Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 60 Pendamping Wisuda


__ADS_3

Digo mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Nisa. Riko? Seingatnya ia hanya memiliki satu adik tingkat bernama Riko. Tapi bukan Mira nama kekasih Riko melainkan Desi. Atau memang ada Riko lain?


“Go? Kok bengong aja?” tanya Nisa sambil menepuk pundak Digo.


Digo tersadar dari lamunannya lalu kembali menatap Nisa. “Riko yang kamu maksud nama panjangnya siapa Nis?”


“Yah aku ga tau kalau nama panjangnya Go, pokoknya dia badannya agak besar dan memakai kacamata. Rapih dan cakep deh orangnya,” jawab Nisa sambil berpikir dengan meletakkan tangan di dagu.


“Kenapa ciri-cirinya seperti Riko Anggara?” batin Digo bingung.


“Kamu salah ya Nis, pacar Riko namanya Desi, bukan Mira,” sahut Digo masih dengan pikiran bingungnya.


“Enggak kok, nama temanku Mira go bukan Desi, atau nama panjangnya ada Desi.. Desi nya mungkin ya,” Nisa tampak kembali berpikir.


Digo membelalakkan matanya, seperti menyadari sesuatu. “Mira yang kamu maksud nama aslinya siapa Nis? Dia pake jilbab atau gak?” tanya Digo mulai tak sabaran.


“Mira ga pake jilbab Go, namanya Amira, ya ampun aku sampe lupa, iya nama temenku Amira, cuma aku sering panggil dia Mira,” jawab Nisa dengan polosnya.


Digo merasa seluruh tubuhnya sangat lemas mendengar ucapan Nisa. Pandangannya berubah nanar menatap jalanan di depannya.


“Amira..selama ini kamu mengenal Nisa?” batin Digo tak percaya.


Digo berjalan gontai mencari tempat untuk dia duduki, lututnya merasa lemas seperti tak mampu menopang tubuhnya saat ini. Hatinya benar-benar tak menentu. Nisa yang bingung pun mengikuti langkah Digo dengan duduk di tepian jalan.


Digo diam menatap trotoar di depannya. Tatapannya kosong entah apa yang dipikirkannya saat ini. Ia seperti orang yang linglung tak menyangka jika selama ini Amira mengenal Nisa.


“Go, kamu kenapa sih?” tanya Nisa yang juga bingung melihat sikap Digo yang mendadak lemas.


“Dimana temen kamu sekarang?” tanya Digo pelan.


“Tadi dia nganter aku sampe pintu itu aja,” jawab Nisa sambil menunjuk ke arah pintu tempatnya berpisah dengan Amira.

__ADS_1


“Dia bilang dia gak bisa nemenin aku, jadi dia pulang duluan," lanjutnya


“Emang kenapa sih Go?” tanya Nisa mulai penasaran.


Digo tak langsung menjawab Nisa. Pikirannya terlalu kalut untuk mencerna kenyataan.


“Kalian udah lama kenal?” tanya Digo pada akhirnya.


“Lumayan, udah beberapa bulan ini kita kenal dan kita sahabatan. Ini buktinya,” ucap Nisa sambil menunjukkan gelang yang dibelinya berpasangan dengan Amira.


“Kamu tau kan Go, kalo aku tuh susah berteman dengan orang, tapi Mira orangnya baik banget bahkan dia selalu ada kalo aku butuh dia," ujarnya sambil mengingat Amira.


Digo menatap kosong pijakan kakinya. “Kenapa Amira gak pernah bilang kalau dia kenal dengan Nisa, bahkan sampai bersahabat dengannya. Amira, sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu membuat semua ini menjadi rumit?”


“Terus, kenapa kamu bisa bilang kalau dia pacar Riko?” tanya Digo lagi, tanpa menoleh ke Nisa, tatapannya masih tertunduk.


“Iya, karena waktu Mira dateng ke rumah aku, yang anter dia pacarnya itu, Riko. Dan saat pulang juga dijemput Riko.”


“Memangnya kalo bukan pacar apalagi? Aku liat Riko saat itu terlihat sayang banget sama Mira. Tapi aku juga agak bingung sih sebenarnya hubungan mereka gimana.”


