
Nisa dan Riko hari ini pulang ke Jakarta. Pesawat mereka akan berangkat pukul 10.20 WIB dari Bandara International Yogyakarta ke Bandara International Soekarno Hatta.
"Nomor rekening kamu berapa Rik? Kirim ke wa aku ya," ucap Nisa ketika mereka sedang menunggu boarding.
Dahi Riko berkerut heran. "Buat apa nomor rekening aku?"
"Kamu kan udah beliin tiket pesawat aku, jadi aku mau ganti uangnya," jelas Nisa.
"Ya ampun kirain mah kenapa, gak usah kali kaya apa aja kamu ini."
"Nggak mau ah, aku mau ganti aja Riko, apaan sih kamu ini," Nisa mulai kesal. Ia memang tak suka memiliki hutang budi kepada orang lain. Bayarnya susah, begitu pikirnya.
"Cuma segitu doang Nis, aku gak akan jadi miskin cuma karena beliin kamu tiket pesawat," jawab Riko yang juga mulai kesal.
"Ya udah aku kasih cash aja kalo gitu, berapa harga nya ya?" sahut Nisa masih tak mau menurut.
Ia mengeluarkan dompet bermaksud mengambil uang tunai.
Riko yang mulai kesal karena Nisa yang keras kepala akhirnya mengambil dompet Nisa lalu memasukkan ke dalam tas nya.
Nisa yang kaget malah tak terima. "Ih kok diambil sih Rik."
"Kamu berisik banget sih udah diem bentar lagi kita boarding," sahut Riko cuek.
"Kamu ini, keras kepala banget," sahut Nisa kesal.
"Kamu yang keras kepala," balas Riko tak mau kalah.
Nisa pun akhirnya menuruti Riko. Ia diam dan duduk manis menunggu boarding dengan bibir yang mengerucut.
Tak lama kemudian mereka pun akhirnya boarding pass karena pesawat mereka telah siap untuk digunakan dan sudah mendekati waktu keberangkatan.
******
Amira saat ini sedang berada di rumahnya, menunggu kedatangan ketiga sahabatnya yang sudah sangat ia rindukan. Tak lama pun terdengar pintu diketuk.
"Mi," terdengar suara Tasya memanggil dari balik pintu.
Amira bergegas membukakan pintu mereka. Dengan raut wajah terkejut dan penuh haru, ketiga sahabat Amira langsung memeluk gadis itu.
"Ya ampun Mi, gue kira gak akan bisa bareng lo lagi," ucap Ajeng yang sudah mulai menangis.
__ADS_1
"Iya Mi, gue sedih banget ngebayangin lo gak ada pas kita kuliah nanti," sahut Tasya.
"Iya maaf ya, tapi sekarang kan gue di sini," jawab Amira penuh haru.
Lalu mereka pun melepaskan pelukannya.
"Masuk dulu yuk," ajak Amira lalu berjalan menuju kamarnya diikuti oleh ketiga temannya.
"Makasih ya Len, karena lo gak kasih form cuti gue ke bagian admin, jadi gue bisa balik lagi deh," ucap Amira kepada Lena yang duduk di sebelahnya ketika telah berada di kamar
"Gak usah makasih Mi, karena memang dari awal gue gak mau lo pergi, cuma gue gak bisa berbuat apa-apa untuk nahan lo," jawabnya sedih mengingat kejadian yang lalu.
"Semua udah ada jalan nya Len, buktinya sekarang gue udah balik lagi kan dan tetap bisa kuliah seperti biasa dengan kalian," sahut Amira senang.
Terlihat sekali raut wajah bahagia Amira saat ini, sangat berbeda dengan Amira beberapa minggu lalu yang mereka temui.
Wajah Amira saat ini terlihat lebih fresh dan lebih berseri, mungkin karena hatinya saat ini sedang ditumbuhi bunga kebahagiaan cinta Digo.
"Gue bahagia banget Mi, akhirnya lo bisa bahagia juga, duh sampe kelihatan loh dari pancaran wajahnya, bersih bersinar," goda Tasya menowel dagu Amira.
