
Hari yang dijanjikan oleh Binar telah tiba. Sekarang Pamungkas sedang bersiap-siap untuk pergi kerumah keluarga Binar. Hatinya dipenuhi oleh perasaan was-was. Bahkan ia jadi tidak berselera sarapan karna terlalu memikirkannya.
“Dimakan sarapanmu, Pam. Nanti pingsan disana.” Seloroh Haya kepada putranya sambil tersenyum mengejek.
“Kenapa? Gugup?” Tanya Hendrana.
“Iya, Pa. Rasanya itu, deg-degan banget.” Jawab Pamungkas.
“Kayak orang yang baru pertama mau nikah aja kamu, Pam.”
Ya. Ini bukanlah kali pertama baginya melamar seorang gadis. Tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya.
Sebelumnya, ia menikahi Reanty karna dipaksa oleh tanggung jawab. Tapi kali ini, ia memiliki perasaan yang tulus kepada Binar. Perasaan yang diam-diam masih ia pelihara di dalam hati kecilnya. Dan betapa baiknya takdir yang selalu mempertemukan mereka.
Sebelum berangkat, Pamungkas mempersiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk akan adanya penolakan. Biar bagaimanapun, ia sadar kalau kemungkinan di terima sangatlah kecil. Tapi ia sudah tidak bisa mundur lagi.
Kata lamaran itu sudah terlanjur meluncur dari mulutnya. Siap tidak siap, dia harus mendengar jawaban dari Binar. Sepertinya, dia tidak boleh berharap terlalu tinggi.
Hendrana dan Haya ikut mengantarkan Pamungkas. Mereka juga merasa tegang. Seolah ini adalah pertama kalinya mereka mengantarkan putra mereka untuk meminang seorang gadis.
“Mama tegang.” Ujar Haya sambil menggenggam tangan suaminya.
Pamungkas yang duduk di samping supir menoleh kebelakang dan tertawa melihat wajah ibunya yang memerah.
“Yang ngelamar Pamungkas, kenapa Mama yang tegang?” Tanya Hendrana.
“Entah lah Pa. Rasanya tegang aja, gitu.”
“Doa yang terbaik buat anak kita, Ma.”
Setelah lebih dari satu jam perjalanan, kini mobil sudah membawa mereka memasuki area perumahan sederhana. Sopir keluarga Pamungkas memarkirkan mobil tepat di depan rumah Binar yang terlihat sunyi.
Sebelum turun dari mobil, Pamungkas menarik nafas dalam. Dia benar-benar gugup. Berkali-kali berusaha membetulkan kerah kemeja yang ia kenakan, padahal sudah rapi.
“Assalamu’alaikum!” Sapanya dari depan pagar yang masih tertutup.
“Wa’alikum salam.” Jawab Binar yang keluar dari dalam rumah dan berjalan untuk membukakan pintu gerbang. “Silahkan masuk Mas, Om, Tante.”
Melihat sosok gadis yang dalam balutan hijab berwarna merah maroon itu berjalan dihadapannya, detak jantung Pamungkas sudah tidak bisa diajak kompromi. Untuk sesaat, ia bisa merasakan kalau pandangannya menjadi sedikit kabur.
__ADS_1
Ah, mungkin karna tadi ia tidak sarapan.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Pamungkas sekali lagi sebelum memasuki rumah.
“Wa’alaikum salam. Selamat datang, Nak Pamungkas, Pak Hendrana, dan Bu Haya.” Jawab Ustadz Syuhada yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Apa kabar, Pak Ustadz?” Tanya Hendrana sambil menyalami Ustadz Syuhada.
“Alhamdulillah, kabar kami baik. Ayo, silahkan duduk.” Sambut Ustadz Syuhada dengan ramah.
Mendengar suara tamu, Rukayah yang sedang berada didalam kamar langsung keluar dan ikut menyambut mereka. Kedua matanya nampak sembab walaupun ia berusaha tersenyum ramah kepada tamunya.
Melihat mata sembab milik Rukayah, Haya jadi semakin tidak enak hati. Menerka-nerka apa yang sudah terjadi kepada mereka.
“Selamat datang, Bu Haya.” Rukayah langsung menyalami Haya.
Semua orang sudah duduk. Binar muncul dari dalam dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan beberapa piring bakwan jagung. Kemudian dia mengedarkannya diatas meja, dihadapan masing-masing orang.
Setelahnya, ia ikut duduk disamping ibunya. Raut wajahnya nampak tenang. Sehingga sulit bagi Pamungkas untuk menebak jawaban gadis itu.
