Pindah

Pindah
64


__ADS_3

Reanty sedang serius menatapi anak-anak yang sedang bermain di taman bermain yang ada di sebuah cafe keluarga. Sesekali ia nampak tersenyum dan tertawa melihat tingkah lucu seorang anak laki-laki yang sedang bermain prosotan bola.


“Tante, kapan kita pulang?” Tanya Chan kepadanya.


Reanty tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengelus pipi mungil yang lembut milik Chan. “Tunggu sebentar lagi, ya. Puasin aja dulu mainnya. Bentar lagi tante antar Chan pulang.”


“Pulang sekarang aja, yuk. Nanti Mama nyariin.” Pinta Chan kemudian.


“Tapi Tante belum puas main sama Chan. Tante masih kangen lho sama Chan.”


Mendapat penolakan halus itu, mata Chan jadi berkaca-kaca. Membuat Reanty terkejut dan menjadi tidak tega.


“Ya udah, ayo, Tante antar Chan pulang sekarang. Tapi besok-besok, Tante masih boleh kan nemuin Chan disekolah?”


Chan mengangguk. Dia tidak jadi menangis.


Ternyata, sejak Reanty menemukan Chan, ia kerap datang ke sekolah untuk menemui anak itu. Dia diam-diam selalu memperhatikan anak yang sudah tega ia buang itu. Seolah ingin menebus semua kesalahannya dulu.


Reanty membuat Chan berjanji agar tidak memberitahukan perihal dirinya kepada Binar dan keluarganya, juga kepada Pamungkas. Hal itu membuatnya lebih leluasa untuk menemui Chan kapanpun ia ada kesempatan.


Reanty mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Ia masih ingin bersama dengan Chan lebih lama lagi.


Tapi selambat apapun dia melajukan mobilnya, tetap saja sampai di rumah Binar.


Reanty menghembuskan nafas dalam saat ia menghentikan mobilnya tepat didepan masjid. Dia mengernyitkan keningnya saat melihat ada mobil milik Pamungkas yang terparkir didepan rumah Binar. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Takut ketahuan.


“Tante gak turun?” Tanya Chan yang sudah membuka pintu mobil dan hendak turun.


Reanty menatap Chan sebentar. Ia nampak berfikir. Ingin ia menemui Binar dan keluarganya. Tapi ia tidak akan berani jika ada Pamungkas disana.


“Lain kali aja, ya Chan. Tante masih banyak kerjaan.” Reanty beralasan.


“Tapi kan tadi Tante janji mau ketemu sama Mama sama Uty.”


“Besok aja. Sekarang tante harus pulang.”


Chan merengutkan bibirnya. “Ya udah. Makasih banyak ya Tante udah dianterin pulang.”


“Sama-sama. Besok Tante kesekolah lagi ya?”


Chan mengangguk setuju. Kemudian ia menutup pintu mobil dan berlari menuju kerumah.


“Chan!!” Pekik Pamungkas saat ia melihat Chan yang sedang berlari.

__ADS_1


“Papa!”


Pamungkas juga langsung berlari untuk menjemput anak itu. Kemudian ia mendekap erat tubuh putranya dengan perasaan lega.


“Chan?” Ujar Binar yang baru saja keluar dari rumah bersama dengan ibunya karna mendengar teriakan Pamungkas. Iapun langsung memeluk Chan sambil terisak.


“Mama kok nangis?” Tanya Chan kebingungan.


Binar merenggangkan pelukannya. Menatap dalam wajah putranya itu. Meneliti setiap bagian kalau-kalau ada yang terluka.


“Kamu gak apa-apa?” Tanya Binar panik sambil membolak balikkan tubuh Chan.


“Aku gak apa-apa, Ma.”


“Kamu darimana aja? Siapa yang jemput kamu? Mama khawatir setengah mati.” Ujar Binar.


“Tadi main bentar sama Tante.”


“Tante?” Tanya Pamungkas.


“Iya, itu, yang mobil hitam itu.” Kata Chan menunjuk ke arah mobil Reanty.


Pamungkas yang mengenali mobil itu mengernyitkan dahinya. Sementara Reanty yang merasa keberadaannya sudah diketahui, memilih untuk segera pergi dari sana.


Tapi terlambat. Karna kini Pamungkas telah berada tepat didepan mobilnya.


“Rea?”


Reanty masih tidak berani menjawab. Ia menyadari kalau dirinya berada diposisi yang salah.


Binar dan Rukayah beserta Ustadz Syuhada ikut menghampiri Pamungkas dan Reanty.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Pamungkas dengan suara tegas.


