁😁’ –Via


‘🤣🤣’ –Sonya


‘Bin?’ –Yuli


‘Udah tidur ta?’ –Via


‘Binar? Woi!’ –Sonya


‘Yaelah, udah tidur kayaknya nih anak. Kalian juga buruan tidur. Siapin stamina buat bentengin Binar besok’ –Yuli


‘Pastinya.’ –Sonya


Dan obrolan itupun berakhir dengan Binar yang sudah tertidur lebih dulu dengan posisi tengkurap diatas tempat tidur dengan masih mengenakan mukenah. Dan ponsel digenggamannya.


*****


“Berhenti disini, Pak.” Seru Ubay kepada supir taksi yang mengantarkannya.


Ia kemudian turun dari taksi setelah membayar ongkosnya.


Kini Ubay telah berdiri didepan sebuah pagar besi yang menjulang tinggi berwarna putih. Ia memperhatikan keadaan yang ada dibalik pagar itu.


Nampak sepi.


Ia kemudian memeriksa apakah pagar itu terkunci atau tidak.


Ternyata tidak terkunci. Ia langsung masuk saja kedalamnya.


Ubay mengedarkan pandangannya. Ia menangkap sosok pria yang tengah terduduk lesu di tangga teras. Ia bisa melihat kalau pria itu tengah menikmati sebatang rokok.


“Merokok tidak baik untuk kesehatan jantung. Tapi baik untuk orang yang lagi galau.” Sloroh Ubay


Pamungkas langsung mendongakkan kepalanya melihat Ubay yang berjalan menghampirinya.

__ADS_1


“Ngapain lo termenung diluar gini. Tengah malam pula.”


“Ngapain lo kesini.” Pamungkas tak menghiaukan pertanyaan Ubay.


Ubay yang tidak mendapat jawaban malam ikut duduk disamping Pamungkas.


Pamungkas segera mengulurkan sebungkus rokok pada Ubay. Dan Ubay segera mengambil satu batang untuk dirinya.


Setelah menyalakannya, Ubay menyesapnya kemudian membuang asapnya keudara.


Selama rokok itu masih belum ahbis, tidak ada seorangun yang berbicara. Mereka berdua masih menikmatinya sampai hisapan terakhir.


“Gimana keadaan Binar?” Tanya Pamungkas sambil mematikan api rokoknya di lantai begitu saja.


“Menurut lo?” Jawab Ubay yang meilih menginjak puntung rokoknya itu sampai hancur.


“Dia pasti kaget banget.”


“Bukan cuma kaget. Dia terpukul banget. Soalnya dia gak perah dapet masalah sebesar ini.” Jawab Ubay.


“Gue juga gak tau kalau bakal jadi begini. Gue fikir selama ni aman-aman aja.”


“Lo kurang wasada, Pam.”


Pamungkas terdiam. Ia hanya memandangi lampu taman yang menyala dikejauhan.


“Tapi gue yakin lo bisa selesein ini dengan cara yang baik. Karna gue tau lo bukan tipe orang yang akan ngorbanin orang lain demi nutupin masalah lo sendiri. Dan gue gak akan tinggal diam kalau lo sampai ngorbain Binar dalam hal ini.”


Pamungkas mengalihkan pandangannya kepada Ubay. Ia bisa melihat tatapan keseriusan dimata Ubay. Ia tau kalau Ubay sedang bersungguh-sungguh.


“Gue gak nyangka perasaan lo ke Binar bakalan awet sampe sekarang, Bay. Padahal udah bertahun-tahun. Lo emang cowok idaman.” Pamungkas kembali melemparkan pandangannya kearah taman. Ada rasa tidak rela, dan iri karna Ubay masih menyimpan perasaan itu begitu baik hingga sekarang.


Berbeda dengan dirinya. Ia terpaksa harus menyudutkan dan menenggelamkan perasaannya kepada Binar di sudut hatinya yang paling dalam karna pernikahannya dengan Reanty. Karna satu kesalahan yang membuatnya sangat menyesal. Tapi perasaan itu, belakangan perlahan mulai muncul kepermukaan lagi. Membuat Pamungkas merasa tidak tenang.


“Dan lo tau lebih baik soal ini dari pada siapapun. Bahkan Binar sekalipun.” Ubay menghela nafas. “Gue gak bisa lihat Binar sedih, Pam. Tadi dia bilang, kalau dia ngerasa sakit banget karna orang-orang nyebut dia sebagai pelakor. Kabar yang beredar kalau Binar adalah penyebab rusaknya rumah tangga lo sama Rea. Dan semua orang nyalahin dia.”


“Hhhh.... Tenang aja. Gue bakalan usahain supaya Binar gak kebawa-bawa lagi. Lagian memang dia gak ada hubungannya sama sekali. Gue sama Rea mau ngadain konferensi pers besok. Semoga aja itu bisa memperjelas semuanya.”


“Lo tau kan kalau Binar, dan gue, berharap banyak sama lo.”


Pamungkas menebarkan senyumannya. Menatap Ubay dengan keyakinan.


Sebenarnya juga dia sedang meyakinkan dirinya sendiri tentang hal itu. Sambil berharap semoga besok konferensinya berjalan lancar seperti apa yang diinginkan olehnya.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...


terimakasih...


__ADS_2