“Terimakasih sudah bersedia datang lagi kemari, Pak Hendrana dan keluarga.” Ustadz Syuhada memulai pembicaraan menuju keseriusan.
“Sama-sama, Pak Ustadz. Kedatangan kami kali ini adalah untuk mendengar jawaban atas lamaran putra kami kepada nak Binar tempo hari.” Ujar Hendrana.
Ustadz syuhada bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Pamungkas sudah menatapnya dengan raut wajah kekecewaan.
“Saya tidak bisa memutuskan. Karna semua keputusan ada di tangan putri kami.”
Pamungkas menghela nafas perlahan. Berusaha menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi berdetak diluar batas normal. Ia mengalihkan pandangannya dari Ustadz Syuhada ke pada Binar. Sungguh, harapannya sangat besar untuk diterima.
“Sebenarnya, Ibuk kurang setuju.” Ucapan Rukayah mengejutkan semua orang. Perlahan airmatanya mulai mengalir.
Terlebih Pamungkas dan kedua orang tuanya. Jantungnya kembali berdetak kencang.
“Mengingat apa yang sudah putri kami alami karna nak Pamungkas, Ibuk merasa berat hati. Binar udah terlalu banyak menangis karna nak Pamungkas. Dia udah kehilangan pekerjaan yang sangat disukainya. Dan yang lebih sakitnya lagi, putri kami ini, udah jadi bahan gunjingan semua orang. Dan sekarang semua orang memandang rendah dia. Ibuk gak tega kalau harus melepaskan putri Ibuk buat Nak Pamungkas.”
Ada rasa sakit di hati Pamungkas mendengar penuturan Rukayah. Ia menundukkan wajahnya dalam. Tidak bisa menyangkal kebenaran itu. Begitu juga dengan Hendrana dan Haya. Hati mereka seolah teriris. Apalagi saat mendengar isak tangis Rukayah. Isak tangis hati seorang ibu yang sangat menginginkan kebahagiaan untuk putrinya.
“Tapi, Ibuk juga gak bisa menghalangi keputusan Binar. Karna ibuk yakin, apapun keputusan Binar nantinya, itu adalah yang terbaik untuk dirinya.” Rukayah mengakhiri kalimatnya dengan menyeka air mata dengan ujung hijab yang dia kenakan.
__ADS_1
Kesedihan yang dirasakan Rukayah ternyata bisa juga dirasakan oleh Haya. Sebagai sesama seorang ibu, Haya bisa memahami bagaimana perasaan Rukayah.
“Nduk...” Ustadz Syuhada mempersilahkan Binar untuk mengatakan jawabannya.
Binar menarik nafas dalam, kemudian mengangkat wajahnya untuk menatap Pamungkas.
“Sebelumnya aku mau tanya sama kamu, Mas. Apa kamu siap menikahiku sekarang juga?”
Pamungkas yang terkejut dengan pertanyaan itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Binar. Mencoba menangkap maksud dari pertanyaan itu.
“Maksudanya, Bin?” Tanyanya lirih.
“Kalau aku menerima lamaranmu, apa kamu siap nikahin Aku sekarang juga?”
Seketika otak Pamungkas berhenti bekerja. Ia menatap kedua bola mata Binar bergantian. Ia Bingung dengan pertanyaan itu.
Bukankah menikah memerlukan persiapan yang cukup banyak? Seperti mahar dan wali? Juga saksi?
Kenapa Binar mempertanyakan kesiapannya?
“Mas?” Suara Binar menyadarkan Pamungkas.
Perlahan, kepala Pamungkas mengangguk. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari Binar. Sedangkan semua orang yang ada di ruangan itu menatapnya. Menunggu jawabannya.
“Iya, aku siap.” Entah dari mana datangnya keyakinan itu sehingga ia mantap menjawabnya.
“Kalau begitu, Binar meminta restu dari Ayah dan Ibuk untuk menerima lamaran Mas Pamungkas.” Ujar Binar menatap Ayah dan Ibunya.
Ustadz Syuhada mengangguk sambil tersenyum. Begitu juga dengan Rukayah. Ia langsung memeluk putrinya itu erat. Perasaan tidak rela itu telah dikalahkan oleh seutas senyuman yang muncul di bibir putrinya.
Sedangkan Pamungkas, masih ternganga dan mencoba mencerna kalimat yang baru saja dikatakan oleh Binar. Ia takut menjadi salah dengar.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...