Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 27 Mirip 2


__ADS_3

Hari ini hari pertama masuk kuliah sejak libur setelah acara pisah sambut di kampus Amira.


Kelas akan dimulai sebentar lagi, terlihat Amira dan teman-temannya sedang duduk mengobrol di meja mereka masing-masing.


Tiba-tiba Andi dan Irwan menghampiri Amira and the geng itu.


"Eh halo cewek-cewek, lama ga ketemu makin cantik aja nih," Goda Irwan.


"Dih, gombalannya basi banget," jawab Tasya gemas.


"Lah ngapa sih Sya, lo nih senewen bener ama gue," balas Irwan cemberut.


Tasya tak menanggapi Irwan, baginya Irwan itu seperti playboy yang baru belajar.


"Eh iya mi, lo tau ga, ternyata lo itu mirip sama mantan nya Kak Digo loh," ucap Andi secara tiba-tiba.


Amira tersentak mendengar perkataan Andi, lalu ia menoleh ke arah Andi.


Maksud lo Ndi?" tanya Amira.


"Ya dulu itu kak Digo pernah punya pacar, terus udah putus lama, nah mantan pacar nya itu wajahnya mirip lo Mi," ucap Andi.


"Lo tau dari mana?" tanya Lena kemudian.


"Kemarin kita ke rumah kak Digo, dan ga sengaja ngedenger kalo mereka lagi cerita itu," jelas Irwan menambahkan.


Amira yang mendengar itu terdiam. Seketika hatinya merasa seperti sedikit terluka.


Tentu saja Amira merasa sedih, Digo yang ia pikir menyukainya tanpa syarat yang memperlakukannya dengan begitu istimewa meskipun tak ia balas perasaannya itu, ternyata menyimpan cerita tersendiri.


Cerita yang menjadi alasan mengapa Digo selama ini memperlakukannya seperti itu.


Amira tersenyum getir. "Ahh ya, aku terlalu naif, ternyata tak ada cinta yang tulus di dunia ini, tidak ada cinta yang indah," batin Amira miris.


Riko, laki-laki yang ia cintai sejak pertama bertemu dengan nya bahkan sampai saat ini, masih belum bisa memberi kepastian akan hubungan cinta mereka. Laki-laki yang seharusnya bisa melindungi Amira dari pahitnya hidup, justru ia yang menciptakan kepahitan itu sendiri.


Digo, laki-laki yang berperan sebagai pahlawan untuknya, yang selalu menghapus airmata nya, ternyata hanya menjadikan dirinya bayangan.


Bayangan dari kisah masa lalu nya.


"Sebercanda itukah cinta yang datang padaku Tuhan?" lirih Amira sedih dalam hatinya.


"Mi, kok lo diem aja sih?" bisik Tasya yang menyadari perubahan mimik wajah sahabatnya itu.


Amira pun tersadar dari pikirannya yang telah menerawang jauh.

__ADS_1


"Nggak, gue ga apa-apa kok Tasy," jawab Amira sambil tersenyum singkat.


Tapi tasya tahu, ada yang disembunyikan oleh Amira. Entah itu perasaannya yang mungkin kecewa terhadap Digo, atau memang ada masalah lain?


Tapi Tasya tak mau menanyakan lebih lanjut tentang apa itu, karena menurutnya jika Amira tidak menceritakan pada dirinya, itu artinya Amira ingin


menyimpannya sendiri.


Selesai perkuliahan, Amira berpamitan kepada teman-temannya untuk pulang duluan.


Meskipun merasa heran, namun Tasya dan yang lainnya mengizinkan Amira pulang sendirian.


Amira berjalan ke luar fakultas sendirian. Entah mengapa ia ingin sendiri untuk hari ini. Amira mematikan ponselnya agar tak ada yang menghubunginya.


Ketika Amira berjalan melewati laboratorium, Riko yang hendak keluar gedung melihat Amira yang sedang berjalan tertunduk dan anehnya sendirian.


Riko mengernyitkan dahi nya merasa heran, kemudian ia berjalan menghampiri Amira dan memanggilnya.


"Amira," panggil Riko.


Amira menoleh ke arah Riko dan melihat lelaki itu sedang berjalan ke arah nya.


"Mau kemana? dan kenapa sendirian?" tanya Riko.


"Aku lagi pengen sendiri kak," jawab Amira.


"Maaf kak aku mau pergi dulu," jawab Amira cepat hendak pergi meninggalkan Riko.


