Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 80 Melamar (End)


__ADS_3

Sore ini Amira berjanji pada Digo akan makan malam bersama di restoran yang telah Digo siapkan. Katanya untuk merayakan kepulangan Amora sekaligus merayakan cinta mereka berdua.


Teman-temannya sudah pulang pukul 16.00 WIB karena Amira harus mempersiapkan diri untuk menemui Digo. Kekasih hatinya.


Rasanya berbunga-bunga sekali setiap Amira mengingat akan pergi bersama Digo. Ia mulai sibuk memilih baju dan juga berdandan natural untuk mempertegas gurat cantik di wajahnya.


Ia hanya memakai pelembab di wajah lalu ditambah dengan bedak tabur. Menebalkan garis pada alisnya sedikit lalu memakai lipstik dengan warna yang soft namun tetap terlihat cantik.


Karena Digo akan mengajaknya makan di salah satu restoran atas gedung yang ada di Jakarta Pusat, maka ia pun harus tampil sebaik mungkin.


Ia memilih gaun malam panjang berwarna biru dongker dengan bahan satin sutera dan lengan sedikit terbuka. Amira pun memilih menggerai rambutnya namun sedikit dibuat berbeda. Ia membuat rambutnya menjadi bergelombang dengan alat catok rambut yang ia miliki.


Tak lama Digo telah tiba di depan rumah Amira. Dengan perlahan karena gaunnya yang menurutnya cukup ribet, Amira berjalan menghampiri Digo.


Digo yang tak pernah melihat penampilan Amira seperti itu pun terkejut. Betapa cantiknya wanita yang saat ini di hadapannya, berbeda sekali dengan yang biasa ia lihat di kampus.


Kulit putihnya kontras dengan gaun biru Dongker yang dikenakannya. Terlihat simpel namun tetap elegan.


"Kamu cantik banget malem ini Mi," ucap Digo menatap Amira.


"Masa sih? Dasar gombal kakak ini," sahut Amira tersipu malu.


"Kakak serius, sampe kaget ini," jawab Digo menggoda Amira.


Kemudian Digo mendekat lalu menggandeng tangan Amira untuk berangkat menuju restoran pilihannya.


Rasanya seperti mimpi, bisa berjalan berdampingan dalam suasana seperti ini. Di malam Minggu, dimana biasanya sepasang kekasih menghabiskan waktu bersama.


Setelah penantian dan kesedihan yang cukup panjang, akhirnya Amira dan Digo bisa jalan bergandengan tangan hanya untuk sekedar makan malam.


Amira tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati, karena airmata nya diganti dengan kebahagiaan tak ternilai ini. Ia terus tersenyum dengan pikirannya di sepanjang perjalanan.


Tak jauh berbeda dari yang Digo rasakan, jantung Digo saat ini seperti mau copot. Ia telah mempersiapkan segalanya untuk makan malam romantis bersama Amira hari ini.


Ya, hari yang dipilih oleh Digo tanpa mau berlama-lama.


Setibanya di restoran, Digo menghentikan mobilnya di loby, lalu membukakan pintu untuk Amira. Kemudian ia memberi kunci mobilnya untuk diparkirkan kepada petugas restoran tersebut.


Mereka pun masuk ke dalam restoran yang terlihat mewah itu. Digo mempersilahkan wanitanya duduk dengan menarik kan kursi untuk Amira.


"Kamu tunggu sebentar di sini ya Mi, kakak mau ke toilet dulu," ucap Digo mencium punggung tangan Amira.


"Iya kak, tapi jangan lama-lama ya, aku takut hehe," jawab Amira jujur.


"Iya sayang," sahut Digo lalu membelai wajah Amira.


Kemudian Digo pun pergi meninggalkan Amira.

__ADS_1


Tak lama Digo pergi, seorang pelayan datang dengan membawa minuman untuk Amira.


Amira merasa heran, dia belum memesan tapi minumannya sudah tiba. Apa memang restoran mahal tuh seperti ini ya pelayanannya, mungkin ini minuman gratis, pikirnya.


"Silahkan diminum nona," ucap pelayan itu ramah.


"Terima kasih mbak," sahut Amira tersenyum.


Amira meminum minuman yang ada di hadapannya dengan gelisah. Ia merasa tak percaya diri duduk di tempat itu sendiri.