"Ih Tasya apaan sih, emang gue sunlight," jawab Amira dengan kesal yang dibuat-buat.
"Eh iya ya, kayak iklan sunlight aja gue ngomongnya," sahut Tasya tertawa.
"Iya Len Kak Digo dateng ke kosan gue, kok lo tau?"
"Hehehehe tau dong, kemarin gue sama Kak Erwin yang nganter dia ke bandara Mi."
"Oh iya Len?"
Lena mengangguk. "Padahal dia baru keluar dari rumah sakit tau Mi, tapi pagi-pagi banget udah jalan ke bandara demi nemuin lo. Mana sepanjang jalan dia nyengir terus Mi, bahagia banget kayaknya."
Amira tertawa membayangkan Digo.
"Eh iya kemarin Nisa sempet bilang juga sama gue kalo Kak Digo dirawat. Dia kenapa emangnya?"
Lena tak langsung menjawab. Dia melihat satu persatu temannya, lalu berhenti di Amira.
"Gue denger dia berantem sama Kak Riko Mi," jawab Lena sedikit ragu.
"Hah? Kenapa? Kok bisa?" tanya Amira terkejut.
__ADS_1
"Jadi waktu itu mereka gak sengaja ketemu, terus Kak Digo ini main hajar Kak Riko karena marah dan tanpa ngomong apa-apa dulu, terus karena Kak Riko gak terima ya dia pukul balik deh."
"Karena gue ya?" Amira menebak.
"Ya karena apa lagi, Kak Digo kira Lo pergi gara-gara Kak Riko, tapi Kak Riko balik marah dan kasih tau semuanya sambil mukulin Kak Digo membabi buta sampe Kak Digo pingsan."
"Ya ampun Kak Digo, kasian banget sih," ucap Amira merasa sedih. Setelah kepergiannya sepertinya hari yang dilalui Digo tak begitu baik.
"Eh tapi Mi lo jangan ngomong sama Kak Digo ya soal ini, karena Kak Digo ngelarang gue cerita sama lo sebenernya," ucap Lena memperingatkan Amira.
"Iya Len, tenang aja gue gak akan ngomong apa-apa kok."
"Nah gitu dong kalo enggak bisa-bisa gue dikeroyok kak Erwin dan Kak Digo," ucap Lena dengan ekspresi takut.
Mereka pun tertawa melihat Lena.
"Eh Mi, terus gimana Lo sama Kak Digo?" tanya Tasya yang penasaran setengah mati.
"Gimana apanya?" tanya Amira tak paham maksud Tasya.
"Ya hubungan kalian, jadi pacaran ya?" tanya Tasya lagi.
Amira terlihat berpikir sejenak. Pacaran? Tapi kan kita gak ada semacam ritual penembakkan 'kamu mau gak jadi pacar aku'. Apa bisa disebut pacaran juga ya?
"Heh Mi, lo ini ditanyain malah bengong aja," celetuk Ajeng menepuk lengan Amira.
"Eh iya hehehe gue gak ngelamun kok guys," jawab Amira kaget karena lamunannya terhenti.
"Terus gimana yang gue tanya tadi?" Tasya bertanya kembali.
"Hmm gue gak tau sih, kita gak ada semacam kata-kata kamu mau gak jadi pacar aku- gitu, jadi apa ya namanya?" jawab Amira bingung.
"Lah tapi kan Kak Digo bilang sayang sama lo kan Mi? Dan lo juga sayang kan sama dia?" tanya Tasya mengerutkan dahinya heran.
"Iya sih."
"Ya itu berarti pacaran, ya kali mau kayak anak sekolah aja pake nembak-nembak segala," sahut Ajeng tertawa, tak habis pikir dengan Amira.
"Oh gitu ya?" tanya Amira dengan polosnya.
"Iya Mi, gimana sih lo ini," jawab Lena.
__ADS_1
"Akhirnya ya Mi, selamat ya, mulai sekarang lo harus bahagia terus, jangan sedih-sedih lagi."
Amira mengangguk lalu memeluk teman-temannya.