"Tunggu Mi," cegah Riko sambil menarik tangan Amira.


"Kamu mau kemana?" tanya Riko.


"Pulang," jawab Amira.


"Ya udah kakak anter aja ya, kakak ambil motor dulu," ucap Riko lagi dan dijawab anggukan oleh Amira.


Riko bergegas ke parkiran untuk mengambil motornya. Amira yang melihat itu langsung pergi meninggalkan Riko tanpa sepengetahuan Riko.


Amira berjalan setengah berlari ke luar fakultas, dan semakin menambah kecepatan langkahnya agar tak tersusul oleh Riko.


Beruntung ada taksi melintas, Amira segera menghentikan taksi itu dan naik ke dalam taksi.


Riko yang baru saja menghampiri Amira di tempat Amira menunggu sebelumnya merasa terkejut melihat Amira tak ada di sana.


“Lah kemana Amira ini,” ucap Riko.

__ADS_1


Riko pun terus mengendarai motornya mencari jejak Amira, berharap ia menemukan gadis yang dicintainya itu.


“Mi, sebenernya kamu kenapa sih? Jangan buat aku khwatir dong” ucap Riko kemudian menghentikan motornya di pinggir jalan.


Ia mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja lalu segera menelpon Amira.


Namun teleponnya tidak tersambung. Riko mengulang lagi panggilannya, namun masih terdengar nada tidak tersambung.


Sementara Amira yang ada dalam taksi meminta sang supir mengantarkannya ke taman kota.


Setibanya di tempat tujuan, Amira bergegas berjalan menuju kursi taman dan ia duduk di sana.


Amira memikirkan cerita Andi tadi pagi, tentang ia yang mirip dengan mantan kekasihnya Digo, entah kenapa mendengar cerita itu mampu membuat hati Amira sedikit sakit.


Ia seperti diajak terbang tinggi lalu dijatuhkan dari ketinggian itu.


“Apa ga ada 1 orang pun yang bisa mencintaiku dengan benar?” batin Amira.


“Ah, aku tak ingin dicintai jika harus disakiti seperti ini,” ucap Amira dalam hatinya lagi.


Adakah orang yang begitu mirip di dunia ini? Apakah perempuan yang dimaksud Andi adalah perempuan yang pernah ditemuinya ketika ke mall bersama Tasya itu?


Pikiran Amira mulai mengingat perempuan bernama Nisa itu.


“Jika benar itu perempuan yang dimaksud Andi, mana bisa aku dibandingkan dengan dia? Dia cantik, modis dan lebih modern daripada aku. sedangkan aku?” pikir Amira.


"Tapi tunggu, kenapa juga aku harus mikirin ini ya? Toh aku ga punya perasaan apa-apa sama Kak Digo, jadi apapun cerita masa lalunya ga ada hubungannya dengan aku,” ucap Amira pada diri sendiri.


"Urusan hati aku dengan Kak Riko aja udah ribet dan ga selesai-selesai, aku ga boleh nambahin lagi dengan urusan perempuan yang mirip aku itu. Lagipula dia ga ada hubungannya dengan aku, ah Amira dasar bodoh,” ucapnya lagi pada diri sendiri.


Amira lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah benda pipih yang sedari tadi dinonaktifkan olehnya. Ia menghidupkan benda pipih kesayangannya itu.


Setelah hidup penuh ia melihat beberapa chat masuk dari Riko, yang isinya menanyakan keberadaannya dan kenapa telponnya ga aktif.


Sementara itu Riko yang tak menemukan jejak Amira akhirnya pergi ke rumah Amira. Namun Riko tak mendapati Amira di sana.


Lalu riko mengambil ponsel dari saku kemejanya, bermaksud untuk menghubungi Amira. Namun ia telah lebih dulu mendapat chat dari Amira.


“Aku di Taman kota kak, tadi mampir sebentar, ini aku mau pulang,” isi chat dari Amira.


Tanpa pikir panjang Riko langsung menelpon Amira.


“Mi, kamu tunggu di sana aja ya, kakak jemput kamu sekarang,” ucap Riko di telpon.


“Nggak usah kak aku bis pul…” ucapan Amira terpotong dengan sanggahan Riko.

__ADS_1


“Nggak ada penolakan,” ucap Riko lalu menutup teleponnya.


Kemudian ia bergegas menuju taman kota untuk menjemput Amira.


__ADS_2