Pindah

Pindah
61


__ADS_3

Chan terus bergelayut di pangkuan Pamungkas. Sepertinya dia Masih merasa mengantuk.


Bahkan saat mereka sudah selesai makan malam dan Pamungkas mengajak Chan untuk melihat kamar barunya, Chan Masih nampak enggan. Dia meletakkan kepalanya di pundak Pamungkas sambil memeluk leher pria itu.


Binar mengikuti keduanya dibelakang. Kamar baru yang akan ditempati oleh Chan juga berada di lantai dua. Tepat di seberang kamar Pamungkas.


“Chan, ini kamarmu. Chan udah berani belum tidur sendiri?” Tanya Pamungkas sambil menurunkan anak itu dari gendongannya.


Ia membuka pintu kamar itu kemudian mengajak Chan dan Binar masuk kedalamnya.


Kamar itu cukup luas, tapi masih kosong. Hanya ada beberapa kardus sebagai tempat buku-buku bekas milik Pamungkas.


“Besok, kita beli isinya.”


“Emangnya Chan udah berani?” Tanya Binar kepada Chan yang sedang memperhatikan calon kamarnya.


“Ya berani dong. Kan Chan udah besar. Udah SD. Tapi kalau Chan tidur sendiri, terus Mama tidur dimana?”


“Mama tidurnya nemenin Papa dong. Sekarang giliran Papa yang harus ditemenin sama Mama.” Seoroh Pamungkas.


Binar menyenggol lengan suaminya untuk memperingatkan. Tapi Pamungkas hanya nyengir saja.


“Kan Papa bukan anak kecil. Malah lebih besar dari Chan. Masak gak berani tidur sendiri?” Tanya Chan lagi. Ia menatap tajam kepada Pamungkas seolah tidak rela jika ibunya itu menemani Pamungkas.


“Kalau gitu mawma temenin Chan aja.” Imbuhnya dengan nada sinis.


“Ya ampun. Masalah tidur aja kok jadi rebutan gitu sih?” Dengus Binar.


“Hehehe,, yaudah, yuk. Kita kebawah lagi.” Ajak Pamungkas.


“Ma, aku ngantuk.” Adu Chan. Dia mengusap-usap matanya.


“Bentar ya, Mas. Aku nidurin Chan sebentar. Abis itu aku kebawah.”


Pamungkas menyetujui permintaan Binar. Ia membiarkan Binar menidurkan Chan kemudian ia melanjutkan turun kebawah.


Tidak butuh waktu lama bagi Binar untuk menidurkan Chan. Sepertinya anak itu benar-benar lelah.


Setelah menidurkan Chan, Binar keluar dari kamar dan menyusul Pamungkas ke bawah. Dia mencari Pamungkas di ruang tamu, tapi tidak menemukan pria itu disana.


Kemudian ia berjalan ke dapur dan hanya mendapati Mbok Sami yang baru selesai membereskan dapur.


“Kenapa, Non?” Tanya Mbok Sami.


“Ehm, lihat Mas Pam gak Mbok?”


“Tadi sih kayaknya Masuk ke ruang kerja, Non.”


“Yang mana ruang kerjanya?” Tanya Binar.


“Yang itu.” Mbok Sami menunjukkan ruang kerja Pamungkas.

__ADS_1


“Oh, makasih, Mbok. Itu buat siapa, Mbok?” Binar bertanya tentang kopi yang sedang dibuatkan oleh Mbok Sami.


“Buat Den Pam, Non. Non Binar mau sekalian dibuatkan minuman?” Tawar Mbok Sami.


“Gak usah Mbok. Biar saya aja yang bawakan buat Mas Pam ya, Mbok.”


“Iya, boleh, boleh.”


Mbok Sami selesai menyeduhkan kopi untuk Pamungkas. Ia memberikan gelas itu kepada Binar yang langsung membawa kopi itu keruangan kerja Pamungkas.


Tok,, tok,, tok,, Binar mengetuk ruangan itu.


“Masuk.” Jawab Pamungkas dari dalam.


Binar membuka pintu secara perlahan. Dia melihat Pamungkas yang sedang fokus didepan layar laptopnya sambil duduk santai di sofa.


“Kopinya, Mas.” Binar meletakkan kopi itu di atas meja.


“Makasih, sayang.” Ujar Pamungkas tanpa memalingkan wajahnya dari laptop.


“Sibuk ya?” Binar mengambil duduk di depan suaminya.


“Sedikit. Sebentar, ya. Bentar lagi selesai kok.” Jawab Pamungkas dengan masih serius menatap laptopnya dan mengetikkan sesuatu.


Binar merasa tidak dianggap. Dia memanyunkan bibirnya sambil menatap malas kepada Pamungkas. Lantas ia memilih untuk bangkit dan berkeliling di ruangan itu. Memperhatikan setiap benda dan lukisan yang tergantung disana.


