
Sejak pagi, Binar sudah sibuk mengantarkan penumpang. Kalau pagi, kebanyakan pelanggannya adalah anak sekolah, atau para pekerja kantor yang sedang terburu-buru untuk pergi kekantor.
Saat jam makan siang tiba, ia akan sibuk untuk mengantarkan pesanan makanan dari para pelanggannya. Terkadang ia sendiri sampai lupa makan.
Siang ini juga begitu. Sampai ia merasa tidak sempat untuk menjemput Chan di sekolah. Orderannya lumayan banyak.
Binar berhenti di inggir jalan raya. Kemudian ia mengeuarkan ponselnya dan menhubungi Yuli.
“Ya, Bin? Kenapa?” Sapa Yuli dari seberang.
“Kamu dimana, Yul?”
“Dirumah. Kenapa?” Yuli mengulang pertanyaannya.
“Bisa minta tolong gak?”
“Apa?”
“Tolong jemputkan Chan di sekolah. Aku gak sempat nih.”
“Oke.” Yuli menyetujuinya begitu saja. Lagipula dia memang sedang tidak ada kerjaan.
“Makasih ya Neng...”
“Sama-sama.”
Setelah mendapatkan kesediaan dari Yuli, Binar kembali meletakkan ponselnya di penyagga yang terdapat di spion. Kemudian melanjutkan untuk mengantarkan pesanan makanan di sebuah taman kota.
Setelah berkendara sekitar 15 menit, sampailah Binar di taman yang dituju. Ia segera turun dari sepeda motornya lalu mencari pelanggan yang telah memesan makanan.
Ia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Mencari pelanggan tersebut.
Dari kejauhan, nampak pria yang sedang duduk disebuah bangku taman melambaikan tangan kepadanya.
Merasa dipanggil Binar langsung berjalan mendekat kearah pria yang mengenakan topi dan masker tersebut.
“Mas Dani?” Tanya Binar memastikan.
Pria itu mengangguk.
Binar segera menyerahkan bungkusan makanan yang dia bawa. Dan pria itu langsung menerimanya.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Binar.
“Kamu udah makan belum?” Tanya pria itu tiba-tiba. Menghentikan langkah Binar.
Binar tidak lantas menjawabnya ia hanya menatap kearah pria itu dengan heran.
Orang asing yang tidak ia kenal sedang menanyakan apa dia sudah makan atau belum.
“Gak usah kaget gitu, lagi.” Seloroh pria itu. Ia melepas maskernya.
“Ya ampun, Mas. Kirain siapa.” Binar langsung terkekeh saat pria itu melepas maskernya.
“Kalau gak gini kamu pasti gak punya waktu istirahat buat makan siang. Iya kan?” Tanya Ubay.
“Udah biasa.”
__ADS_1
“Sini. Duduk dulu. Kita makan bareng. Aku sengaja pesen dua porsi nih, buat makan sama kamu.” Ujar Ubay sambil mengeluarkan makanannya dari dalam plastik.
“Niat banget. Pake akun lain segala.” Binar ikut duduk di depan Ubay. Perutnya memang sudah terasa lapar. Hanya saja dia belum punya waktu untuk makan siang.
“Sengaja. Mau ngerjain kamu.”
“Ya tapi gara-gara ini aku jadi gak bisa jemput Chan, Mas.” Protes Binar.
“Ah. Iya. Aku lupa. Terus gimana dong?” Ubay tiba-tiba merasa panik dia benar-benar lupa kalau Binar harus menjemput Chan.
“Aku udah minta tolong sama Yuli.”
Mendengar itu Ubay merasa lega. Dia tdak jadi merasa bersalah. “Syukur deh kalau gitu”
“Mas Ubay ngapain disini?” Selidik Binar.
“Abis ketemu sama temen.”
“Cieeeeee...”
“Cowok! Gak usah pakek cie, cie.” Dengus Ubay.
Membuat Binar tertawa.
Kemudian kedunya melanjutkan makan siang mereka. Menunya adalah ayam geprek dengan sambal bawang yang aroma pedasnya sudah menusuk di hidung.
Selama makan, mereka tidak ada yang bersuara. Keduanya nampak seperti orang yang sedang kelaparan. Fokus dengan santapan mereka.
“Makasih, Mas.” Ucap Binar setelah dia menyelesaikan makanannya.
“Ya mau gimana, Mas. Sibuk.”
