Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 59 Temanku


__ADS_3

Amira saat ini telah berada di stasiun. Si mbak yang bekerja di rumahnya pun sudah tiba di sana dengan membawa tas koper miliknya. Terlihat ayah dan Ibu nya ada di sana untuk melepas kepergian Amira.


Dengan pandangan sedih dan mata sedikit bengkak karena habis menangis, Amira berjalan mendekati keluarganya. Dipeluknya Ibu dan ayahnya dengan hati sendu.


“Kamu hati-hati ya sayang, nanti mama akan sering-sering ke sana menjenguk kamu,” ucap mamanya sambil membelai rambut Amira.


“Papa juga akan nengok kamu nanti kalau libur dan akan ambil cuti jika diperlukan ya nak,” ucap ayahnya sambil memegang pundak putri semata wayangnya.


Amira mengangguk lalu menoleh ke arah si mbak. “Mbak aku pamit ya, maaf kalo selama ini banyak sikapku yang kurang berkenan.”


Lalu Amira pun memeluk si mbak dengan penuh kasih, karena ia telah menganggap si mbak seperti kakaknya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara teman-temannya memanggil Amira. Ia pun menoleh ke arah sumber suara.


Amira terkejut melihat Tasya dan Ajeng yang saat ini sedang berlari menghampirinya.


“Kenapa mereka tau? Bukankah aku hanya memberitahu Lena?” batinnya heran.


“Amiiii,” Tasya yang telah tiba di dekat Amira pun langsung memeluknya, disusul Ajeng dan Lena.


Amira yang masih tampak bingung segera membalas pelukan teman-temannya itu. Suasana terasa haru ketika mereka berpelukan.


“Mi, harus banget ya lo pergi?” tanya Tasya yang sudah menangis.


“Kalian kok tau gue mau pergi?” Amira malah bertanya balik.


“Semalem Lena bilang sama kita Mi, lo mau pergi katanya mau pindah kuliah ya?” sahut Ajeng sambil mengusap airmata nya.


Amira menatap Lena, pandangannya menyiratkan penjelasan mengapa teman-temannya yang lain bisa mengetahui kepergiannya.


“Maaf ya Mi, soalnya gue ngerasa kaya ga adil aja buat Tasya dan Ajeng kalo tiba-tiba mereka kehilangan lo tanpa pamit. Gue aja yang udah tau dari lama rasanya masih sedih ngebayangin mau kehilangan lo Mi, apalagi mereka,” ucap Lena lalu kembali meneteskan airmata nya.


“Gue ga bisa bayangin gimana kagetnya Tasya dan Ajeng waktu mereka tau lo tiba-tiba udah ga ada lagi di kampus," imbuhnya tertunduk.


Mendengar itu Amira tersenyum getir lalu memeluk Lena. “Iya Len nggak apa-apa, maafin gue ya gue terlalu egois sama kalian. Maaf karena gue terlalu memikirkan diri gue sendiri tanpa memikirkan kalian.”


Tasya dan Ajeng kembali memeluk Amira. “Gue berharap kita masih bisa bareng Mi,” ucap Tasya.


“Gue pasti kangen dengan kebersamaan kita Mi,” ucap Ajeng dengan tersedu.

__ADS_1


Amira tak kuasa menahan airmata nya. Hanya karena kegagalan cintanya ia pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya. Tapi jika tidak pergi, lukanya tak akan pernah mengering, dan itu pasti akan lebih sulit untuknya.


“Gue pasti akan merindukan kalian, gue sayang sama kalian dan gue harap kalian ga pernah lupa ya kalau punya sahabat kaya gue,” ucap Amira dengan wajah yang dipaksakan tersenyum.


Kemudian mereka melepaskan pelukannya. Lalu Tasya memberikan papper bag yang dibawanya kepada Amira.


“Mi, ini ada kenang-kenangan dari kita, supaya lo selalu inget sama kita,” ucapnya lagi.


Amira menerima papper bag itu lalu mengintip isinya. Sebuah bingkai foto, mungkin foto-foto ketika mereka bersama. Entahlah, Amira belum membukanya.


“Makasih ya kalian baik banget,” ucap Amira menahan airmata nya.


“Mi, janji ya sama kita lo gak akan lupain kita dan harus sering-sering telponan sama kita ya,” ucap Lena lalu memegang tangan Amira.


