Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 50 Airmata


__ADS_3

Setelah mengatakan itu, Riko pergi dari rumah Amira dengan membawa luka yang begitu menyayat hatinya. Mati-matian ia tadi menahan airmata nya agar tidak tumpah di depan Amira. Mencoba menunjukkan sisa-sisa ketegaran yang ia miliki agar Amira mengira ia baik-baik saja.


Agar gadis itu tidak merasa bersalah padanya karena cintanya telah habis untuk dirinya. Riko menangis sepanjang jalan. Menangisi akhir hubungannya dengan gadis yang selalu dicintainya bahkan sebelum hubungan itu benar-benar terjalin.


Mimpinya untuk membawa Amira untuk masuk ke dalam hidupnya sirna sudah. Bahkan ia sudah menyusun rencana yang begitu rapih untuk merajut masa depan bersama Amira. Ia sudah tak sabar ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Amira lah gadis yang selalu ia cintai.


Tapi sekarang, ia harus merelakan gadis yang menjadi mimpinya itu untuk pergi berbalik arah darinya dan memilih cinta yang lain.


“Aku kira melihatmu dipeluk Digo ketika itu adalah hal yang paling sakit Amira, tapi tenyata melihat semestamu yang saat ini sudah tidak ada lagi aku di dalamnya itu lebih sakit.


Melihat binar matamu menunjukkan cinta namun bukan untuk aku, adalah sakit yang sesungguhnya.


Bersama seluruh rasa cintaku yang terbentuk untukmu, aku merelakan mimpiku. Demi bahagiamu yang tak pernah bisa aku berikan selama kamu bersamaku Amira.


Aku berharap kamu bahagia Amira," lirih Riko di dalam hatinya dengan airmata yang masih menghiasi wajahnya.


Sebaik apapun kamu pamit, perpisahan tetaplah menyakitkan,” batinnya lagi.


*****


Amira masuk ke dalam kamarnya dengan hati sendu. Ia memikirkan perkataan Riko sebelum dia pergi tadi.


Saat ini Riko telah melepaskannya. Ada rasa lega dalam hatinya, karena ia merasa sebagian beban yang ia pikul telah luruh. Namun di sisi lain, Amira merasa sedih karena membayangkan bagaimana perasaan Riko saat ini.


“Maaf kak Riko, aku tak pernah bermaksud menyakitimu. Aku sungguh tak bisa memilih kepada siapa cinta ini akan berlabuh. Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan mencintai laki-laki selain dirimu kak. Namun sekali lagi, aku tak bisa mengatur cinta yang datang kepadaku.


Aku berharap kau tak merasakan patah seperti yang pernah aku rasakan ketika bersamamu kak.


Terima kasih sudah mencintaiku dengan caramu. Meski harus aku lewati dengan airmata tapi aku tau sebesar apa kamu mencintaiku.


Aku mohon jangan patah ya kak. Maafkan aku dan terima kasih,” ucap Amira dalam hatinya. Tak terasa airmata jatuh setelah ia mengucapkan terima kasih itu.


Amira merebahkan dirinya pada tempat tidur kesayangannya dengan airmata masih membasahi wajahnya. Tak bisa ia pungkiri, meskipun cintanya telah berganti, namun kesedihan itu masih terasa di hatinya.

__ADS_1


Kenangan bersama Riko dan rasa cinta yang pernah tertanam untuknya tak bisa begitu saja ia hilangkan. Pernah diperlakukan begitu spesial dan dicintai orang seperti Riko adalah keberuntungan baginya yang tak akan dia lupakan.


********


Pagi ini Amira terbangun dengan harinya yang baru. ia tak lagi terbebani dengan bagaimana perasaan Desi atas cintanya pada Riko. Karena ia dan Riko saat ini telah saling melepaskan.


Amira mencoba menjalani harinya dengan baik, membuat keadaan menjadi sama seperti saat dahulu sebelum mengenal Riko. Walaupun mungin tak semudah itu, tapi ini jauh lebih baik. Daripada ia harus menanti ketidakpastian yang selalu menjeratnya. Belum lagi rasa bersalahnya kepada Desi yang hampir setiap hari menghantuinya.