Pamungkas yang tidak lagi mendengar tanggapan dari Binar menoleh. Dan ternyata istrinya itu sudah tidak duduk didepannya lagi. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Binar sedang asyik menatapi sebuah lukisan senja yang menempel disalah satu sisi dinding. Entah kenapa dia merasa tertarik dengan lukisan itu.


Lagi-lagi, Pamungkas tiba-tiba memeluknya dari belakang. Untung saja kali ini Binar sigap mengendalikan perasaan terkejutnya. Dan malah membiarkan Pamungkas terus bergelayut di pundaknya. Karna ini sudah yang kedua kalinya, jadi Binar sudah agak terbiasa.


“Cantik banget lukisannya.”


“Emang kamu tau tentang lukisan?”


Binar menggeleng. “Enggak. Tapi aku ngerasa pasti ini lukisan harganya mahal banget.”


Pamungkas tersenyum sambil manggut-manggut. “Memang ya, bener kata orang-orang. Insting seorang istri itu bener-bener tajam. Tau aja tempatnya.” Seloroh Pamungkas.


Binar tidak mengerti maksud pembicaraan Pamungkas. Ia menatap aneh kepada pria itu. Menuntut jawaban.


Mendapat tatapan tajam, Pamungkas hanya terkekeh saja. Kemudian iapun melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati lukisan itu.


Ia menggeser lukisan itu. Dan apa yang ada dibelakang lukisan itu membuat Binar tercengang bukan main. Sebuah brangkas.


Pamungkas membuka brangkas yang ada di balik lukisan itu kemudian memperlihatkan isinya. Dan Binar dibuat semakin tercengang saja. Ada beberapa batang emas didalamnya.


“Apa ini Mas?” Tanya Binar yang masih terkejut.


“Investasi masa depan. Buat Chan, dan juga kamu.” Jelas Pamungkas. Ia kembali memeluk istrinya itu.


Ya, seharusnya Binar tidak perlu heran kalau suaminya itu mempunyai sebuah brangkas yang berisi emas. Kalau mengingat latar belakang pria itu, semua itu adalah wajar-wajar saja baginya.

__ADS_1


“Udah, buruan ditutup Mas.”


“Kenapa?”


“Silau.” Jawab Binar sambil terkekeh. Kemudian dia berjalan kembali ke sofa.


Binar merebahkan dirinya di atas sofa yang sangat nyaman itu. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya.


Untuk sesaat ia masih tidak bisa mempercayai kalau sekarang dirinya merupakan seorang istri. Terlebih istri dari Pamungkas. Pria yang sudah berkali-kali menorehkan luka di hatinya tanpa kata. Pria yang sudah mengajarkannya untuk tidak berharap lebih selain kepada Sang Pencipta. Terutama masalah jodoh dan cinta.


Cup.


Sebuah kecupan hangat berhasil mendarat dengan mulus di kening Binar. Membuatnya langsung membuka mata lebar-lebar dan mendapati wajah Pamungkas tepat didepan wajahnya. Pria itu menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya di sofa.


Degup jantungnya kembali tidak bisa dikondisikan. Berdetak sangat cepat tanpa seijinnya. Terlebih saat pandangan matanya bertemu dengan mata Pamungkas.


Dengan posisi mereka yang sedekat itu, mampu membuat dunia Binar berhenti berputar untuk sesaat. Apalagi saat Pamungkas perlahan semakin mendekatkan wajahnya, sehingga deru nafas pria itu sampai berhembus di wajahnya.


“Bin?” Tanya Pamungkas.


“Hm?” Jawab Binar yang masih belum mampu menggerakkan tubuhnya. Ia terus menatap dua bola mata Pamungkas bergantian.


“Nafas.”


“Ha?”


“Nafas. Lama-lama kamu bisa pingsan.” Ujar Pamungkas lagi.


Barulah setelah mendapat pemberitahuan dari Pamungkas, Binar bisa bernafas dengan normal kembali. Karna sebelumnya dia sempat menahan nafas seiring dengan tubuhnya yang membeku.


“Hahahaha.” Pamungkas tidak bisa menahan tawanya. Ia menarik diri dari Binar kemudian duduk disamping istrinya itu.


Wajah Binar sudah merona sejak tadi. Ia hanya bisa menundukkan wajah demi menyembunyikannya.


“Gak usah takut gitu dong. Kita lakukan dengan perlahan. Dari mulai yang kecil-kecil dulu. Kayak gini.”


Cup.


Kali ini kecupan itu mendarat di pipi Binar. Menambah warna merona disana.


Kalau dibiarkan begini terus, bisa-bisa Binar mendapat serangan jantung.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2