Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 30 Hujan


__ADS_3

Hari ini hujan, Digo bermaksud menjemput Amira karena ia merasa khawatir dengan kejadian kemarin.


Digo kemudian masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjalankan mesinnya.


Begitupun dengan Riko, ia merasa bersalah pada Amira, hari ini ia harus menjemput Amira dan meminta maaf kepada gadis itu.


Di dalam mobil, Riko mengambil ponselnya bermaksud menghubungi Amira untuk mengabarkan bahwa dia akan menjemput Amira.


Tapi hal itu urung dilakukannya, lebih baik langsung datang saja, pikirnya.


Kemudian ia tak sengaja melihat wallpaper ponselnya yaitu wajah Amira yang sedang tersenyum. Diusapnya layar ponsel itu.


“Amira, bisakah kamu bersabar sedikit lagi?”ucap Riko.


“Maaf karena membuatmu menangis lagi dan lagi,” batinnya.


Kemudian Riko segera menjalankan mobilnya agar tak terlambat sampai ke rumah Amira.


Sementara itu, di rumah Amira, terlihat Amira yang ogah-ogahan untuk berangkat kuliah. Dalam keadaan hati yang lagi kacau balau, ditambah hari sedang hujan deras, membuat Amira semakin malas untuk berangkat ke kampus.


Namun ia menepis rasa malas itu,


“Harus semangat Amira, biar cepet lulus dan lo segera pergi dari kampus yang jadi drama percintaan gagal lo itu,” ucap Amira menyemangati diri sendiri sekaligus menghibur hati.


Baru saja Amira keluar dari pintu kamar, ia melihat sebuah mobil datang dan sedang parkir di depan rumahnya.


Amira berjalan ke arah jendela dan mengintip ingn tahu siapa yang datang.


“Itu kan…” belum selesai Amira menyelesaikan kalimatnya, si empunya mobil turun dengan menggunakan payung bermaksud membuka pintu pagar rumah Amira.


Amira yang kebingungan segera masuk lagi ke dalam kamarnya. Baru saja ia berniat mau mencoba meninggalkan kedua lelaki yang selama ini menguras emosinya, kenapa malah muncul salah satunya saat ini?


Tok..tok..tok..


Terdengar pintu diketuk dari luar. Amira hanya berdua saja dengan si mbak di rumah, karena ayah dan ibunya sedang bekerja saat ini.


Merasa tak lekas dibukakan pintu, Digo mencoba mengetuk lagi.


Saat si mbak mau membukakan pintu, malah ditahan oleh Amira.


“Sttt mba, jangan dibukain dulu, nanti biar Ami aja yang buka,” ucap Amira kepada si mbak.


“oh oke deh Mi,” jawab si mbak.


Kemudian si mbak berjalan ke belakang lagi dan tinggallah Amira berdiri mematung di balik pintu.

__ADS_1


“Apa Amira udah berangkat? Tapi ini kayaknya masih kepagian,” ucap Digo pada dirinya sendiri.


Riko yang baru saja tiba di rumah Amira terkejut melihat mobil Digo sudah terparkir cantik di rumah Amira. Merasa ada yang datang, Digo melihat ke arah mobil Riko dan tersenyum tipis.


Riko keluar dari mobilnya dan melihat ke arah Digo. Sesaat pandangan mereka bertemu, sebelum kemudian Riko melanjutkan langkahnya untuk masuk ke teras rumah Amira.


“Masih berani lo datang nemuin Amira Ko,”ucap Digo sinis.


Riko hanya tersenyum menanggapi Digo.


Amira yang sudah terkejut dengan kedatangan Digo ditambah lagi dengan Riko merasa seperti sedang senam jantung.


”Ya Tuhan…. Kenapa malah ada dua-duanya disini?” batin Amira kesal.


“Kak Digo sendiri ngapain ada di sini?” Riko malah balik bertanya.


“Lo ga salah nanya itu ke gue?” sahut Digo merasa kesal.


“Gue sama kaya lo kak, mau jemput Amira,” jawab Riko lalu mengalihkan pandangannya ke pintu.


Mendengar itu Digo ingin sekali rasanya memukul Riko, namun ia masih menahan dirinya karena saat ini sedang ada di rumah Amira.


“Amira akan berangkat sama gue Ko, jadi mendingan lo pergi sekarang juga dari sini,” ucap Digo menahan amarah.


