
Setelah selesai makan malam, keluarga itu memilih untuk mengobrol diruang keluarga. Binar yang merasa dirinya adalah orang asing, memilih tidak banyak bicara. Ia membiarkan mereka lebih banyak bercengkerama dengan Chan. Ia hanya memperhatikannya saja.
“Jangan ngelamun aja.” Bisik Pamungkas yang duduk di kursi sebelah.
Binar langsung menoleh kepada Pamungkas dan mengernyit.
“Siapa yang ngelamun?”
“Lah itu. Dari tadi diem aja.”
Binar tidak menjawab. Ia kembali melihat kearah Chan yang sedang bergurau dengan kakek dan neneknya.
“Ya abis mau ngomong apa, Mas.”
“Ya ngomong apa aja.”
“Gak ada bahan.” Jawab Binar santai.
Pamungkas terkekeh mendengar jawaban Binar yang seadanya.
“Kenapa ketawa?” Tanya Binar yang merasa sedang ditertawai oleh Pamungkas.
“Kamu masih aja lucu. Gak berubah.”
Binar kembali mengernyit sambil menatap Pamungkas. Ia berfikir, bagian mana dari dirinya yang terlihat lucu bagi pria itu.
“Bosan, ya? Mau jalan-jalan kedepan gak?” Tawar Pamungkas.
“Gak lah Mas. Disini aja.” Tolak Binar. Ia tidak punya alasan untuk berdua dengan Pamungkas. Walaupun ia merasa bosan setengah mati.
Pamungkas nampak kecewa dengan penolakan itu. Ia merasa kalau Binar Masih menyimpan rasa benci kepadanya setelah kejadian yang terakhir kali.
“Kabar Pak Ustadz dan istri, sehat kan, nak Binar?” Tanya Haya. Ia merasa sudah mengabaikan Binar karna terlalu fokus dengan cucunya.
“Alhamdulillah, kabarnya baik Tante. Cuma memang Ayah yang masih belum pulih benar.” Jawab Binar.
“Lho, memangnya sakit apa?”
“Setruk ringan, tante.”
“Ya Allah, semoga segera diberi kesembuhan ya, Bin.” Timpal hendrana.
“Amiin, Oom.”
“Tante dengar, ternyata kalian udah kenal dari lama ya? Kemarin Pam cerita. Dari kuliah?” Haya melanjutkan obrolannya.
“Iya, Tante.” Binar benar-benar tidak tau harus bagaimana melanjutkan kalimatnya. Jadilah ia hanya menjawab seadanya.
“Ooooh. Tante jadi penasaran..” Pancing Haya.
__ADS_1
Binar tersenyum mendengar kalimat itu. “Gak ada yang istimewa kok, Tante.”
“Tapi kayaknya itu cuma bagi kamu, deh.” Kali ini ia melirik putranya yang sedang serius menatap Binar.
“Ha? Maksudnya, Tante?” Tanya Binar tidak mengerti.
“Hahahaha. Gak apa-apa kok. Tante cuma bercanda.”
Binar yang tidak mengerti bagian bercanda dari kalimat Haya hanya ikut tertawa sedikit dengan canggung.
“Chan, malam ini nginep disini aja, ya.” Pinta Hendrana.
“Iya, Chan. Nenek sama Kakek Masih belum puas main sama Chan.”
Chan nampak berfikir sejenak. “Boleh, Ma?”
Binar terkejut karna ia tidak menyangka kalau Chan akan menyutujui usulan itu. Padahal ia baru bertemu dengan Kakek dan Neneknya hari ini. Mereka sudah sangat dekat bahkan hanya dalam hitungan jam. Sampai Chan tidak merasa canggung dan bersedia untuk menginap dirumah itu.
“Tapi besok kan Chan harus sekolah.” Binar menerangkan.
Chan nampak kecewa. Ia mengatupkan bibirnya rapat. Ia sedang merengut.
“Kalau besok malam aja, gimana? Lusa kan hari minggu. Chan bisa main sama nenek sama kakek sepuasnya.” Usul Binar.
Mendengar itu, Chan langsung sumringah. Ia kegirangan. “Oke, Ma.”
Adzan isya telah berkumandang. Mereka semua segera pergi menuju ke mushola untuk sholat.
Sedangkan Chan, sedang diajak berkeliling oleh kakek dan neneknya. Mengenalkan setiap bagian dari rumah besar itu.
