Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 71 Bertemu Nisa


__ADS_3

Pagi-pagi sekali pintu kamar Nisa diketuk oleh seseorang. Dengan rasa malas, Nisa bangun dari tempat tidurnya dan berjalan dalam keadaan mata yang setengah terpejam.


“Siapa sih masih subuh-subuh begini udah ngetok-ngetok,” ucapnya kesal. Karena ia yang masih ngantuk, ia tak mengintip dahulu di lubang pintu hotel dan langsung membuka pintunya.


Saat pintu terbuka, ia mulai mengumpulkan kesadaran dan terkejut melihat sosok yang saat ini berdiri di hadapannya. Matanya terbelalak dengan mulut yang ditutupi oleh tangan. Riko yang sudah rapih karena ingin pergi ke pesta keluarganya pun tidak kalah terkejut.


Nisa yang menggunakan piyama tidur terusan pendek dengan rambut berantakan dan… tidak menggunakan bra.


Riko hanya terdiam terpaku menatap Nisa dari depan pintu. Sementara Nisa yang kesadarannya mulai pulih langsung menutupi area dadanya dengan kedua tangannya.


“Riko ih masih subuh gini ngapain kamu ngetok-ngetok pintu sih?” tanya kesal.


Riko yang ditanya malah bengong, jadi bingung mau ngomong apa dengan Nisa, sangking kagetnya melihat kondisi Nisa yang menyambutnya pagi ini.


“Heh, Rikooooo!!” teriak Nisa membuyarkan lamunan Riko. Lalu Nisa masuk kembali ke kamar dan mengambil handuk yang ada di atas kursi lalu melilitkan ke tubuhnya agar da da nya tak terlihat. Kemudian dia kembali menghampiri Riko.


“Sekarang bilang, kamu mau apa kesini pagi-pagi buta?” tanya Nisa kesal.


“Ngapain kamu pake anduk begitu? Kaya tadi aja lebih enak dilihat,” jawab Riko yang malah menggoda Nisa karena tingkahnya.


“Heh dasar cabul kamu ya,” sahut Nisa sambil melotot.


Riko tertawa renyah. “Kamu jadi mau nemuin Amira?”


“Iya.”


“Jam berapa?”


“Mungkin jam 9 atau 10 pagi,” jawab Nisa sambil memutar bola matanya.


Riko menatap jam di tangannya lalu kembali menatap Nisa. “Jangan terlalu pagi perginya.”


“Kenapa?” tanya Nisa heran.


“Nggak apa-apa, ya udah sana, aku mau pergi ke tempat sepupuku,” ucap Riko lalu menyuruh Nisa masuk kembali.


Nisa melotot, gak habis pikir dengan Riko. “Kamu bangunin aku cuma untuk nanya hal begini?”

__ADS_1


“Iya, memang kenapa?” tanya Riko acuh.


Nisa menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa ya Amira bisa pernah suka sama cowok begini,” batinnya.


“Udah sana masuk lagi, jangan lupa nanti kalo mau pergi pake daleman,” ucap Riko sambil melangkah pergi.


Nisa yang kesal hanya meninju udara setelah kepergian Riko, lalu menutup pintu kamarnya. Ia pun melanjutkan tidurnya, karena masih terlalu pagi untuk mengunjungi Amira.


Sebenarnya tadinya Riko ingin mengajak Nisa untuk ke pesta keluarganya, daripada Nisa sendirian. Setelah pesta baru ia akan mengantar Nisa untuk bertemu dengan Amira. Tapi karena Nisa yang masih berantakan seperti itu lebih baik tidak usah saja.


******


Pagi setelah sarapan, Nisa pergi mengunjungi Kosan Amira. Berbekal alamat kos yang diberikan Bu Rani, Mamanya Amira. Nisa meninggalkan hotel sekitar pukul 10.30, ternyata terlalu pagi juga malas.


Setelah 1 jam mencari, akhirnya ia menemukan juga alamat kosan Amira. Ia berharap Amira saat ini sedang berada dalam kosannya karena ia tak memiliki nomor telpon Amira yang baru.


Nisa melangkah masuk ke dalam bangunan yang menjadi kosan Amira, lalu mengetuk pintu nomor 7 yang Amira tempati. Merasa ada yang mengetuk, Amira yang sedang membaca novel itu pun membukakan pintu. Amira tekejut melihat Nisa saat ini berada di hadapannya.


“Nisa,” ucap Amira pelan dengan ekspresi terkejutnya.


“Mir, kenapa kamu ninggalin aku? Katanya kita sahabat? Kenapa kamu malah pergi menjauh dari aku?” tanya Nisa dengan airmata yang sudah menetes.