Riko bergeming, ia masih menatap jendela rumah Amira.


Dari dalam rumahnya, Amira masih menyaksikan perdebatan kedua lelaki itu. Ia tidak berniat keluar rumah untuk melerai, ia justru berharap kedua lelaki itu pergi dengan sendirinya.


Tapi bukannya pergi, meraka berdua malah sama-sama menunggu dibukakan pintu oleh Amira.


“Lo sadar ga sih apa yang lo lakuin ini Ko?” tanya Digo geram sekali pada Riko.


“Lo nyakitin 2 perempuan, Desi dan Amira, lo ga mikir kesitu?” tanya Digo lagi.


“Gue mencintai Amira” jawab Riko.


“Cinta aja ga cukup Ko, Amira juga butuh dibahagiain. Batinnya pun perlu diakui, lo tau?” tanya Digo.


“Lalu apa artinya Amira bagi lo kak? Apa lo yakin yang lo cintai itu Amira, bukannya perempuan yang wajahnya kebetulan mirip dengan Amira?” sahut Riko tak mau kalah.


Mendengar itu Digo langsung terkejut, begitupun dengan Amira.


Darimana Riko tahu soal itu padahal yang tau tentang Nisa hanya teman-teman terdekatnya saja.


Riko tahu cerita itu ketika Amira pergi dan tak bisa dihubungi kemarin, ia menelpon Tasya menanyakan kenapa Amira bersikap aneh. Tasya bilang tidak terjadi apa-apa hanya saja tadi Andri cerita katanya Amira mirip mantan pacarnya kak Digo. Setelah itu raut wajah Amira berubah.

__ADS_1


Begitulah kira-kira informasi yang ia dapatkan dari sahabat Amira itu.


Perlahan Amira membuka pintu rumahnya dan mendapati kedua laki-laki itu langsung menatapnya.


Amira,” panggil keduanya terlihat kompak.


Digo merasa harus menjelaskan sesuatu kepada Amira karena ucapan Riko tadi.


Riko pun ingin menjelaskan duduk perkara kejadian kemarin pada Amira.


Tapi Amira menolak, Amira ingin menenangkan hatinya dahulu saat ini. Kedua pria ini sama-sama sudah mengutarakan isi hatinya pada Amira. Namun sayangnya, justru cinta merekalah yang menyakiti Amira. Keadaan malah jadi semakin memburuk untuknya.


“Kak Digo dan Kak Riko, tolong kali ini biarin aku sendiri ya. Aku butuh waktu," ucap Amira hati-hati.


“Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini, dan aku butuh pemikiran yang jernih untuk mengambil langkah, tolong,” pinta Amira dengan wajah memohon.


Amira merasa Lelah sekali, padahal dia ga memiliki hubungan seperti “pacaran” dengan kedua pria ini, tapi kenapa justru menguras habis energinya.


Digo mencoba mengerti dan menganggukkan kepala.


“Kakak hormati keinginan kamu Mi, tapi kalo udah tenang kakak akan datang lagi” ucapnya.


Kemudian dibalas anggukan leh Amira.


Sedangkan Riko, masih ingin menjelaskan kejadian kemarin kepada Amira.


“Kasih kakak kesempatan sebentar ya untuk jelasin dan minta maaf Mi,”ucap Riko.


“Kak Riko, tolong ya,” ucap Amira lagi.


Riko pun menghela nafas dan akhirnya menuruti Amira.


“Satu lagi, aku ga mau kalian berantem ya,” ucap Amira tersenyum penuh kepura-puraan. Pura-pura baik-baik saja lebih tepatnya.


“Oke kakak ga akan berantem sama Riko, demi kamu, tapi kamu inget ya jangan kelamaan minta waktu sendirinya,” sahut Digo.


“Emangnya kenapa kalo lama?” tanya Amira.


“Kakak bakal datang kesini langsung bawa orang tua kakak dan penghulu buat nikahin kamu,” ucap Digo asal tapi menjadi harapan di hatinya.


“Kak Digo,” sahut Amira tak percaya.


Bisa-bisanya situasi seperti ini masih bercanda begitu.


Digo dan Riko akhirnya pergi dengan tangan hampa, tanpa Amira.

__ADS_1


Amira menatap kepergian mereka berdua hingga mereka masuk ke dalam mobil masing-masing.


__ADS_2