"Kak Digo kemana sih?" gumamnya melihat ke kanan dan ke kiri. Berharap menemukan sosok Digo.


Namun tak lama kemudian lampu di restoran padam, berganti dengan lampu remang-remang. Lalu terdengar sayup-sayup suara yang dikenalnya mendendangkan sebuah lagu.


Amira menoleh ke arah suara yang berasal dari sudut restoran itu. Dengan pandangan cukup minim penerangan, ia melihat lelaki yang sedang bernyanyi itu.


"Kak Digo," gumamnya sungguh terkejut.


Lantunan lagu dengan iringan piano itu berhasil membuat Amira meneteskan airmata.


Hatinya begitu terharu dan sangat bahagia, mendengar lirik demi lirik yang Digo nyanyikan.


Digo bernyanyi dengan langkah yang mendekatinya bersama dua pelayan di belakang Digo.


Di ujung cerita ini


Ku pandang tajam bola matamu


Cantik dengarkanlah aku


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anak ku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain

__ADS_1


Satu yang kutahu


Kuingin melamar mu


Tepat di kalimat terakhir lagunya, Digo berdiri di hadapan Amira lalu mengambil bucket bunga yang dibawa oleh pelayan di belakangnya.


"Amira, seperti lagu yang baru kakak nyanyikan, malam ini kakak mau melamar kamu Mi," ucap Digo lalu memberikan bunga mawar merah itu kepada Amira.


"Bunga mawar merah ini menunjukkan cinta kakak ke kamu benar-benar murni, gak ada kepalsuan sama sekali."


Amira menerima bunga itu dengan airmata yang masih menetes. Tak lama kemudian Digo berlutut lalu membuka kotak merah berisi cincin permata.


"Amira, di hadapan semua orang yang menjadi saksi malam spesial ini, aku, Handigo Prasetya melamar kamu untuk menjadi pendampingku yang akan menemani tawa dan airmata ku hingga akhir hayat nanti. Mau kah kamu menerima ku dan semua cinta ini Mi?"


Amira terdiam. Ia benar-benar tak mampu bicara. Amira menatap Digo dengan tatapan tak percaya. Sungguh ini seperti khayalan dalam dunia dongeng.


"Mi?" Digo bertanya lagi dengan harap-harap cemas.


Amira mengangguk, lalu mengusap airmata yang jatuh di wajahnya, kemudian mengulurkan tangannya kepada Digo.


Digo memasangkan cincin permata itu di jari manis Amira. "Mulai sekarang, kamu adalah milik kakak Mi, dan gak akan kakak izinin untuk pergi dari hidup kakak."


Digo kemudian berdiri, menghapus airmata Amira lalu mencium keningnya.


"Kakak mencintai kamu Amira Dania."


Terdengar riuh tepuk tangan dari semua tamu yang ada di restoran itu. Mereka menonton dari awal hingga akhir lamaran romantis Digo. Banyak yang mengabadikan momen itu di ponsel mereka.


Amira yang sudah kehabisan kata-kata itu pun memeluk Digo.


Sungguh tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Tuhan akan mengirimkan kebahagiaan yang begitu indah ini.


Setelah tumpahan airmata dan rasa sakit tiada terkira itu. Tuhan memberikan bingkisan di penghujung ikhlas nya.


Ya, terkadang Tuhan tidak memberi hadiah berupa bingkisan indah yang mudah terlihat, namun Ia membungkusnya dengan kesedihan tiada tara, agar kita bisa lebih mensyukuri apa yang nantinya kita miliki.


Dan ketika kamu telah mengikhlaskan sesuatu yang kamu cintai dalam tawakkal kepadaNya, percayalah, Tuhan akan menunjukkan kasihNya kepadamu dengan menghadirkan kebahagiaan yang tak pernah kamu duga sebelumnya.


Entah itu mengembalikan dia yang kamu cintai, atau menggantikannya dengan yang lebih baik dari sebelumnya.


Untuk itu, berbaik sangkalah kepada Tuhanmu bahkan dalam keadaan kamu bersedih. Karena Tuhan sungguh maha pengasih melebihi yang kita ketahui.


☘️🍀


🍀☘️


End

__ADS_1


__ADS_2