
Selesai pelajaran Kimia Konstektual Amira dan teman-temannya segera keluar dari ruang kelas.
“Cepet yuk pergi jauh dari sini,” ajak Amira cepat sambil melangkahkan kakinya keluar kelas.
“Sabar dong Mii cepet-cepet banget sih,” ucap Ajeng.
“Kita harus jauh dari pandangan Kak Digo dan antek-anteknya itu, katanya kalian mau tanya kabar gue sama kak Riko?” tanya Amira pada ketiga sahabatnya.
“Oh iya juga, ntar ga bebas kalo kita cerita di kelas,” Tasya menambahkan.
Amira & the geng berjalan hingga sampai di taman fakultas yang letaknya agak jauh dari kelas jurusan.
“Jadi, gimana cerita kak Riko sama Kak Digo?” Tasya membuka obrolan.
Amira memulai ceritanya kepada ketiga sahabatnya itu mulai dari Riko mengirim chat untuknya sampai Digo yang menunggunya di gerbang fakultas pagi ini.
“Waduh Kak Digo kenapa segitunya nungguin lo ya mi,” Lena heran.
“mungkin kak Digo tau lo suka sama Kak Riko terus dia mau kak Riko tau kalo kak Digo tu lagi deketin lo, kan kalian jalan lewat lab kan? Gue rasa kak Riko pasti ada di sana dan liat kalian,” Ajeng menduga-duga.
“Gue tadi ga liat lab sama sekali loh karena kak Digo ngajak ngobrol gue,” jawab Amira.
“Kok gue ga keingetan ya sama Kak Riko,”sesal Amira.
Tiba-tiba ponsel Amira bergetar dan memiliki chat wa masuk.
“Udah selesai kuliahnya?” isi chat dari nama yang tertera yaitu Kak Riko.
“udah kak, kakak kosong jam berapa? Ini Tasya mau ketemu kakak,” balas Amira cepat.
“Sekarang bisa kok,” balas Riko.
Amira senang membaca balasan dari Riko, artinya dia bisa bertemu dengan Riko sekarang.
“Tasy, yuk kita ketemu kak Riko, kan lo mau nanya laporan kemarin,” ajak Amira.
“Boleh, ayuk,” sahut Tasya.
“Kita nunggu di sini aja ya guys, gue mau nunggu abang es doger,” ucap Ajeng dan dijawab anggukan Tasya.
Baru mau beranjak tiba-tiba ponsel Amira bergetar lagi
“Tadi pagi kenapa bisa jalan sama Kak Digo? Ami lagi deket sama dia?” isi chat itu membuat Amira terdiam dan menghentikan langkahnya.
“Kenapa kok berenti mi?” tanya tasya heran.
Amira tak langsung menjawab Tasya, namun ia memberikan hapenya yg berisi chat dari kak Riko barusan.
Tasya melihat chat itu.
“Bener kata ajeng, pasti dia liat lo jalan sama kak Digo tadi. Dia ini mau deketin lo Mi, makanya dia pasti nanya gini karena Kak Digo kan kakak tingkat dia juga,”jawab Tasya.
“Dia pasti khawatir kalo lo punya hubungan juga sama kak Digo,” Tasya menambahkan.
__ADS_1
Mendengar itu Amira berfikir lalu dengan cepat dia mengetikkan balasan kepada Riko.
“Nanti aku jelasin ya kak,” balas Amira, dan mereka pun melangkahkan kakinya pergi menemui Riko.
Tanpa sadar dari tadi ada Andi dan Irwan yang mendengar percakapan mereka.
Andi langsung mengirim pesan kepada Digo mengenai informasi yang ia ketahui ini.
“Kak, Amira sama Tasya mau ketemu sama Kak Riko di Taman belakang Gedung C,” ketik Andi kemudian mengirim tombol send.
Digo menerima pesan dari Andi. Ada perasaan gemuruh dalam hatinya. Ia menggenggam erat hape yang ada di tangannya.
“Riko... Riko, ternyata lo ga peduli walaupun gue yang jadi saingan lo?” seringai Digo dengan rahang terkatup.
******
Di Taman Belakang Gedung C
Amira dan tasya baru sampai di tempat janji temunya bersama Riko. Amira melihat Riko yang tengah duduk sendiri sambil memegangi hapenya di taman itu.
“Akhirnya aku bisa bertemu dengannya,” batin Amira dengan wajah sumringah. Amira dan Tasya segera berjalan menghampiri Riko.
Riko menoleh ke arah Amira, yang terlihat cantik dengan jepit rambut Mutiara putih itu. Ia berdiri lalu menyapa kedua adik tingkatnya itu.
“Halo adik-adik,” sapa Riko hangat dengan penuh senyuman.
