Pindah

Pindah
38


__ADS_3

Binar baru saja selesai melaksanakan sholat isya berjamaah di masjid. Ibunya sudah lebih dulu pulang karna Binar harus berbincang dengan beberapa tetangga mereka dulu. Yang menanyakan tentang keadaan Chan yang baru saja mengalami kecelakaan.


“Gak apa-apa kok Teh. Cuma lutut sama sikunya aja yang lecet. Anaknya lagi tidur dirumah.” Jawab Binar kepada Sari.


“Ya ampun. Si Chan ada-ada aja. Kok bisa sih? Gimana ceritanya?” Tanya Sari yang ingin mengulik lebih jauh tentang kronologi kejadian.


“Kemarin pulang sekolah dijemput temenku, Teh. Diajak keliling-keliling sebentar, pas di jalan, diserempet sama mobil yang gak bertanggung jawab.” Jelas Binar lagi.


“Jadi mobil itu langsung kabur?” Tanya Sari memastikan.


“Iya, Teh.”


“Ya ampun. Dasar orang itu ya, gak punya simpati kalau abis nabrak. Seenaknya malah kabur gitu aja.” Sari jadi ikut geram setelah mendengar cerita dari Binar.


Binar hanya tesenyum. Menghargai simpati yang ditunjukkan oleh sari. “Yaudah kalau gitu aku duluan ya, Teh. Takut Chan nyariin.” Pamit Binar.


“Oke, oke. Besok aku kesana jenguk Chan bareng Agung.”


“Iya, Teh. Makasih banyak ya, teh. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam...”


Binar dan sari ebrpisah didepan masjid untuk kemudian menuju kerumah mereka masing-masing.


Saat keluar dari halaman masjid, Binar mengernyitkan keningnya. Ia melihat ada seorang pria yang mengenakan celana berwarna hitam, dan kaus berwarna biru dongker, yang sedang mondar-mandir di depan rumahnya. Gelagatnya sangat mencurigakan. Seperti pencuri. Pria itu terus mengawasi keadaan di dalam rumah Binar yang pintunya masih terbuka setengah.


“Cari siapa ya?”


Pertanyaan Binar mengejutkan pria itu. Ia menghentikan aktifitasnya dan berbalik menoleh kepada suara yang menanyainya.


Binar dan pria itu sama-sama terkejut. Tidak menduga akan bertemu di tempat itu.


“Mas Pam?” Tanya Binar.


“Lho, Bin?” Pamungkas yang masih mencoba untuk mencerna keadaan nampak Bingung dengan kemunculan Binar.


“Ngapain Mas Pam disini?” Tanya Binar.


“Kamu ngapain disini?”


“Aku yang tanya duluan, Mas.” Tegas Binar.


Pamungkas yang belum selesai dengan keterkejutannya, mencoba mneguasai diri.


“Aku, lagi cari alamat ini.” Kata Pamungkas dengan memberikan kertas alamat kepada Binar.

__ADS_1


Rasa terkejut Binar semakin bertambah saat membaca alamat yang adalah alamat rumahnya. Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dibenaknya.


“Kenapa Mas Pam cari alamat ini?” Tanya Binar curiga.


“Ada seseorang yang Ahrus aku temui.” Jawab Pamungkas.


Siapa? Batin Binar. Sangat tidak mungkin jika Pamungkas datang mencari dirinya. Karna pria itu tetap menanyakan alamat meskipun mereka sudah berjumpa.


“Ini rumahku, Mas.” Jawab Binar pada akhirnya.


Pamungkas semakin terkejut. Awalnya ia hanya ingin memastikan alamat itu kepada Binar karna kebetulan mereka bertemu disini. Sangat tidak disangka jika rumah di alamat itu ternyata rumah dimana Binar tinggal.


Pamungkas ternganga untuk beberapa saat. Seketika kalimat-kalimat yang sudah dia susun rapi di perjalanan buyar entah kemana. Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalanya. Prasangkanya kini berubah menjadi keraguan. Menimbun keberanian dan harapannya.


“Mas?” Tanya Binar menyadarkan lamunan Pamungkas. “Siapa yang Mas Pam cari?”


Pamungkas tidak tau harus menjawabnya bagaimana. Tiba-tiba lidahnya menjadi kelu. Bukan seperti ini yang dia harapkan.


“Ehm,, aku...” Pamungkas tak jadi menyelesaikan kalimatnya.


“Siapa Bin?” Suara Rukayah membuat Binar dan Pamungkas menoleh.


Rukayah mengernyitkan keningnya. Ia masih ingat dengan wajah Pamungkas yang ia temui beberapa tahun yang lalu itu. Wajah itu sudah terpatri di ingatan Rukayah dengan judul pria yang sudah menghancurkan masa depan putrinya. Tentu saja dia tidak bisa melupakannya dengan mudah.