“Diselain waktunya dong, buat makan. Kalau kamu nanti sakit, kasihan Ayah sama Ibuk.”
Binar seperti tertampar oleh perkataan Ubay.
Benar. Selama ini ia sudah jarang memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Ia terlalu fokus untuk Ayahnya dan juga Chan. Sampai melupakan betapa pentingnya kesehatan tubuhnya demi merawat mereka.
“Bin, masih ada tempat buat kamu di klinik. Mau ya?” Tanya Ubay.
“Mas tiap ketemu pasti bicarain itu deh. Kan udah aku bilang, aku lebih nyaman ngojek Mas.”
“Masalahnya, kinik memang butuh banyak perawat. Terlebih karna aku udah gak di rumah sakit lagi, jadi aku udah fokus ke klinik sekarang. Perawat yang ada masih kewalahan.”
“Aku pikir dulu ya, Mas. Tapi jangan terlalu berharap.”
Bukan Binar tidak ingin menerima tawaran itu. Tapi ia sudah punya banyak hutang budi kepada Ubay. Yang sampai sekarang ia masih belum tau bagaimana untuk membalasnya.
Ia tau satu hal yang sangat diinginkan oleh Ubay, yaitu perasaannya.
Menerima perasaan Ubay memang adalah jalan terbain untuk membalas semua kebaikan Ubay.
Tapi apakakah ia harus memaksakan perasaannya demi balas budi? Dia tidak akan setega itu untuk menyakiti perasaan Ubay.
Lagipula sekarang perhatiannya masih terfokus kepada Ayah dan putranya. Tidak ada waktu untuk mengurusi perasaannya sendiri.
“Ngapain di pikir lagi sih, Bin? Udah terima aja”
__ADS_1
“Mas. Kamu gak takut ditangkap KPK?” Seloroh Binar tiba-tiba.
“Lah apa hubungannya?” Ubay heran.
“K.K.N.” Jawab Binar singkat.
Mendengar itu Ubay hanya tertawa terbahak-bahak saja. Tidak menduga jawaban yang akan keluar dari mulut Binar.
“Yaudah, kalau kamu gak mau dianggap KKN, kirim surat lamaran kamu secepatnya, nanti aku yang bakalan wawancara kamu.”
“Hehehehehe....”
“Malah ketawa. Serius ini.”
“Bukannya itu sama aja, ya Mas?”
“Ya enggak dong. Kan pake berkas.”
Binar hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala saja. Dia sangat memahami niat Ubay adalah untuk membantunya. Karna itu dia merasa berat untuk menerimanya.
Angin yang berhembus membuat hijab Binar yang berwarna hijau tosca bergoyang-goyang. Berkali-kali ia memegangi dan merapikan kembali hijabnya.
Ia tidak sadar kalau hal sepele seperti itu membuat Ubay terus memperhatikannya.
“Yaelah. Ribet amat” seloroh Ubay.
“Ya anginnya kenceng, gimana dong...” Bela Binar.
Kesibukan Binar terhenti saat ia mendapatkan sebuah notifikasi di ponselnya. Ada pelanggan.
“Eh, Mas. Aku pamit dulu, ya. Ada orderan nih.” Ujar Binar sambil membereskan sampah makanan mereka kemudian membuangnya ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari mereka.
“Yaudah. Hati-hati ya, Bin.”
“Iya. Makasih juga udah ditraktir makan siang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Jawab Ubay. Ia mengantarkan Binar dengan pandangannya.
Pandangan yang menunjukan betapa kokoh hatinya atas perasaannya kepada Binar. Perasaan itu sama sekali tidak memudar sedikitpun. Tetap utuh. Hanya saja, ia seperti hampir menyerah. Namun ia mencoba untuk meyakinkan dirinya kembali untuk tetap menunggu kesiapan Binar untuk menerima perasaannya.
Ubay menghela nafas dalam. Ia tersenyum kepada bayangan Binar yang sudah menjauh darinya. Memperhatikan hijab Binar yang terus bergoyang seirama dengan langkah kakinya.
Binar berlari kecil menuju ke sepeda motornya. Ia mengenakan helm sebelum melajukan motornya ke jalan raya. Menyatu dengan kendaraan lain disekitarnya.
Perutnya sudah terasa kenyang. Dan kini fikirannya jauh terasa lebih jernih. Setidaknya ituah yang dia rasakan.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1