Amira dan Tasya hanya tersenyum.
Tasya menunjukkan kertas agak tebal itu dan menunjukkan hal yang tak dimengerti nya kepada Riko.
Riko melihatnya sebentar lalu menjelaskan dengan penuh kesabaran kepada Tasya. Amira pun ikut melihat dan mendengarkan penjelasan dari kakak tersayang nya itu, karena itu berhubungan juga dengan laporan yang nanti akan dibuatnya.
Setelah mendengar penjelasan dari Riko, Tasya mengerti dan segera mencatat kekurangan laporannya. Setelah itu ia menutup kertas yang ternyata adalah laporan Kimia Dasarnya itu dan segera memasukkannya ke dalam tas.
“Terima kasih banyak ya kak untuk bantuannya,” ucap Tasya kepada Riko.
“Sama-sama dek,” jawab Riko lembut.
Tasya menengok ke arah Amira bermaksud mengajaknya pergi dari situ, namun ia ragu. Riko yang melihat Tasya bingung lalu membuka suara.
“Boleh kalau saya meminjam Amira untuk menemani saya sebentar disini Tasya?” tanya Riko pada Tasya.
Tasya menoleh ke arah Amira dan terlihat anggukan kecil dari Amira pertanda ia setuju dengan usul sang kakak tingkatnya itu.
“Baik Kak Riko, aku titip Amira ya kak,” ucap Tasya kemudian.
“Mi, nanti gue sama yang lain nunggu lo di kantin yah,” ucap Tasya kepada Amira.
“Oke Tasy, makasi ya,” jawab Amira senang.
Tasya tersenyum lalu mengangguk, dan segera pergi dari taman itu, meninggalkan Amira dan Riko.
“Jadi gimana tadi ceritanya, Ami bisa jalan berdua sama kak Digo?” tanpa basa basi Riko membuka obrolan Ketika Tasya sudah tak terlihat lagi.
__ADS_1
“Ami dijemput Kak Digo dari rumah?” tanya Riko lembut.
“Ah enggak kok kak, tadi aku ketemu sama kak digo di depan gerbang fakultas,” jawab Amira cepat sambil kedua tangannya berputar-putar membuat simbol tidak.
“Karena kita ada kuliah bareng, itu, mata kuliah Kimia Konstektual. Kak Digo kan ngulang di mata kuliah itu kak, jadinya kita jalan bareng dari depan,” Jawab Amira lagi.
Amira tidak berbohong dengan Riko, namun ia menyembunyikan setengah kebenarannya, bahwa Digo memang telah menunggunya, bukan karena mereka tak sengaja bertemu di gerbang fakultas.
Riko tersenyum pada Amira.
“Kakak kira kalian lagi deket, lagi PDKT,” ucap Riko.
“Ih enggak lah kak, PDKT darimana, orang kenal aja baru sama Kak Digo kok hehe,” jawab Amira.
“Ya karena kakak ga pernah liat Kak Digo jalan bareng cewek kaya gitu mi selama ini,” jawab Riko sambil menunjukkan raut wajah menduga-duga.
“Mungkin karena kita kuliah bareng kak terus ketemu di depan ya jadi nya jalan bareng, kan ga enak juga kalo sendiri-sendiri kayak musuhan aja hehehe,” Amira menjelaskan teorinya.
“Oh iya mungkin juga ya,” jawab Riko sambil tersenyum pada Amira.
“Mungkin Amira benar, aku saja yang terlalu banyak berfikir,”batin Riko.
“Ya udah yuk Mi kakak anter ke tempat temen-temen kamu,” ajak Riko pada Amira.
“Eh ga usah kak, aku sendiri aja kesana,” jawab Amira cepat.
“oke kalau gitu,” jawab Riko tak mau memaksa.
“Ya udah ya kak aku pergi dulu,”pamit Amira kepada Riko sambil beranjak hendak pergi meninggalkannya.
Ketika Amira sudah membalikkan badan dan mulai melangkah pergi, Riko memanggil Amira.
“Amira,” panggil Riko.
Amira langsung berbalik menghadap Riko.
“ya kak ?” sahut nya.
“Hari ini pulang bareng kakak ya, selesai kuliah jam berapa?” tanya Riko.
Amira kaget mendengar ajakan dari Riko lalu memutar-mutar bola matanya sambil mengingat selesai perkuliahan hari ini jam berapa.
“Aku selesai jam 4 kak,” jawab Amira.
"Oke kalau gitu nanti kita pulang bareng jam 4 ya,” Ucap Riko.
“Iya,” jawab Amira sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Riko
Riko tersenyum senang melihat punggung Amira yang telah berjalan menjauh darinya.
“Akhirnya aku bisa tau rumah Amira,” gumam Riko bahagia.
__ADS_1