
Tak terasa sudah sebulan berlalu setelah terakhir kali Amira mengikuti ujian akhir semester. Hari ini Amira dan teman-temannya janjian bertemu di kampus untuk melihat pengumuman hasil ujian mereka.
Amira yang telah tiba di kampus mencari keberadaan teman-temannya. Setelah lama tidak datang ke kampus, ia merasa kampus saat ini sudah berbeda.
Apalagi di setiap sudut kampus banyak terdapat kenangan ia bersama Riko dan juga Digo. Rasanya baru kemarin ia menjadi mahasiswa baru, kemudian merasakan jatuh cinta. Namun satu tahun kemudian merasakan patah hati dua kali.
Amira berjalan sambil mengingat kenangan kenangan indahnya yang pernah terukir di tempat ini. Karena setelah ini, ia berencana ingin pindah ke luar kota demi meninggalkan semua kenangan indahnya. Terutama Digo, laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang selalu ia rindukan dalam setiap waktunya.
Sesampainya di gedung jurusan, Amira tak melihat keberadaan teman-temannya.
“Pada kemana sih, katanya jam 9 mau ngumpul di kampus,” ucap Amira sambil melihat jam di tangannya.
“Amira,” suara Ajeng terdengar memanggil.
Amira menoleh ke sumber suara, terlihat Ajeng dan Tasya sedang berjalan menghampirinya.
"Udah lama sampe nya Mi?” tanya Tasya saat tiba di dekat Amira.
“Gue baru dateng juga kok,” jawab Amira sambil memeluk kedua sahabatnya itu. Entah kenapa ia jadi mudah baper dan melankolis belakangan ini.
“Si Lena kemana ya? Apa masih di jalan?” tanya Tasya pada teman-temannya setelah mereka melepas pelukannya.
“Paling juga nanti dateng bareng Kak Erwin Tasy," jawab Amira.
"Oh iya juga ya dia kan apa-apa sama Kak Erwin terus sekarang,” sahut Tasya membenarkan ucapan Amira.
“Itu tahu,” sahut Amira lagi lalu tersenyum simpul.
“Eh udah yuk kita liat di papan pengumuman dulu guys," ajak Ajeng sambil menarik tangan salah satu sahabatnya.
Mereka bertiga melihat nilai ujian masing-masing mata kuliah. Ketika Amira melihat namanya tertera lulus di papan tersebut, ia sangat bersyukur karena artinya tidak harus mengulang.
Setelah puas melihat mata kuliah pertama, Tasya dan Ajeng pun bermaksud untuk ke tempat lain. Melihat nilai mata kuliah yang lain.
“Gue mau liat mata kuliah yang lain, yuk kita ke sana," ajak Tasya pada kedua sahabatnya.
“Kalian duluan aja, gue mau masih mau di sini,” sahut Amira yang masih sibuk membaca papan pengumuman nilai itu.
Ajeng menoleh ke arah Tasya seolah meminta persetujuan apakah harus pergi atau menunggu Amira saja di situ. Tasya pun mengedipkan matanya kepada Ajeng menandakan untuk pergi saja dari tempat itu.
__ADS_1
Ajeng melangkah mendekati Tasya dengan heran. “Kok ga nungguin Ami Tasy?”
“Amira mungkin mau liat nilainya Kak Digo Jeng, lagipula tadi gue ga sengaja liat Kak Digo ada di dalem ruangan di sebelah Amira itu, mungkin dia lagi nyiapin keperluan untuk acara wisudanya. Jadi kalo Amira tetep di sana kemungkinan mereka ketemu lebih besar,” jawab Tasya menjelaskan sambil berjalan ke tempat selanjutnya.
“Oh iya ya, kak Digo ikutan wisuda ini ya? dua mingguan lagi kan?” tanya Ajeng.
"Kayaknya sih begitu Jeng," jawab Lena dengan tangan ditempelkan ke dagu.
"Tapi kenapa Lo mau si Ami ketemu Kak Digo Tasy?" tanya Ajeng merasa heran. Karena sepertinya dulu Tasya termasuk orang yang mendukung Amira bersama Riko, kenapa sekarang jadi Digo?
"Ya ga apa-apa, gue mah sebenernya siapa aja juga dukung, asalkan gak nyakitin Amira," jawab Tasya .
"Lagian Amira tuh pengen juga lah kisah cintanya kaya orang normal, kaya kita-kita ini loh. Apalagi Lena tuh, Amira pasti pengen juga punya pacar beneran kaya Lena sama Kak Erwin," Tasya menjelaskan sudut pandangnya.
Ajeng hanya manggut-manggut saja mendengar Lena berbicara panjang lebar.
"Gue juga kasian sih lihat Amira itu ya Tasy, sekalinya jatuh cinta kok kena masalah melulu," ujar Ajeng membayangkan nasib Amira.
"Makanya itu Jeng, capek gak sih Lo kalo jadi Amira?"sahut Tasya.