“Assalamu’laikum, Buk.” Sapa Pamungkas dengan suara yang seramah mungkin. Ia tahu kalau kesannya didepan keluarga Binar sudah tidak bagus.


“Ehm...” Pamungkas masih terlihat ragu untuk menjawab. Dadanya bergemuruh luar biasa. Lututnya gemetar.


Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya bukan keluarga Binar yang ia temui. Tapi kenapa malah mereka yang muncul dihadapannya? Membuat keberaniannya runtuh. Dia seperti sedang dipermainkan.


“Ayo, masuk Mas. Ngobrolnya didalam aja.” Ajak Binar. Ia tahu kalau ibunya sedang melirik tajam penuh pertanyaan.


“Makasih, Bin.”


“Masuk, Pak Dokter.” Akhirnya Rukayah ikut mempersilahkan Pamungkas untuk masuk kedalam rumahnya.


Dengan perasaan segan yang menumpuk dihatinya, Pamungkas mengikuti langkah Binar masuk kedalam rumahnya.


“Silahkan duduk, Mas.”


“Makasih, Bin.”


Ustadz Syuhada yang baru selesai sholat, mendengar ada tamu dirumahnya. Ia kemudian keluar dari kamarnya dengan langkah yang tertatih.


“Siapa, Buk?” Tanya Ustadz Syuhada kepada istrinya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Sapa Pamungkas. Ia bangkit dari tempat duduknya saat Ustadz Syuhada menghampirinya. Walaupun mereka belum pernah bertemu, tapi Pamungkas sering melihatnyya di tv. Tapi yang membuat Pamungkas terkejut adalah, kondisi Ustadz Syuhada yang sepertinya kurang baik.


“Wa’alaikum salam. Ayo, duduk, duduk.” Ustadz Syuhada mempersilahkan degan ramah. “Ananda ini siapa, ya? Dan ada perlu apa datang kemari?” Tanya Ustadz Syuhada tanpa berbasa basi.


“Saya Pamungkas, Ustadz.”


Mendengar nama Pamungkas, Ustadz Syuhada sedikit terkejut. Dia memang tidak pernah tau seperti apa rupa Pamungkas. Tapi ia sangat hafal nama itu.


“Ada perlu apa ya Nak Pam?” Ustadz Syuhada mengulangi pertanyaannya.


Sebelum Pamungkas menjawab pertanyaan Ustadz Syuhada, Binar sudah terlebih dulu muncul dngan membawa segelas kopi untuk Pamungkas.


“Silahkan diminum dulu, Mas.” Binar mempersilahkan.


Pamungkas menatap Binar Bingung. Kenapa hanya ada satu gelas minuman saja.


“Ayah udah minum tadi, Mas.” Jawab Binar yang tau arti dari tatapan Pamungkas padanya.


“Ayo, silahkan diminum.” Ujar Ustadz Syuhada.


Rukayah muncul dari dapur dan duduk disamping suaminya. Sementara Binar masuk kedalam kamarnya untuk melihat Chan.


Anak itu masih tertidur pulas. Jadi Binar kembali lagi keruang tamu dan duduk bersama dengan mereka.


“Ehm, sebelumnya saya minta maaf kepada Ustadz dan Ibuk, juga Binar. Karna saya bertamu malam-malam begini. Tujuan saya, yang pertama, ingin meminta maaf dengan tulus atas kejadian dua tahun yang lalu, dimana saya menyebabkan Binar kehilangan pekerjaannya.” Pamungkas memulai pembicaraannya walaupun suasana terasa sangat canggung.


Semua mendengarkan perkataan Pamungkas dengan khidmat. Rasa sakit atas kenangan buruk itu muncul kembali di benak mereka masing-masing.


“Tidak perlu diungkit lagi, Nak Pam. Semua sudah terjadi. Kami semua sudah mengikhlaskan. Itu adalah salah satu ujian dari Allah untuk menaikkan derajat keimanan kita.” Jawab Ustadz Syuhada dengan kebijaksanaannya. Membuat Pamungkas merasa malu.


Ia menghela nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Dan yang kedua, maaf kalau saya lancang menanyakan hal ini.” Pamungkas kembali menghela nafas. Kemudian menatap kepada Binar. “Maaf sebelumnya, Bin. Aku mau tanya soal anakmu. Apa dia anak kandungmu?”


Binar mengernyitkan keningnya. Ia nampak tersinggung dengan pertanyaan itu. “Kenapa Mas Pam ingin tau soal Chan?”


“Aku gak tau harus mulai cerita darimana. Tapi, ada kemungkinan kalau Chan itu adalah putraku.”


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2