Binar menumpu kedua lengannya diatas meja. Berusaha menikmati udara semilir yang sejuk menerpa wajahnya.
Pamungkas datang dengan membawa dua gelas teh hangat kemudian menaruhnya keatas meja.
“Minumku yang tadi aja belum habis, Mas.” Ujar Binar dengan memperbaiki posisi duduknya.
“Yang tadi udah dingin. Udah gak enak lagi.” Jawab Pamungkas. Ia ikut duduk disana.
“Kamu memang tinggal disini, Mas?” Tanya Binar. Ia berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka. Mengesampingkan semua sisa-sisa rasa marah didalam hatinya. Dan berusaha untuk bersikap sewajarnya. Ia fikir sudah saatnya ia melepaskan semua itu, demi Chan.
“Enggak. Kadang-kadang aja aku kesini. Lagian dirumah sendirian bosan.”
“Ooo...”
“Gimana keadaan ubay?” Pertanyaan yang berhasil membuat Binar lumayan terkejut. Karna ia fikir mereka masih dekat selama ini.
“Mas ubay baik. Emangnya kalian gak pernah saling kasih kabar selama ini?”
Pamungkas menggeleng. “Sejak dia udah gak kerja lagi di MMC, kami udah lost contak. Aku udah gak pernah ketemu lagi sama dia.”
__ADS_1
Berarti itu sudah sekitar dua tahun yang lalu. Karna setau Binar, Ubay keluar dari rumah sakit MMC sejak ia kehilangan pekerjaan disana. Jadi ia ingat betul.
“Kenapa begitu? Memutus tali silahturahmi itu, berarti memutus rezeki lho, Mas.”
“Kalau rezeki yang kamu maksud adalah rezeki teman yang baik, iya, aku udah kehilangan itu.” Jawab Pamungkas. Ia membuang pandangannya jauh menatap pohon rambutan yang tumbuh tak jauh dari mereka.
“Himana? Mau aku kirimin salam buat Mas Ubay?” Tawar Binar dengan tulus. Ia ingin hubungan kedua pria itu kembali membaik. Karna tidak dipungkiri, ia adalah penyebab utama renggangnya hubungan mereka. Ia tahu itu. Karna itu ia jadi merasa tidak enak hati.
“Gak usah, Bin. Kapan-kapan biar aku ngomong sendiri sama dia.” Tolak Pamungkas.
“Yaudah. Terserah Mas Pam aja.”
Pamungkas menghela anfas. Ia menatap Binar dalam. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah dibuatnya.
“Kenapa lihatin aku begitu sih, Mas? Ada yang aneh ya di mukaku?”
“Hehehehe.. Enggak kok. Gak ada yang aneh. Kamu ngerasa lucu gak sih Bin? Kita selalu dipertemukan disaat-saat yang gak terduga kayak gini. Padahal kita udah menjauh satu sama lain. Eeeh malah ketemu lagi. Kali ini malah jauh dari bayangan, kalau ternyata kamu yang ngerawat anak aku.”
Sebenarnya Binar juga berfikir begitu. Bahkan di saat ia siap mengikhlaskan masa-masa sakit yang disebabkan oleh Pamungkas, pria itu selalu muncul entah dari mana.
“Gak nyangka ya Bin, karna sandal jepit.” Seloroh Pamungkas.
“Iya, Mas. Tapi, udah lama aku pengen nanyain ini sama kamu, Mas. Tapi selalu lupa.”
“Apa itu?”
“Dulu kamu bilang kalau kamu bawa sepatu cadangan di dalam plastik. Nyatanya kamu tetep nyeker sampai di cafe. Jadi itu plastik isinya apaan?”
“Jadi waktu itu kamu sadar ya kalau aku nyeker di cafe? Hahahahaha... Sebenernya didalam plastik itu isinya snelli.”
“Ya ampun. Kenapa bohong sih, Mas?”
“Yaaa... Kasihan aja lihat cewek cantik yang sepatunya ilang sebelah. Terus biar kelihatan keren, gitu.”
“Yaelah. Hahahahaha... Ada-ada aja kamu ini, Mas.” Binar ikut terkekeh setelah mengetahui alasan Pamungkas memberikan sandalnya.
“Tapi karna itu kita bisa sampai sejauh ini ya, Bin.”
Binar mengangguk. Membenarkan ucapan Pamungkas.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...