Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 28 Dua Cinta


__ADS_3

Digo yang baru saja pulang dari main billiar memutuskan untuk melewati Taman Kota. Jika ia melewati jalan lain harus putar arah dan kadang juga macet, akan lebih memakan waktu.


Karena Digo saat ini sedang membawa mobil, ia malas melewati jalan yang memutar apalagi jalanan macet. Bisa berjam-jam dia sampai rumahnya nanti.


Sementara Riko yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput Amira memutuskan mampir sebentar ke toko bunga untuk membeli beberapa bunga. Ia lalu menghubungi supir di rumah nya untuk menjemputnya menggunakan mobil.


Riko ingin membawa mobil saat menjemput Amira, agar merasa lebih nyaman tanpa takut terlihat oleh orang lain seperti ketika menggunakan motor.


Ia akan bertukar kendaraan dengan supir yang dimintanya datang. Ia menggunakan mobil yang dibawa supirnya, kemudian supirnya pulang ke rumah menggunakan motor yang dibawanya tadi.


Amira yang merasa bosan karena sudah dari tadi berada di taman akhirnya berjalan ke depan untuk sekedar membeli cemilan. Ia merasa agak lapar setelah memikirkan hal yang tak perlu tadi.


“Harusnya aku tadi ga usah ngabarin kak Riko, kan jadi kelamaan aku nunggu nya. Padahal bisa pulang sendiri," batin Amira menyesal.


Ketika Amira sedang berjalan menuju pedagang yang berada di luar taman, Ia tak sengaja berpapasan dengan seseorang.


Amira seperti menyadari sesuatu, ia berhenti lalu berfikir sejenak.


“Aku pernah liat dimana ya perempuan tadi,”batinnya.


Lalu ia menoleh ke belakang dan melihat punggung perempuan itu berjalan ke arah taman.


"Seperti familiar, tapi siapa ya?” batin Amira.


Namun kemudian Ia lalu tersadar bahwa perempuan itu adalah Desi, kekasih Riko.


“Ya Tuhan, dia kok disini? Dia akan melihat Kak Riko kesini. Aku ga mau menjadi orang ketiga bagi mereka,” ucap Amira dalam hatinya.


Amira segera membuka ponselnya dan mencari aplikasi ojek online untuk pulang.


Lebih baik ia pulang duluan dengan ojek online daripada dia harus melihat Riko bersama Desi di Taman ini.


Biar saja Riko datang dan bertemu dengan kekasih nya, yaitu Desi, pikir Amira.


Digo yang sedang melintasi taman Kota tak sengaja mata nya melihat area taman.


Ia seketika terkejut melihat Amira sedang berdiri di pinggir taman sendirian.


“Sedang apa Amira di sana? Dan apa yang dia lihat?” pikir Digo.


Lalu Digo memutuskan untuk menghampiri Amira dan mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya di sisi jalan dekat dengan taman.


Bersamaan dengan itu ternyata Riko telah sampai di taman kota dan sudah memarkirkan mobilnya. Kini ia sedang berjalan menuju taman.


Ia berjalan menuju pintu taman dan melihat Amira sedang berdiri sendirian sambil memainkan ponselnya (padahal saat itu Amira bukan sedang memainkan ponsel, namun sedang memesan ojek online).


Dengan wajah tersenyum ia segera berjalan lebih cepat sambil membawa rangkaian bunga yang sangat cantik, berharap Amira senang menerima bunga darinya.

__ADS_1


Namun sayangnya waktu tak berpihak kepada nya, saat sudah dekat dengan Amira, ia justru melihat Desi berada di belakang Amira, lebih tepatnya Desi sedang duduk di kursi taman yang berada di belakang Amira.


Riko menghentikan langkahnya dan melihat Amira serta Desi bergantian.


Amira yang memang sedang menunggu ojek online bermaksud berjalan ke depan agar lebih mudah naik ojek nya, namun matanya malah bertemu dengan Riko yang saat ini berjarak 3 m darinya.


“Kak Riko,” batin Amira dalam hatinya.


Ia melihat bunga yang dipegang oleh Riko.


"Bunga itu mungkin untukku tapi semesta ternyata tak mengizinkan bunga itu jatuh ke tanganku. Semesta mendukung kemana harusnya bunga itu berlabuh. Tempat yang seharusnya, dan itu bukan aku,” ucap Amira sendu.


