
“Gue cuma mau mastiin aja, kalo seandainya Nisa balik lagi apa lo akan bimbang memilih?”Tanya Erwin sambil menatap Digo.
“Maksud lo?” tanya Digo bingung
Erwin ragu apakah ia harus menceritakan pertemuannya tadi dengan Nisa atau tidak.
“Heh kok lo malah diem?”tanya Digo.
Erwin tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya. “Hmm tadi gue liat Nisa Go.”
“Nisa? Lo yakin?” tanya Digo dengan pandangan tak percaya.
“Iya bahkan gue ngobrol bentar,” sahut Erwin.
“Oh ya? Dimana?”Tanya Digo lagi.
“Tadi waktu gue mau ke rumah lo, gue liat dia lagi berdiri di depan pagar rumah lo. Terus gue samperin, tapi dia ga mau masuk. Katanya sih cuma lewat,” jelas Erwin panjang lebar.
“Oh bukannya harusnya dia ada di Singapura?”Digo mencoba mengingat-ingat.
“Iya dia udah balik 6 bulan lalu katanya,” jawab Erwin.
“Ohh” jawab Digo sambil melanjutkan merokoknya.
“Kok cuma ohh aja sih?” Erwin mulai meneliti.
“Ya mungkin dia lagi liburan atau cuti kuliah, ya gue mau jawab apa emangnya?” Digo malah balik bertanya.
“Lo ga ada rasa pengen ketemu sama dia? Atau ngerasa apa gitu?” tanya Erwin sambil matanya menyelidiki Digo.
“Gue kan udah bilang, dia udah masa lalu buat gue. Sekarang yang ada di pikiran dan hati gue cuma Amira, ya.. tapi sayangnya dia nya ga ngerti,” sahut Digo.
“Sekarang gue ga tau harus gimana ke dia win, dia kemarin lebih milih Riko daripada gue,” Digo menatap jendela.
Ia sama sekali tak memikirkan mengapa Nisa ada di sini, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana agar Amira kembali seperti dulu.
“Bukannya emang dari dulu ya Amira milih Riko daripada lo? Terus kenapa lo sekarang malah uring-uringan?” Erwin tak mengerti.
__ADS_1
“Iya sih, tapi biasanya yang bikin Amira nangis tu Riko, bukan gue. Tapi kemarin dia nangis karena gue, bahkan ga mau gue anter pulang,” jawab Digo frustasi.
“Gue udah janji ga mau nyakitin dia, tapi dia malah nangis karena gue Win,” ucap Digo dengan serius kali ini. Pandangannya menerawang seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Amira pernah bilang sama gue, gimana cara gue lindungin dia dari kesedihan yang gue ciptain. Waktu itu gue bilang ga akan nyakitin dia, tapi ternyata sekarang malah gue yang buat dia nangis.”
“Tapi kan ini sebenernya bukan salah lo Go, cuma memang keadaannya aja yang buat Amira sakit, eh tapi tunggu, kalo dia sedih artinya Amira suka sama lo Go,” ucap Erwin.
Digo terdiam, mencoba mencerna kata-kata Erwin. Ia baru menyadari apa yang dikatakan Erwin benar.
“Ya ampun kenapa gue ga kepikiran ya Win, akhirnya yang gue tunggu terjadi juga. Amira mulai sadar dia mencintai gue Win,” ucap Digo senang lalu memeluk Erwin.
Tangisnya kini telah berganti dengan tawa bahagia. Akhirnya yang ia tunggu telah terjadi, Amira telah membuka pintu hatinya. Sungguh tak ada hal yang lebih membahagiakan untuknya selain ini.
Keesokan harinya Amira sedang bersiap untuk pergi ke rumah Nisa. Kemarin ia sudah janji padanya untuk mengunjunginya.
“Semoga rasa sakit di hatiku tak menetap. Karena setiap aku melihat Nisa hatiku terasa sakit,” ujar Amira dalam hatinya.
Jika bisa, Amira ingin membenci Nisa saja agar mengurangi sakit di hatinya, tapi sayangnya ia justru menyayanginya. Nisa adalah gadis kesepian yang berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang.
