Pindah

Pindah
53


__ADS_3

“Jangan terlalu berharap, Pam. Sepertinya kesempatannya kecil.” Ujar Haya saat mereka masih berada didalam mobil.


“Bukan gitu. Berharap terus. Banyak berdoa dan berharap sama Allah untuk melembutkan hati Binar supaya dia nerima kamu.” Timpal Hendrana.


“Ya tapi kan kalau berharap terlalu besar nanti kecewanya juga besar, Pa”


“Gak apa kecewa. Itu udah resiko. Kalau kamu memang serius dengan keputusanmu, berharap yang besar. Jangan percaya kata-kata konyol yang bilang, kalau cinta ya harus ikhlas dilepaskan. Cinta gak harus memiliki. Gak, Papa gak ingin kamu begitu. Papa ingin kamu memperjuangkan cintamu. Kalau cinta ya diusahakan harus dimiliki bagaimanapun caranya. Tentu saja dengan tetap ikhtiar dijalan yang Allah ridhoi.” Tutur Hendrana lagi.


Pamungkas yang sedang mengemudikan mobil serius mendengarkan wejangan dari Papanya.


“Tapi udah terlalu banyak kesalahan yang aku lakuin, Pa. Kayaknya bener kata Mama. Kalau kesempatanku tipis.”


“Jangan lembek begitu dong. Masak anak seorang Hendrana kalah dalam masalah percintaan. Terus berusaha. Kalau salah ya minta maaf, sampai dia dan keluarganya maafin kamu. Itu baru gentle.”


Pamungkas jadi tertawa mendengar kalimat penyemangat dari Papanya. Sedangkan Haya, nampak tidak percara kalau kalimat bijak itu keluar dari mulut suaminya.


“Waaahhh,, Mama jadi yakin, kalau bergaul dengan orang-orang sholeh itu akan berdampak baik pada kita. Papamu udah membuktikannya. Baru berapa jam ngobrol sama ustadz Syuhada, dia jadi bijak begini.” Seloroh Haya. Membuat mereka semua tertawa.


“Iya, bener Ma.”


Pamungkas mengantarkan kedua orangtuanya pulang kerumah. Sementara itu dia kembali pergi menuju kesebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu. Ia ingin membeli perlengkapan sekolah untuk Chan. Beberapa baju, dan mainan juga. Padahal dia berencana untuk mengajak serta Chan, tapi anak itu malah menangis dan minta pulang.


Sudah hampir semua barang yang ingin ia beli berada didalam genggamannya. Hanya tinggal mencari beberapa baju dan celana lagi untuk Chan. Terlepas dari masalahnya dengan Binar, ia ingin membelikan yang terbaik untuk putranya itu. Ia tidak peduli dengan harganya.


Setelah beberapa jam berkeliling, Pamungkas merasa lelah, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam cafe yang ada di sana. Ia sedang memesan es capucino saat pandangannya bertemu dengan netra milik Ubay yang juga sedang menyeruput minumannya disalah satu meja, tanpa basa-basi, Pamungkas langsung mengambil duduk dihadapan Ubay.


Untuk sementara, suasananya sedikit cangggung. Mengingat mereka sudah lama tidak bertemu apalagi mengobrol. Masing-masing mereka celingukan, tidak tau harus bersikap bagaimana.


“Gimana kabar lo?” Pamungkas yang terlebih dulu membuka percakapan.


Ubay yang tadinya mengalihkan pandangannya, kini beralih menatap Pamungkas. Ia mnegangguk kemudian berkata, “ Ya, gini-gini aja. Lo gimana?”


Pembiacaraan diantara mereka sangat canggung dan terkesan aneh untuk dua sahabat yang baru bertemu setelah sekian lama.


“Bogeman lo masih kerasa.” Ujar Pamungkas menunjuk ke tulang pipinya.


“Bagus deh. Sukur-sukur sakitnya gak akan pernah hilang. Selamanya.” Seloroh Ubay.


“Sialan,” hardik Pamungkas.


Hahahahahahahahaha...

__ADS_1


Tapi kemudian keduanya malah tertawa terbahak-bahak.


Pesanan Pamungkas datang. Seorang waiters mangantarkannya dan meletakkannya di meja.


“Ngapain lo sendirian? Belanja apaan sebanyak itu?” Selidik Ubay lagi.


“Barang-barang keperluan Chan.” Jawab Pamungkas. Ia hampir lupa kalau Ubay tidak tau tentang hubungannya dengan Chan.