"Gak mau lah gue ngebayangin jadi dia Tasy, rumit, gue mah orangnya simpel dan biasa-biasa aja, jadi ya kisah gue juga biasa-biasa aja juga," jawab Ajeng cepat.
Mereka melihat ke arah sumber suara, terlihat Lena sedang berjalan menghampiri merek sendiri.
“Kok lo sendirian? Gak sama Kak Erwin?” tanya Ajeng ketika lena telah tiba di depannya.
“Iya tadi bareng, cuma Kak Erwin mampir ke Administrasi fakultas bentar, katanya ada yang mau diurus,” jawab Lena.
“Eh Amira kemana?” tanya Lena saat menyadari Amira tak ada bersama mereka.
“Ami lagi lihat nilai, mungkin dia lihat nilai Kak Digo juga,” jawab Ajeng.
“Lah kok ditinggal?” tanya Lena heran.
“Tadi gue liat di ruangan depan itu ada Kak Digo, sepintas sih gue liatnya, makanya kita tinggal, kali aja mereka bisa ketemu Len,” jawab Tasya mejelaskan.
Lena manggut-manggut. “Iya semoga aja Amira bisa bersatu sama Kak Digo ya Tasy.”
“Iya, gue kasian ngeliatnya, sama kak Riko jadi yang kedua, sama kak Digo ternyata terhalang juga sama masa lalunya Kak Digo.
__ADS_1
“Amira sering banget nangis,” sahut Lena sambil mengingat-ingat beberapa kejadian yang membuat Amira menangis di depan matanya.
“Amira tuh selalu aja mikirin orang lain, tapi nyembunyiin lukanya sendiri," ucap Tasya kemudian.
Sementara Amira yang masih melihat papan pengumuman nilai, mencari nama Digo di dalamnya. Ia melihat nama Digo Lulus dengan nilai B+.
Amira merasa sangat bahagia.
“Akhirnya kak Digo bisa mengikuti wisuda ini, tapi itu artinya perpisahan aku dan Kak Digo semakin dekat,” ucap Amira tanpa sadar.
“Perpisahan apa yang kamu maksud Amira?” tiba-tiba terdengar suara yang sangat Amira kenal di belakangnya
Amira tersentak kaget, lalu membalikkan tubuhnya sehingga ia menghadap ke arah sumber suara. Terlihat laki-laki bermata coklat sedang berdiri menghadapnya dan menatapnya.
“Kak Digo,” ucap Amira pelan, hampir tak terdengar.
Digo menatap Amira dengan raut wajah masih penuh tanda tanya. “Perpisahan apa yang kamu omongin tadi?”
“Perpisahan… ya perpisahan kak,” jawab Amira sambil mencari alasan yang tepat.
“Kalo kakak wisuda kan kakak gak kuliah di sini lagi, jadi kita gak ketemu lagi," jawab Amira mencari alasan.
Digo berjalan mendekat ke arah Amira, menatap lekat matanya, lalu menyelipkan rambut Amira ke belakang telinganya.
“Omong kosong Mi, gak ada kata perpisahan antara kita, kakak tau rumah kamu, kakak tau kuliah kamu dimana, mudah banget untuk kakak mendatangi kamu Amira," ucap Digo sambil menyentuh lembut pipi Amira.
Amira terdiam. Menatap lekat mata berwarna coklat itu. Mata yang selalu ingin ia lihat dan mungkin sebentar lagi tak kan pernah dilihatnya lagi.
“Tuhan.. aku sungguh mencintainya, tapi mengapa rasanya begitu sulit dan.. sakit?” ucap Amira dalam hatinya, menyembunyikan kesedihan yang sedang meliputi hatinya saat ini.
Riko yang sedang berjalan ke arah gedung itu, melihat Digo dan Amira yang sedang saling tatap.
Sungguh, pemandangan yang sangat menyakitkan hati Riko. Mati-matian ia berjuang untuk melupakan cintanya pada Amira, namun saat ini ia harus melihat Amira dan Digo, dan dalam keadaan Digo menyentuh wajah Amira seperti itu.
Melihat Amira saja rasanya sudah sakit, apalagi harus melihat Amira dan Digo bersama seperti ini.
“Mi, andai kamu tau, saat aku bilang kalau aku baik-baik aja, adalah kebohonganku yang pertama kepadamu.. sebenarnya aku hanya berpura-pura merelakan kamu memilih cinta yang kamu mau Amira. Melepaskanmu adalah hal tersulit yang pernah aku lakukan dalam hidupku,” Ucap Riko dalam hatinya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sungguh sakit ini belum sembuh, dan tak tahu kapan akan sembuh. Karena kamu lah wanita pertama yang aku impikan untuk masa depanku Amira,” batinnya lagi.
__ADS_1
Riko tak kuasa menahan airmata nya, ia pun berbalik dan berjalan kembali meninggalkan tempat dimana ia melihat luka yang nyata.