Amira melangkahkan kakinya ringan, meskipun ada kesedihan di hatinya namun ia merasa lebih lega.


Sementara Amira merasa lega, lain hal nya dengan Riko. Riko masih berdiam diri dalam kamarnya sendirian. Ia masih menikmati patah hatinya dengan duduk di tepian tempat tidur.


Matanya memandang tembok di depannya dengan tatapan nanar.


“Orang bilang titik tertinggi mencintai adalah ketika kita bisa melepas orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain. Tapi Ternyata merelakan tak semudah itu ya.Tetap saja prosesnya sangat sakit,” ucap Riko dengan lirih.


Lalu ia mengambil gitarnya, mencoba bermain gitar dan meluapkan apa yang ia rasakan saat ini.


Melepaskan mu bukan mudah bagiku


apabila kenangan kita


mengusik jiwa dan hati


Kala malam tidurku tak lena mengenangkan mu


Ku coba pertahankan


separuh jiwa ku hilang


ikut terbang bersamamu


Episode cinta hitamku

__ADS_1


Kini berulang kembali


berulang kembali menguasai diriku ini


Oh Tuhan.. ku mau yang terbaik


Terbaik buatku, insan kerdil ini


Oh Tuhan.. noktah kan kehilangan ini


munculkan dia..


dia terakhir buatku…


Riko menyanyikan lagu yang berjudul terakhir itu dengan pilu. Terdengar sangat terluka dan menyayat hati bagi siapapun yang melihat dan mendengarnya saat ini.


Sementara itu di sisi lain, terlihat Nisa sedang menatap fotonya bersama Digo yang terletak di meja sebelah kasurnya. Ia mengusap gambar wajah Digo dengan hati sendu.


“Harus membutuhkan waktu berapa lama lagi untuk ku agar bisa melupakanmu Digo? Rasanya sulit sekali untuk merelakan kenangan ku bersama kamu menghilang dari hidupku,” batinnya dengan meneteskan airmata.


“Selama ini aku telah berusaha keras meyakinkan hatiku, bahwa kamu tak akan bisa aku miliki. Tapi rindu ini terlalu menyiksaku..kau sulit untuk terganti. Apa yang harus aku lakukan Digo?" ucapnya lagi masih dengan menangisi kisah cinta nya yang penuh lara.


Lalu ia merebahkan dirinya di tempat tidur sambil memeluk foto Digo ketika bersamanya.


“Jika semesta mengizinkan aku untuk bertemu denganmu, sekali saja, apakah boleh aku memilikimu sekali lagi? Atau, bolehkah aku mengulang kembali kenangan yang pernah kita lewati, sekali saja?” ujarnya di dalam hati.


Sebenarnya Nisa bisa saja menemui Digo langsung dengan datang ke rumahnya. namun ia masih tak memiliki keberanian jika menemui Digo seorang diri. Ia masih sadar, bahwa ia adalan orang yang pernah menoreh luka di hati Digo. Sedalam apapun penyesalan yang kini ia rasakan, tak akan pernah membawa Digo kembali kepadanya.


Nisa bangkit dari tidurnya lalu meletakkan kembali bingkai foto yang sedari tadi dipeluknya.


"Foto ini akan tetap ada di sini sampai hatiku lelah memikirkan mu Digo. Aku menanti saat-saat itu. Mungkin duniaku akan lebih indah jika kau telah menghilang dari hatiku. Karena aku sadar, kembali padamu adalah hal yang mustahil,” lirihnya.


Nisa mengingat ketika melihat Digo menangis di pinggir jendela kamarnya.

__ADS_1


“Jika airmata yang saat itu kau teteskan adalah airmata cinta untuk seseorang yang saat ini telah menggantikan aku di hatimu, sungguh beruntung sekali wanita itu, mendapatkan kesungguhan cintamu yang begitu besarnya Go. Karena saat bersamaku, kau tak pernah menangis sedalam kamu menangisinya,” ucap Nisa dalam hatinya lalu menyeka sisa airmata yang terus saja berjatuhan. Setelah itu ia berjalan meninggalkan kamarnya.


__ADS_2