Amira terdiam, masih tak menyangka jika Nisa menyusulnya hingga ke kota ini. Bagaimana bisa?


“Nis,” sahut Amira yang sudah terhenti karena dipotong oleh Nisa.


“Kamu pembohong Mira,” ucap Nisa lalu melepaskan pelukannya.


“Kamu bilang, kamu ga kenal Digo, tapi ternyata dia laki-laki yang kamu tangisi selama ini kan?” ucap Nisa dengan sedikit penekanan.


Amira tak menjawab. Pandangannya hanya tertunduk, bingung mau menjawab apa.


“Aku boleh masuk gak? Kayaknya enak ngomong di dalem Mir,” pinta Nisa.


Amira pun mengajak Nisa masuk ke dalam kosannya. Lalu mereka duduk di karpet bulu yang menutupi lantai kamar Amira.


“Mir, kamu mencintai Digo?” tanya Nisa langsung to the poin.

__ADS_1


Amira lagi-lagi tak menjawab. Ia hanya diam dengan pandangan kesana-kemari menghindari kontak mata dengan Nisa.


“Mir,” ucap Nisa lagi memegang punggung tangan Amira sehingga mata Amira akhirnya tertuju padanya.


“Mir, kamu mencintai Digo kan?” tanya Nisa lagi.


Amira tak langsung menjawab, ia hanya meneteskan airmata nya. Melihat itu, Nisa merasa tak perlu lagi mendengar jawaban Amira, karena ekspresi dan airmata Amira adalah jawaban pertanyaannya.


“Mir, kalau kamu mencintai Digo, kenapa jutsru ninggalin dia? Kamu tau gak gimana dia melewati hari setelah kepergian kamu?” ucap Nisa memegang pundak Amira.


Amira menatap Nisa dengan airmata.


“Kemarin aku jenguk Digo di rumah sakit, dia babak belur kaya habis berantem Mir,” ucap nisa yang membuat Amira kaget.


“Kak Digo kenapa Nis? Gimana kondisinya sekarang?” tanya Amira panik.


Nisa tersenyum. “Mungkin dia frustasi karena kehilangan kamu Mir, aku juga ga paham.”


Amira menunduk, merasa bersalah dan sedih dengan kejadian yang menimpa Digo. Rasanya ingin sekali datang mengunjungi laki-laki itu, tapi gak mungkin.


“Mir, aku sama Digo itu udah ga ada hubungan apapun. Aku memang merindukan dia, tapi bukan berarti aku butuh dia menjadi pasangan aku lagi, karena rasanya akan beda aja kalo kita balik lagi. Rasanya udah beda,” jelas Nisa.


“Maafin aku Nis, aku ga bermaksud bohong sama kamu,” ucap Amira pada akhirnya.


“Mir, terkadang dalam mencintai seseorang kita harus bisa menunjukkan apa yang kita rasakan, agar bisa saling memahami. Kalau kita berusaha pergi dari cinta itu, kamu gak cuma nyakitin diri kamu, tapi juga orang yang kamu cintai.”


“Kamu pengen aku bahagia kan? Aku akan bahagia kalo kamu bisa bersatu sama Digo Mir. Kamu bisa menjadi penawar untuk luka yang pernah aku gores di hatinya. Kamu sadar ga, dengan kamu pergi begini kamu udah menyakiti dia?”


"Laki-laki yang kamu sakiti itu adalah seseorang yang dulunya pernah punya luka, dan berharap kamu bisa jadi penyembuhnya. Tapi ternyata kamu malah ngasih luka yang lebih sakit daripada luka lamanya. Coba kamu pikir, gimana dia bisa lewatin itu?”


Amira semakin menangis mendengar perkataan Nisa. Ia merasa begitu egois selama ini karena mengharuskan semua orang mengikuti kehendaknya yang padahal itu menyakiti banyak pihak.


Digo, Nisa, orang tuanya dan juga sahabat-sahabatnya. Ah Amira rasanya ingin sekali berlari dan bertemu mereka semua.


Nisa memeluk Amira, membelai lembut rambut panjangnya. “Mir, kalo kamu mencintai Digo, dan menganggap aku sahabat kamu, aku mohon kamu pulang ya, kasian temen-temen kamu juga, mereka kuliah gak ada kamu. Memangnya kamu gak sayang sama mereka?”


Amira hanya menangis dalam pelukan Nisa. Ia teringat akan orang-orang yang menyayanginya di tanah kelahirannya. Begitu banyak yang menyayanginya, tapi ia malah memilih hidup sendiri di kota orang.

__ADS_1


__ADS_2