
“Mas Ubay, ada apa ini Mas? Kenapa fotoku bisa ada di tv? Kenapa mereka membawa-bawa namaku?” Binar memberondong Ubay dengan
“Ya, Yul?” Sapanya.
“ rapat-rapat kabar ini. Tapi entah gimana kok media bisa tau. Tapi Ibuk sama Binar tenang dulu ya. Insha Allah akan ada jalan keluarnya nanti. Pamungkas juga gak akan tinggal diam.”
Mendengar kalimat itu, Binar turut mengaminkan dalam hati.
*****
Pamungkas menghempaskan tubuhnya disofa ruang kerjanya.
Ia menggaruk kepalanya yang entah kenapa tiba-tiba terasa gatal. Kemudian meraih ponselnya dari atas meja dan menghubungi Reanty.
Satu kali panggilan, namun mantan istrinya itu tidak mengangkat ponselnya.
Dua kali, tiga kali, bahkan sampai enam kali Pamungkas berusaha menghubungi Reanty, namun wanita itu tetap tidak mengangkat ponselnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon Lutfi, asisten Reanty.
“Halo?” Sapa Lutfi dari sebrang.
“Fi, ini aku, Pamungkas.”
__ADS_1
Lutfi yang awalnya tidak tau kalau itu nomor Pamungkas, karna tidak tersimpan di ponselnya. “Oh, iya, Mas Pam. Ada apa?”
“Apa Rea ada disana?” Tanya Pamungkas langsung. “Soalnya aku hubungi ke nomornya tapi gak diangkat.”
“Mbak Rea lagi syuting, Mas. Nanti kalau udah selesai aku kasih tau. Bentar lagi selesai kok.”
“Oke. Makasih ya Fi.”
Pamungkas menutup ponselnya. Ia melihat kearah pintu saat Fauzan masuk dengan tergesa-gesa dan menghampirinya.
“Pak, anda disuruh ke kantor pusat sekarang. Piminan mencari anda.” Jelas Fauzan.
Hufh.
Pamungkas menghela nafas panjang. Ia seperti tau masalah apa yang akan datang padanya.
*****
“Itukan. Dari awal Ibuk udah kurang setuju kamu nikah sama Binar. Walaupun didepan dia itu orang yang baik, tapi dia itu ibu tunggal. Pasti ada masa lalunya yang kurang baik. Dan sekarang Allah tunjukkan semua itu.” Gumam Diyah lrih.
Nazril menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.
“Buk. Jangan suudzon begitu. Insha Allah Binar itu orang yang baik Buk.” Nazril tidak terima jika ibunya menuduh Binar seburuk itu.
__ADS_1
“Tapi ya itu, lihat. Wartawan itu kalau gak tau faktanya, gak tau kenyataannya, mana mungkin diberitakan. Pasti mereka itu udah cek kebenarannya dulu, baru berani diberitakan.”
“Udah lah Buk. Jangan percaya berita. Kita belum dengar dari Binarnya langsung. Bisa aja itu fitnah Buk.” Nazil masih berusaha meyakinkan ibunya. “Lagian ibunya Binar itu kan sahabat Ibuk, apa Ibu lebih percaya sama kata berita di tv, yang baru sekali didengar? Ketimbang percaya sama Binar dan kelaurganya yang udah kita kenal dari dulu?”
Diyah menghela nafas sambil membuang pandangannya keluar jendela. Baik Nazril maupun Diyah, tidak peduli kalau pasien lain dan keluarganya mendengar perdebatan kecil itu.
Kebaikan Binar memang sudah tidak diragukan lagi dimata Diyah. Gadis itu memang orang yang baik. Tapi tetap saja ia terganggu dengan pemberitaan itu. Apalagi selama ini ia juga masih belum mendapatkan cerita lengkap tentang Chan dan ayah anak itu.
Karna kalau ia bertanya dengan Rukayah mengenai asal usul Chan, Rukayah selalu mengalihkan pebicaraan dan tidak mau memberitahu.
Apalagi kalau bukan hal bururk, makanya tidak memberitahu? Kalau itu hal baik, kenapa tidak diceritakan saja selengkapnya. Agar tidak ada orang yang salah faham.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
terimakasih...