“Kedua kali nya kamu menyakitiku dengan hal yang sama kak Riko,” ucapnya lagi dalam hati.


“Desi”, panggil seorang wanita yang saat ini menuju ke arah kursi Desi, di belakang Amira.


Tapi sialnya wanita itu posisinya berada di depan Amira, sehingga mau tidak mau Desi menoleh ke arahnya mencari suara panggilan tersebut.


Sekilas Desi melihat temannya yang saat ini sedang menghampirinya, namun matanya menangkap sosok Riko di depan sana dan malah terfokus pada Riko yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan membawa sebucket bunga mawar yang cantik sekali.


Desi pun berdiri menghampiri temannya melewati Amira. Ya, Desi tidak mengenal Amira. Sejauh ini ia tidak tahu bahwa gadis yang dilewatinya itu adalah pemilik hati Riko yang sesungguhnya .


“Veni, lama banget gue nungguin lo dsini,”ucap Desi ketika bertemu Veni, temannya.


“Eh Ven di depan ada Riko, gue samperin dia dulu ya,” ucap Desi pada veni sambil menunjuk tempat Riko berdiri.


Riko yang sadar bahwa Desi akan menghampirinya seketika dada nya bergetar hebat.


Dia terdiam mematung bahkan bingung untuk bergerak.


Amira yang melihat itu pun hanya terdiam dengan rasa sakit yang bahkan tak bisa ia gambarkan.


"Ini seperti dejavu,” pikirnya.


Desi terlihat berjalan menghampiri Riko yang membawa bucket bunga itu, ia pikir itu untuk dirinya. Dengan ekspresi yang begitu senang desi mempercepat langkahnya.


Setibanya di sisi Riko, Desi langsung mengambil bucket bunga di tangan Riko lalu memeluknya.


“Tumben banget kamu bawain aku bunga Rik,” ucap Desi senang.


Bersamaan dengan itu Amira merasa ada yang menarik tangannya lalu membawanya dalam pelukan.


“Harum ini,” pikir Amira dalam hati.


Ia merasa ada belaian tangan yang saat ini sedang mengusap rambut belakangnya.


“Kak Digo,” batin Amira lagi. Dia kenal harum badannya Digo, karena sebelumnya ia pernah di posisi ini, berada dalam pelukan Digo ketika ia terluka oleh Riko.

__ADS_1


Entah kenapa sakit ini begitu menyiksa Amira saat ini, di pelukan Digo pun tak senyaman dahulu karena Digo pasti sedang menganggap ia sebagai perempuan itu, perempuan yang mirip dengan nya.


Tapi ia tak punya pilihan selain menangis dalam pelukan Digo.


“Ini kedua kalinya kamu menangis di pelukanku karena laki-laki itu Mi,” ucap Digo dalam hati sambil membelai rambut Amira.


Riko yang melihat Digo dan Amira merasa terkejut.


“kenapa Kak Digo bisa disini?” batin nya bertanya.


“Sejak kapan Kak Digo di sini?” batinnya lagi.


POV Amira


“Pelukan kedua Kak Digo, namun dengan rasa yang berbeda.


Dulu begitu menenangkan air mataku namun saat ini justru menambah jatuhnya butiran airmata ku.


Aku seperti memeluk bayangan.


POV Digo


“Kedua kalinya memeluk Amira, masih dengan rasa yang sama, dalam tempat dan waktu yang berbeda.


Namun masih dengan alasan sama yang menjadi penyebab kamu menangis, Amira


Begitu sulitnya kah kau membuka hati untuk ku?


POV Riko


Kedua kalinya aku melihat kamu dipeluk lelaki lain selain aku Amira.


Rasanya sungguh sakit sekali.


Apakah sesakit ini menjadi dirimu selama ini?


*****


Riko masih menatap Amira yang masih dalam pelukan Digo, begitu pun dengan Digo.


Digo menatap Riko dengan raut wajah gemuruh, seperti ada kemarahan yang sebentar lagi akan meluap.


Pandangan Riko pun beralih ke Digo yang saat ini sedang menatapnya.


Kini pandangan kedua pria itu pun bertemu, menyiratkan kebencian dari dalam diri mereka masing-masing.


“Sampai kapan lo mau sakitin Amira begini Riko? Ga cukup kah Lo memiliki Desi?”batin Digo dengan amara tertahan masih dengan posisi memeluk Amira.

__ADS_1


__ADS_2