Padahal Ubay sudah tau karna Rukayah memberitahunya waktu itu. Itulah kenapa dia merasa semakin tidak punya tempat di masa depan Binar dan Chan. Itulah alasannya dia berusaha untuk mengikhlaskan perasaannya kepada Binar.


“Oh.” Ubay mengangguk-anggukan kepalanya.


“Udah tau? Kok gak kaget?” Tanya Pamungkas.


“Udah tau lama. Ibuk Binar langsung yang kasih tau gue.”


“Oh.” Kali ini Pamungkas yang sedikit terkejut.


“Kayaknya kebahagiaan lo udah didepan mata. Lo udah nemuin anak lo, plus Mamanya sekalian. Siapa yang bakalan nyangka kalau ternyata takdir mengikat kalian begitu kuat?” Ujar Ubay. Ada nada kesedihan yang berusaha dia sembunyikan sebisa mungkin.


“Gue juga gak nyangka. Sama sekali. Kejutan waktu itu luar biasa ternyata.”


“Jaga baik-baik mereka. Walaupun gue udah ngelepasin Binar, tapi gue bakalan maju lebih dulu kalau lo nyakitin dia lagi. Mungkin kali ini bukan hanya bogem gue yang melayang. Nyawa lo juga bisa melayang.”


“Gue ngelamar Binar.” Ujar Pamungkas dengan wajah yang merona.


“Hah? Kapan?” Tanya Ubay. Ada rasa nyeri dihatinya saat mendengar itu.


“Tadi pagi. Gue ke rumahnya. Semalam Chan nginep sama gue, jadi tadi anterin dia pulang.”


“Terus? Dia nerima lo gitu?” Pertanyaan Ubay lebih kepada ‘meremehkan’ Pamungkas.


Pamungkas menggeleng. “Dia minta waktu tiga hari.”


“Semoga Binar gak nerima lo.” Kalimat Ubay sontak membuat Pamungkas terbelalak.


“Kenapa begitu?”


“Lo udah lupa berapa kali lo buat dia nangis? Yakin bisa bahagiain dia?”


“Tapi sekarang keadaannya udah beda.”

__ADS_1


“Kenapa? Lo merasa percaya diri karna lo bokapnya Chan? Lo tau itu sama sekali gak berpengaruh terhadap perasaannya.”


“Tapi gue gak akan menyerah disini. Gue tau gue salah. Karna itu gue berusaha buat memperbaiki kesalahan gue. Gue yakin bisa bahagiain dia. Akan gue lakukan apapun buat kebahagiaan dia.” Jawab Pamungkas mantab. Dia sangat yakin dengan dirinya sendiri.


“Iya, kalau dia nerima lo...”


Jreng.


Pamungkas langsung terdiam. Dia baru sadar kalau itu masih berupa angan-angannya saja.


Melihat perubahan air muka Pamungkas, Ubay tidak bisa menahan tawanya. Ia langsung terbahak tanpa peduli dengan beberapa orang yang melirik kearahnya. Padahal didalam hati, perihnya minta ampun.


Ubay memang paling pandai kalau urusan menyembunyikan rasa sakit. Tapi ia tidak bisa menahan diri saat orang-orang yang disayanginya disakiti. Dia akan membalasnya, tidak peduli siapapun itu.


“Jadi Chan udah tau dan nerima lo sebagai bokap kandungnya?”


“Entah. Dia memang manggi gue ‘Papa’, tapi entah apa dia ngerti artinya apa enggak.”


“Nanti pelan-pelan dia pasti ngerti. Chan itu anaknya cerdas. Kalau dia ngerasa gak nyaman sama lo, dia pasti gak mau nginep sama lo.”


“Iya, tapinya dia nangis terus. Pertamanya doang yang seneng.”


“Tapi dia gak marah-marah, kan?”


“Enggak, sih.”


“Itu tandanya dia nyaman sama lo. Nah kalo sama gue, tuh anak ngajak adu muluttt mulu. Boro-boro mau gue ajak pergi sama gue. Yang ada ribut. Tapi aslinya dia itu penyayang dan peduli.”


Pamungkas tertawa lepas seolah puas dengan perlakuan Chan kepada Ubay. Dia sedikit bangga karna ada sedikit sifatnya yang mengalir dalam tubuh anak itu.


“Tapi ngomong-ngomong, lo ngapain disini sendiri?” Tanya Pamungkas.


“Siapa bilang gue sendiri? Gue lagi nganterin Yeva, anak asisten dirumah gue, nyari buku noh di toko buku.” Ujar Ubay menunjuk kearah toko buku dengan dagunya.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2