Pindah

Pindah
74


__ADS_3

Sudah berkali-kali istighfar, namun kemarahan Binar belum


juga reda. Baru setelah suaminya memdekap tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya


di dada, emosi Binar perlahan luntur.


“Sayang, istighfar...” Ujar Pamungkas lirih.


Binar berusaha keras untuk mengendalikan emosinya. Ia


menangis sejadi-jadinya di pelukan Pamungkas. Ia merasa sangat marah sekali.


Tiba-tiba pandangan Binar berubah menjadi buram. Perutnya


sakit luar biasa. Ia bahkan tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya. Binar


ambruk dengan masih di tahan oleh Pamungkas.


“Bin!” Pekik Pamungkas yang berusaha untuk menahan tubuh


istrinya agar tidak jatuh ke lantai.


“Aaahh!!!!” Binar merintih kesakitan sambil memegangi


perutnya. Rasanya sakit luar biasa.


Pamungkas segera membopong istrinya kemudian membaringkannya


ke ranjang.


Binar masih berguling-guling sambil memegangi perutnya.


Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dengan segera Pamungkas memanggil Dokter Sita


yang langsung datang setelah mendapat telfon dari Pamungkas.


Pamungkas dan Dokter Sita bekerja sama menangani Binar.


Mengesampingkan semua kesedihan dan rasa paniknya demi menyelamatkan istrinya.


Setelah di beri obat pereda rasa nyeri, perlahan rasa sakit


Binar mulai berkurang. Dan iapun mulai tertidur.


Pamungkas sedang menunggui istrinya di tepi tempat tidur. Ia


tak lepas menggenggam tangan Binar yang masih terlelap. Perasaannya hancur luar


biasa menyaksikan betapa istrinya sangat kesakitan.


“Gimana dengan pengangkatan rahim, Dokter?” Tanya Pamungkas


kepada Sita yang masih berada di sana.


“Apa Bapak udah mendiskusikan dengan Binar?”


“Dia pasti gak akan mau, Dok. Aku tau seberapa besar dia


ingin hamil.”


“Baiknya diskusikan dulu dengan Binar, Dokter Pam. Setelah


itu, aku baru bisa mengambil keputusan.”


Pamungkas berkali-kali menghela nafas. Merasakan hatinya


yang sedang hancur. Bahkan setelah kepergian Dokter Sita, air matanya malah


meleleh tanpa permisi.


“Mas?” Ujar Binar lirih. Ia baru saja bangun.


Pamungkas segera menghapus air matanya. Tapi  Binar sudah terlanjur melihat semuanya.


“Kamu udah bangun? Masih sakit?” Tanya Pamungkas. Kedua alisnya


berkerut menandakan kalau dia sangat khawatir.


Binar mengangguk. “Maaf aku buat kamu sedih.”


“Aku gak kuat, Bin. Aku gak kuat lihat kamu kesakitan kayak


tadi. Sumpah aku gak kuat.” Pamungkas kembali meneteskan airmata. Ia


mendekatkan dirinya dan menenggelamkan wajahnya di dada Binar.


“Tapi aku butuh kekuatan dari kamu, Mas.”


“Ayo kita relakan aja rahimmu. Yang penting kamu bisa


sembuh.”

__ADS_1


“Tapi nanti aku gak bisa hamil. Aku pengen hamil, Mas. Aku


pengen melahirkan kayak wanita normal di luar sana. Aku pengen sempurna sebagai


seorang wanita.”


“Kata siapa kesempurnaan itu bisa diraih dengan melahirkan.


Bagiku, kamu udah lebih dari sempurna, Bin. Gak harus melahirkan untuk jadi


sempurna. Lagian kan kita udah punya Chan. Kan Chan itu anak kita, Bin.”


“Tapi Mas....”


“Sayang. Aku gak apa-apa kalau aku gak bisa punya anak sama


kamu. Yang penting kamu sembuh, kamu bisa sehat lagi. Pliss, Bin.” Kali ini


Pamungkas memohon dengan sangat. Ia menatap dalam netra Binar untuk


menyampaikan permohonannya.


Binar memejamkan matanya untuk mencoba memahami suaminya. Ia


berusaha mengikhlaskan jika memang itu adalah jalan kesembuhannya. Walaupun


hatinya terasa sakit sekali. Tapi ia merasa lebih sakit saat melihat suaminya


meneteskan airmata untuknya.


Air mata seorang pria adalah bentuk dari sebuah ketulusan


atas perasaannya. Pamungkas sangat mencintai Binar. Dan dia tidak ingin


kehilangan wanita itu.


