Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 41 Pacar


__ADS_3

Amira telah sampai di rumah Nisa. Satpam penjaga di rumah Nisa membukakan mobil Riko untuk masuk sehingga Riko mengantarkan Amira sampai di halaman rumah Nisa.


“Makasi ya kak udah nganter aku,” ucap Amira.


“Sama-sama Mi,” jawab Riko.


Amira segera membuka seatbelt nya lalu bergegas keluar, namun belum sempat membuka pintu Riko memegang sebelah tangan Amira.


“Nanti pulang kakak jemput ya Mi."


“Ga usah kak, takut kakak lama nunggu nya,” tolak Amira tak mau membuat Riko menunggu.


Karena ia tak tahu akan lama atau tidak berada di rumah Nisa.


“Kakak akan tunggu, bila perlu kakak akan tetap di sini,” Riko tetap memaksa.


“Baiklah, nanti menjelang pulang aku kabarin ya,” jawab Amira pada akhirnya.


Amira turun dari mobil Riko dan masuk ke dalam rumah Nisa.


Terlihat Nisa sedang berjalan ke arahnya.


“Miraaaaa, akhirnya kamu sampai juga di rumahku,” sambut Nisa sudah merentangkan tangannya berjalan ke arah Amira hendak memeluknya.


Amira menyambut pelukan Nisa. “Iya kan aku udah janji,” Amira tersenyum.


“Eh kamu dianter siapa tadi? Pacar kamu ya?” tanya Nisa sambil melihat ke arah pintu rumahnya.


“Oh bukan kok hehe,” Amira tertawa kecil.


“Ya udah yuk kita ke kamar aku aja Mi, enak bisa sambil rebahan, nonton film atau mau salto juga bisa," canda Nisa dan mengajak Amira sambil menggandeng tangannya berjalan menuju kamarnya.


Amira masuk ke kamar Nisa dan melihat kamar Nisa didominasi dengan warna pastel, terasa sangat nyaman untuk ditempati. Rak dan lemari juga tersusun rapi dan terlihat estetik.


"Nisa memang pandai sekali menata kamarnya," gumam Amira dalam hatinya.


Nisa memintanya untuk istirahat dahulu di kamarnya karena ia ingin mengambil makanan dan minuman untuk mereka nantinya.


Amira mengiyakan kemudian Nisa pun keluar dari kamarnya.


Pandangan Amira menyapu ke seluruh ruangan, lalu terhenti pada satu objek yang menarik perhatiannya.


Amira melihat sebuah bingkai foto yang terletak di meja sebelah tempat tidur Nisa, di dekat lampu. Amira beranjak dan menghampiri foto itu, diambilnya dengan kedua tangannya lalu dipandanginya foto itu dengan tatapan sendu.


Di foto itu ia melihat Digo sedang merangkul pinggang Nisa sambil tersenyum penuh cinta ke arahnya, sementara Nisa memegang pundak Digo dengan wajah tertunduk tersenyum.


Sekali lagi, ia harus merasakan perihnya cinta yang tidak pada mestinya. Hatinya mulai mengingat rasa sakit yang sama, atau mungkin ini lebih sakit.


Ketika bersama Riko, sakit yang ia rasakan masih bisa diredam oleh orang yang selalu menginginkan kepulangannya, yaitu Digo.


Namun saat ini, rasa sakit itu tak memiliki rumah untuk sekedar singgah. Seseorang yang ia pikir akan menjadi rumah tenyata tidak mampu untuk membuatnya menetap.


“Sekali lagi, aku harus terjatuh dalam pusaran cinta yang mampu menenggelamkan separuhku, atau mungkin seluruh ku,” ucap Amira dalam hatinya dengan mata yang berkaca-kaca.


Nisa yang baru saja datang memperhatikan Amira yang sedang menatap fotonya. Ia merasa heran mengapa Amira menatap foto itu sangat lama? Apakah ada yang salah? Atau Amira kenal?


“Mir,” panggil Nisa sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.

__ADS_1


Amira tersentak lalu buru-buru meletakkan foto itu kembali pada tempatnya, dan menormalkan kembali bahasa tubuhnya.


Kemudian ia memutar tubuhnya dan menghampiri Nisa yang sudah duduk di sofa.


“Wah banyak banget makanannya Nis,” ucap Amira dengan ekspresi yang dibuat sebahagia mungkin.


“Iya dong kan aku nyiapin ini semua buat kamu Mir, karena kamu mau datang,” sahut Nisa lalu meminta Amira mencoba makanannya.


Nisa memperhatikan raut wajah Amira.


“Mir, kamu kenapa? Kok kamu kaya sedih gitu? Kamu ga suka ya di rumah aku?”


Amira yang sedang mengunyah beberapa potong biskuit itu pun langsung terdiam. Ada rasa sesak yang tiba-tiba memasuki hatinya.


Ya Tuhan mati-matian Amira menahan airmata nya seketika luruh mendengar perkataan Nisa.


“Bisakah aku membenci dia saja Tuhan? Kenapa dia begitu lembut dan baik? Membuat aku semakin sakit menahan ini,” batin Amira pilu dengan meneteskan airmata.


“Mir, ya ampun maafin aku kalo kamu malah jadi sedih, nggak apa-apa kalo kamu ga suka di sini Mir, kalo kamu mau pulang,” ucap Nisa sambil memeluk Amira.