Rasanya Amira tak ada alasan untuk membenci gadis seperti Nisa. Justru Amira merasa ingin mengembalikan cinta yang telah hilang untuk Nisa.
"Selama ini yang aku tau, aku hanya mencintai Riko. Tapi ketika aku tau ada cinta lain yang juga menginginkan Digo, mengapa aku seperti tak rela? Seperti ada sepenggal rasa yang tak kembali pada tempatnya. "
“Selama ini aku lelah merasa separuh, aku ingin hatiku utuh. Jika utuh ku ada pada Digo, sanggupkah aku melepaskannya?”Amira merenung dalam pikirannya.
Tiba-tiba Amira dikejutkan dengan ketukan pintu ibunya.
“Mi, ada yang dateng, dia di ruang tamu ya,” panggil ibunya lalu segera pergi meninggalkan kamar Amira.
“Siapa ya yang dateng? Apa Tasya?” Amira bertanya dalam hatinya.
Amira membuka pintu kamarnya dan berjalan ke ruang tamu dan melihat ternyata Riko sedang ngobrol bersama Ibunya.
“Kak Riko,” ucap Amira sambil berjalan mendekat. Ibu dan Riko menoleh dan tersenyum.
“Ini ada temen kamu Mi, tadi mama sempetin ngobrol sebentar hehe.” ucap Bu Rani lalu berdiri hendak meninggalkan Amira.
__ADS_1
Ketika berpapasan dengan Amira, Ibunya menepuk pundak Amira seolah mengetahui perasaan putrinya.
Amira duduk di sofa depan Riko. “Kakak kok ga ngabarin kalo mau kesini? Tanya Amira.
“iya kakak sengaja aja pengen langsung ngunjungin kamu, gimana keadaan kamu Mi?” tanya Riko.
“Aku baik-baik aja kak,” jawab Amira tersenyum.
“Kemarin kamu kenapa?” tanya Riko dengan rasa penasarannya.
“Nggak apa-apa kak, aku.. aku kemarin cuma lagi ribut dikit aja sama Kak Digo,” jawab Amira mencari alasan.
“Kak, kita ga usah bahas kemarin ya, boleh kan?”pinta Amira pada Riko.
Riko mengangguk lalu tersenyum. “Oke kakak ga akan bahas Mi, eh ngomong-ngomong kamu mau kemana kok udah rapih gini?”
“Aku mau tempat temenku kak, kemarin aku udah janjian.
“Oh gitu, ya udah kakak anter aja ya, kebetulan kakak kosong hari ini,”ajak Riko dan dijawab anggukan kepala oleh Amira.
Lalu Amira pamit dengan ibunya dan pergi bersama Riko menuju rumah Nisa. Amira tak menceritakan soal nisa kepada Riko. Ia tak mau Riko banyak bertanya tentang hal ini jika ia menceritakannya.
Riko melihat Amira yang sedang merenung menatap jalan. Ia merasa terdapat jarak yang terpaut antara dirinya dan Amira. Rasa takut kehilangan Amira seketika memuncak memikirkan kemungkinan ada hubungan terjalin antara Amira dan Digo.
“Masihkah kau mencintaiku Amira? Masih sudi kah kau menungguku sekali lagi?” Riko berkata di dalam hatinya.
“Amira,” akhirnya Riko membuka suara.
Amira menoleh,” Ya kak?
“Kamu masih inget kakak sayang sama kamu kan?” Riko mencoba mempertahankan perasaan Amira.
Amira tak menjawab, namun ia tersenyum ke arah Riko dan menganggukkan kepalanya.
“Apapun yang menjadi masalah kamu akan jadi masalah kakak juga, kamu bisa bercerita tentang apa saja pada kakak Mi, jangan pernah pendam semuanya sendirian, dan ..” ucapan Riko terhenti sebentar.
“Kakak mohon tunggulah kakak sedikit lagi Mi,” ucap Riko pada akhirnya.
__ADS_1
Amira menatap Riko nanar, tak tahu harus menjawab apa.