“Maaf, Mas. Aku cuma,,, mau,, ketemu sama Chan.” Reanty mulai terbata. Seluruh keberaniannya menciut jika dihadapkan dengan Pamungkas.


“Tapi kan kamu bisa bilang dulu sama aku? Atau ijin sama Binar dan keluarganya? Bukan main bawa gitu aja.” Pamungkas sudah kepalang emosi. Ia berkata dengan setengah berteriak.


Bahkan Binar ikut terkejut mendengarnya.


“Apa kamu tau kami semua khawatir karna Chan gak ada di sekolahnya?!”


“Maafin aku, Mas...” Reanty semakin menundukkan wajahnya. Nampak bulir-bulir airmata sudah menetes dari matanya.

__ADS_1


“Kamu memang sukanya bikin orang panik ya!” Pamungkas semakin menampakkan kekesalannya.


“Mas...” Binar berusaha mencegah amarah suaminya. Ia memegang lengan Pamungkas dan menariknya.


Pamungkas mengedarkan pandangannya kepada Binar, dan kedua mertuanya. Kemudian menghela nafas merasa tidak enak hati karna dia meluapkan emosinya dihadapan mereka.


Bahkan Chan sampai ketakutan dan bersembunyi di balik pundak neneknya.


“Mas, biar aku ngomong sebentar sama Mbak Reanty.” Pinta Binar bersungguh-sungguh.


“Bin,,,”


“Ayo, Nak Pam. Kita masuk kedalam dulu.” Ajak Ustadz Syuhada.


Tidak punya pilihan lain, Pamungkas mengikuti mertuanya masuk kedalam rumah. Meningalkan Binar berdua dengan Reanty. Entah kenapa ia merasa was-was. Bahkan saat ia berjalan meninggalkan mereka, ia terus melirik tidak suka kepada Reanty.


“Mbak, ayo duduk disana.” Ajak Binar menunjuk ke sebuah bangku yang ada dipelataran masjid.


Reanty menurut saja. Dia sudah tidak menangis. Tapi bekas air matanya masih terlihat. Ia mengikuti langkah Binar kemudian ikut duduk disampingnya.


Lama keduanya hanya terdiam dan sibuk dengan fikiran masing-masing.


“Kenapa Mbak diam-diam nemuin Chan?” Sebuah pertanyaan yang langsung membuat Reanty jadi merasa bersalah.


“Aku minta maaf, kalau aku terpaksa nemuin dia diam-diam dibelakang kalian. Aku takut kalian gak mengijinkan aku ketemu sama dia.”


Jawaban Reanty juga tak kalah membuat Binar terkejut. Ia mengernyitkan dahinya dan menoleh kearah wanita yang sedang tertunduk disampingnya itu.


“Astaghfirullah haladzim, Mbak. Aku, kami sekeluarga gak akan pernah melarang Mbak Reanty untuk ketemu sama Chan. Kalau aja Mbak datang dengan cara baik-baik. Aku gak mungkin menghalangi hak Mbak Reanty sebagai ibu kandungnya Chan. Sama sekali gak mungkin, Mbak. Gak pernah terbersit di fikiranku kalau Chan gak boleh ketemu sama Mbak Reanty. Sikap Mbak ini malah membuat aku tersinggung. Mbak Reanty memang ibu kandungnya Chan, tapi tolong jangan lupa, akulah yang nerima dan merawat Chan selama ini. Memberi Chan kasih sayang dan cintaku sebagai seorang ibu.”


Ucapan Binar terdengar sangat menohok kedalam hati Reanty. Mengembalikan ingatan menyakitkan tentang betapa teganya ia dulu. Seketika rasa bersalah itu memenuhi rongga dadanya. Rasa bersalah sekaligus malu dengan wanita bijaksana yang telah dengan tulus merawat dan mencintai anaknya.


Sementara dia, sibuk dengan euforianya sebagi bintang papan atas dengan segala kemewahannya. Mengalihkan perasaan bersalah dan menyalahkan orang-orang di sekelilingnya yang kurang memperhatikannya.


Menyalahkan orang lain sebagi bentuk dari pelariannya karna kalah dengan keegoisannya sendiri. Sampai sisi iblis mengambil alih fikirannya sehingga melupakan kejadian itu untuk waktu yang lama. Memakan seluruh nalurinya sebagai seorang wanita yang pernah melahirkan, ia telah melupakan kalau dirinya adalah seorang, ibu.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2