Amira membalas pelukan Nisa dengan hati yang pilu.


“Aku gak apa-apa Nis, aku cuma lagi sedih aja karena inget pacarku,” jawab Amira mencari alasan.


“Ya ampun, aku kira kenapa Mir, kamu boleh nangis sepuas kamu di pundak aku dan aku siap mendengarkan segalanya,” jawab Nisa terus mengusap punggung Amira.


“Kamu sahabatku yang terbaik Mir meskipun kita belum lama kenal, tapi aku bersyukur punya kamu di hidup aku yang datar ini."


Amira semakin menangis mendengar itu. Ia mengencangkan pelukannya pada gadis yang mirip dengannya itu.


Amira melepaskan pelukannya, kemudian mengusap sisa airmata nya. “Makasih ya Nis.”


“Ih jangan bilang makasih, kita kan sahabat,” Nisa tersenyum.


"Sekarang cerita, kamu kenapa?" tanya Nisa sambil menatap Amira penuh kekhawatiran.


"Aku..." ucapan Amira terhenti sebentar.


"Aku lagi ada masalah aja sama pacarku Nis," jawab Amira mulai mengarang cerita.


"Masalah apa?"


"Aku merasa dia belum selesai dengan masa lalunya, jadi aku berencana mau meninggalkannya."


"Apa dia bilang masih mencintai masa lalunya?"


Amira menggeleng pelan.


Nisa mendekat pada Amira lalu menggenggam tangannya. "Mir kamu ingat ceritaku?"


Amira menoleh lalu menganggukkan kepalanya.


"Aku juga masa lalu dari laki-laki yang sampai saat ini masih menjadi pemilik hatiku." Nisa tersenyum sebentar lalu melanjutkan kata-katanya.


"Kau tau kenapa setelah berpisah dengan Digo aku masih memilih sendiri?"


Amira menggeleng.

__ADS_1


"Karena bersama dengan seseorang yang masih belum selesai dengan masa lalunya itu sakit Mir, dan aku ga mau pasanganku merasakan itu."


Amira terdiam mencerna perkataan Nisa.


"Ya, Nisa benar, bersama Digo hanya akan membuatnya sakit. Tapi mengapa setiap memikirkan untuk melepasnya malah lebih sakit?"


"Kamu masih sangat mencintainya ya Nis?"


"Ya Mir, bahkan tak terhitung berapa banyak aku melawan diriku menahan rinduku untuk tak menemuinya, dan ini sakit," sahut Nisa lalu tersenyum getir.


"Aku harap kamu tak merasakan yang aku rasakan Mir, karena ini sakit sekali," ucap Nisa sambil membawa tangan Amira menyentuh jantungnya.


Rasanya Amira ingin menangis lagi, tapi Ia harus menahannya. Entahlah Amira merasa ia tak lagi berpegang pada apapun.


*******


Tak terasa sudah hampir setengah hari Amira berada di rumah Nisa, Riko sudah menelponnya untuk menanyakan kepulangannya.


“Nis, aku pulang ya,” ucap Amira setelah menutup telponnya.


“Oh pacar kamu udah mau jemput ya, ya udah Mir lain kali kita main bareng lagi ya,” sahut Nisa lalu beranjak hendak mengantarkan Amira ke depan.


Riko telah tiba di rumah Nisa ketika mereka membuka pintu ruang tamu milik Nisa. Riko keluar dari mobil dan berjalan ke arah dua wanita yang wajahnya hampir serupa itu.


Sesaat Riko terkejut, kemudian ia mengingat cerita masa lalu Digo. “Apakah dia adalah mantan Digo?” gumamnya dalam hati.


Menyadari tatapan Riko yang terlihat begitu terkejut, Amira pun mendekat ke arahnya.


“Kak , kenalin ini Nisa, temen aku,” ucapnya sambil merangkul sebelah tangan Riko.


“Oh iya, kenalin--Riko,” ucap Riko lalu mengulurkan tangannya pada Nisa.


“Nisa."


Nisa memandang Riko dan Amira bergantian. Ia berpikir lelaki yang diceritakan Amira tadi adalah Riko.


"Jaga Amira ya Riko, dia terlalu lembut hatinya," ucapnya lalu tersenyum.


Riko yang bingung dengan perkataan Nisa hanya manggut-manggut saja.


Akhirnya mereka pun pamit pulang.


Di perjalanan Riko melihat Amira melamun.


“Mi, dia mirip kamu,” ucap Riko memecah lamunan Amira sambil menyetir mobilnya.


“iya kak hehe,” Amira tersenyum menanggapi perkataan Riko.


“Dia teman sekolah kamu?” Riko mencari tahu perempuan itu memang teman Amira atau baru dikenalnya.


“Bukan, aku kenal dia belum lama kak, waktu itu dia sakit dan gak sengaja ketemu di rumah sakit ketika aku nemenin mama, jadi kita kenalan di sana deh.”


“Ohh gitu, baiklah,” jawab Riko tanpa memperpanjang lagi.


Dari jawaban Amira, ia menyimpulkan kemungkinan gadis tadi adalah mantan pacar Digo.


"Tapi mengapa Amira terlihat akrab dengannya?"

__ADS_1


__ADS_2