Amira menganggukkan kepalanya lalu tersenyum kepada teman-temannya. “Iya, makasih udah dateng ya, gue pamit dulu, kereta gue mau jalan.”


Tasya, Lena dan Ajeng pun mengangguk bersamaan. Lalu Amira memeluk sahabatnya itu satu persatu hingga ia meninggalkan mereka.


Amira kembali memeluk ayah dan ibunya lalu pamit pada mereka.


“Jaga diri baik-baik ya nak, semoga kuliahmu disana nanti lancar sampai lulus ya,” ucap Bu Rani.


Ketika akan memasuki pintu kereta, Amira membalikkan badan lalu memandang mereka semua satu persatu. Ia melambaikan tangan kepada meraka lalu melangkah masuk ke dalam kereta.


Suara haru terasa ketika kereta Amira mulai berjalan. Ayah, Ibu dan teman-teman Amira melambaikan tangan sambil mengusap airmata mereka yang sesekali jatuh.


Amira telah pergi.. merelakan cinta yang begitu ia dambakan tanpa diketahui siapapun.


Sementara itu, di sisi lain, Digo yang telah melakukan sesi pemotretan wisuda bersama keluarganya dan Nisa mulai tersadar. Mengapa Nisa bisa berada di acara wisudanya.


Digo ingin bertanya pada Nisa, namun ia urungkan karena masih ada kedua orang tuanya.


“Nisa kamu udah lama ga keliatan?” tanya Ibunya Digo


“Iya tante, Nisa kan kuliah di Singapura jadi jarang kesini, sekarang lagi cuti kuliah aja makanya aku sempetin ke Indonesia," jawab Nisa dengan hangat.


“Mampir juga ke rumah Digo Nis, yuk kan acara wisudanya udah selesai,” ucap Ibunya Digo lagi.


“Hmmm mama sama papa pulang duluan aja ya, Digo masih mau di sini dulu ngobrol sama teman-teman Digo dan Nisa,” ucap Digo menolak Ibunya sopan.

__ADS_1


“Oh ya udah, mama sama papa pulang duluan ya kalo gitu Go. Jangan lupa janji kamu untuk bantu papa di perusahaan loh setelah ini, jangan main terus,” ucap papa nya kemudian pamit kepada Digo dan Nisa.


“Nis, kok kamu bisa disini?” tanya Digo kepada Nisa setelah ayah dan Ibunya pergi.


Nisa memutar bola matanya bingung. “Emm ya bisa, aku tinggal dateng aja kesini,” ucapnya sambil mengangkat bahunya.


“Maksud aku kok kamu tau aku ada di sini?” tanya Digo namun matanya sibuk menyapu seluruh tempat itu, mencari keberadaan Amira.


Nisa memperhatikan Digo dengan bingung. “Kamu nyariin siapa sih Go?” tanya Nisa dengan mengerutkan dahinya.


Digo tak menjawab Nisa, ia masih sibuk mencari sosok Amira dalam keramaian tersebut.


“Go?” panggil Nisa sambil menyentuh lengan Digo, membuat Digo tersadar lalu menoleh ke Nisa.


“Eh iya,” jawabnya kurang fokus karena pikirannya dipenuhi pertanyaan mengapa Amira tak datang.


“Kamu nyari siapa? Erwin sama Riski?” tanya Nisa heran.


“Oh enggak, bukan mereka,” ucap Digo terhenti lalu menoleh ke Nisa.


“Oh iya, kamu kok bisa tau aku wisuda hari ini?” tanya Digo lagi.


“Iya aku dikasih tau temanku Go,” jawabnya


“Teman?” tanya Digo sambil menaikkan alisnya.


“Iya temanku, bahkan dia yang nganter aku kesini, katanya kamu wisuda di sini,” sahut Nisa.


“Teman kamu siapa?” tanya Digo merasa heran kenapa Nisa bisa berteman dengan orang yang mengenalnya.


“Teman aku Mira, dia pacar nya Adik tingkat kamu Go,” jawab Nisa.


“Adik tingkat yang mana Nis? Siapa namanya?”


“Kalo ga salah namanya Riko,” ucap Nisa mengingat-ingat.


“Iya bener namanya Riko, dan temenku itu namanya Mira.”


Seketika Digo menatap lekat Nisa. Mencoba mencerna penjelasan Nisa yang kurang masuk akal menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2