Merelakan rahim Binar untuk di angkat memang merupakan


pilihan yang sulit, tapi itu adalah jalan ikhtiar untuk kesembuhan Binar. Jika


ada pilihan lain, dia juga tidak mau memilih itu. Tapi ia lebih baik tidak


punya anak bersama dengan Binar dibanding harus melihat Binar kesakitan dan


bahkan sampai kehilangan dia.


“Assalamu’alaikum.” Tedengar suara Rukayah dari balik pintu.


dan Pamungkas segera menghapus air mata mereka.


Rukayah beserta Ustads Syuhada dan juga Chan masuk kedalam


ruangan. Chan segera berlari menghampiri ibunya yang duduk diatas ranjang.


“Mama!!!” Pekik anak itu . Ia langsung menghambur ke dalam


pelukan sang ibu.


Binar mendekap tubuh Chan kuat. Menumpahkan segala


kerinduannya pada putranya itu. Ia sedang berusaha untuk tidak menunjukkan


kesedihannya di hadapan Chan.


“Uuuh,, anak Mama. Mama kangen tau.” seloroh binar sambil


terus menciumi pipi putranya itu.


“Gimana kabarmu, Nduk?” Tanya Ustadz Syuhada mendekat ke


ranjang putrinya.


“Alhamdulilah, Yah.” Jawab Binar.


Pamungkas mengambilkan tempat duduk untuk kedua mertuanya.


Kemudian mengajak Chan untuk keluar. Ia tahu kalau Binar sedang ingin berbicara


dengan orang tuanya.


“Chan, ayo kita beli makanan di luar.” Ajak Pamungkas lagi.


Awalnya Chan tidak mau. Tapi setelah mendapat bujukan dari


Pamungkas dengan iming-iming akan di belikan mainan, akhirnya Chan mau juga di


gendong oleh Pamungkas.


Binar hanya bisa memandangi punggung Pamungkas dan Chan yang


sudah menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


Ia menundukkan wajahnya dalam. Dan akhirnya tidak bisa juga


untuk menahan kesedihannya. Perlahan air matanya mulai menets. Dan bahkan semakin


deras.


“Bukk..... Hu,, hu,, hu,,” Binar tidak bisa lagi menahan


tangisnya.


Rukayah langsung memeluk tubuh putrinya itu. Mengusap pundak


Binar untuk menenangkannya. Padahal dia sendiri juga sedang merasa hancur


menyaksikan cobaan demi cobaan yang menghampiri putrinya seloah enggan untuk


berhenti.


“Sabar, Nduk.” Ustadz Syuhada ikut mengusap punggung Binar.


Sakit juga hatinya melihat tangis Binar yang terdengar sangat pilu menyayat


hati.


Kepada kedua orang tuanya, Binar mampu menumpahkan segala


kesedihan dan ketakutannya tanpa harus merasa terbebani. Ia terus meraung tanpa


henti. Bahkan ke dua orangtuanya sampai ikut menangis.


Pilu sekali rasanya.


“Kenapa, Yah, kenapa cobaan ini kok gak berhenti datang? Apa


Binar kurang bertakwa? Apa Allah sedang cemburu karna Binar punya cinta yang


lain untuk suami Binar?”


“Bin,, istighfar Nduk. Jangan berprasangka buruk. Sakit adalah


salah satu penggugur dosa. Ikhlas menghadapinya ya, Nduk. Tunjukkan sama Allah kalau


kamu itu kuat. Buat Allah bangga sampai dia menaikkan derajat keimananmu.”


Ustadz Syuhada mencoba menenangkan putrinya. Walau hatinya sendiri terasa


seprti di iris.


“Ibuk yakin Allah kasih kamu cobaan ini, karna Allah sayang


sama kamu, Nduk. Sabar.... Semoga Allah kasih jalan kesembuhan buat kamu.”


Binar tak kunjung bisa menghentikan kesedihannya di pelukan


sang ibu. Yang ada ia malah menangis sejadi-jadinya sampai sesenggukan dan


nafasnya tercekat.


Lama sekali Binar menumpahkan kesedihannya. Ia seolah tak


ingin melepaskan pelukannya. Ia ingin berlindung kepada sang ibu dan meminta


seluruh kekuatan dari ibunya.


Jujur, saat ini rasa takut Binar bahkan tidak bisa


diungkapkan dengan kata-kata. Perlahan rasa putus asa itu menghampiri benaknya.


Mencoba mengambil alih seluruh kekuatannya. Mencoba mengalahkan rasa optimis


tentang kesembuhan dari penyakit yang sedang dia derita. Menghancurkan seluruh


kepercayaan dirinya begitu saja. Sehingga menyisakan rasa sedih, rasa takut,


dan putus asa yang begitu besar.


Binar sedang butuh kekuatan. Dan hal itu hanya bisa dia


dapatkan dari keluarganya dan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.






*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2