“Bingung?” Bingung kenapa?” tanya Digo menoleh Nisa.


“Iya Mira sebentar nangis, sebentar bilang gak apa-apa,” jawab Nisa bingung.


“Aku pernah melihat Riko berpelukan dengan perempuan berjilbab di restoran, dan aku menunjukkannya pada Mira. Saat itu ekspresi dia biasa aja, dia bilang ga apa-apa, bahkan dia bilang dia udah putus sama laki-laki itu," lanjut Nisa menceritakan kejadian bersama Amira.


“Putus?”


“Ya, dia bilang gitu dan saat itu dia ga berekspresi yang sedih atau gimana, tapi dua hari lalu waktu aku ke rumahnya, aku liat mata Mira bengkak seperti habis menangis.”


Digo kaget dan melihat Nisa dengan tatapan tak mengerti.

__ADS_1


“Mungkin Mira merindukan Riko Go, aku juga ga tau, dia gak mau cerita banyak sama aku," ujar Nisa pasrah.


“Jadi dia yang kasih tau kamu kalo aku wisuda hari ini?” tanya Digo lagi lalu dijawab anggukan oleh Nisa.


“Memangnya kenapa Go? Ada yang salah? Katanya kamu belum ada pendamping wisuda,” ucap Nisa terhenti sebentar.


“Aku datang bukan untuk jadi pendamping kamu wisuda kok Go, aku cm pengen ketemu sama kamu aja setelah sekian lama kita ga ketemu, aku mau minta maaf untuk semuanya,” ucap Nisa melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus.


Digo menoleh ke arah Nisa, lalu ditatapnya wanita itu lekat. “Aku ga marah sama kamu Nis, semuanya udah berlalu, mungkin memang kita gak berjodoh dan aku gak dendam dengan semua yang terjadi.”


Mendengar itu Nisa tertunduk. “Benar, aku hanya masa lalu buat kamu Go. Hati kamu bukan lagi milik aku,” batin Nisa sendu.


“Jadi kamu gak perlu repot-repot ngerasa bersalah sama aku, atau minta maaf secara formal Nis, aku ga apa-apa.”


“Kita juga bisa berteman kalo kamu mau," ucap Digo lalu tersenyum getir.


“Terima kasih ya Go, tapi boleh kan kalo hari ini aku ikut kamu?” tanya Nisa tampak ragu.


“Ikut kemana maksud kamu?” tanya Digo bingung.


“Ya ini kan acara wisuda kamu, aku mau ikut kamu setelah dari sini. Kamu mau pulang atau kamu mau merayakan dimana bersama teman-teman kamu, aku boleh ikut ya?” tanya Nisa lagi.


Digo terdiam sebentar. Sebenarnya tak masalah jika Nisa ikut bersamanya untuk merayakan wisudanya, toh Nisa juga mengenal teman-temannya. Tapi saat ini Digo ingin tahu keadaan Amira. Digo ingin tahu mengapa Amira tak menepati janji untuk menjadi pendampingnya. Dan malah meminta Nisa untuk menggantikannya.


Digo pamit kepada Nisa sebentar untuk mengangkat telpon, padahal ia bermaksud ingin menelpon Amira.


Digo mencoba memanggil nomor Amira dari ponselnya, namun tak tersambung. Digo mencoba lagi hingga beberapa kali, masih terdengar nada operator menandakan ponsel Amira tidak aktif.


“Amira, kamu ini sebenarnya kemana? Kenapa kamu ga datang di acara kakak? Apa karena kakak marah sama kamu waktu terakhir kita ketemu? Kamu kenapa malah ngirim orang lain untuk gantiin kamu? Kakak tunggu balasan kamu,” Digo mengatakan pesan kepada operator.


“Amira, aku minta kamu jadi pendamping wisuda, kamu malah ngirim Nisa. Segitu tak berarti kah aku di mata kamu? Sampai kamu ga sudi untuk menjadi pendamping wisudaku? Inikah cara kamu membalas aku yang selalu ada buat kamu di saat kamu terluka?” batin Digo sambil menatap kosong pada keramaian yang ada di depannya.

__ADS_1


Hatinya hancur dengan sikap Amira yang ia anggap tak menghargainya.


__ADS_2