
Digo saat ini berada di ruang rawat rumah sakit, karena lukanya yang lumayan parah. Riko sepertinya benar-benar meluapkan kemarahan dan kesedihan yang dialaminya kepada Digo. Untungnya ketika pingsan, Riski yang memang janjian ingin bertemu Digo, melihat laki-laki itu terkapar tak berdaya di basement, sehingga ia langsung membawa Digo ke rumah sakit.
Saat ini Erwin dan Lena baru saja tiba di rumah sakit tempat Digo dirawat, mereka terkejut melihat kondisi Digo yang babak belur seperti orang yang habis kecelakaan.
“Ki, kok bisa gini sih? Digo nabrak apa?” tanya Erwin ketika sudah berada dalam ruang rawat Digo.
“Dia ga kecelakaan Win, tapi gue juga ga paham sih apa yang tejadi, karena waktu gue dateng dia udah kaya gini,” jawab Riski jujur.
“Kalo berantem, sama siapa Digo berantem sampe bisa begini? Bukannya dia jago bela diri ya?” tanya Erwin bingung.
“Entahlah, gue juga bingung Win,” jawab Riski mengangkat bahu.
Lena yang melihat kondisi Digo itu pun teringat dengan Amira. “Mi, seandainya lo tau, kak Digo sekarang lagi ga berdaya, apa lo akan pulang dan melihat keadaannya?”
Sementara itu Nisa yang saat ini telah kembali ke rumahnya segera mengunci dirinya di dalam kamar. Ia ingin membaca buku yang tadi diberikan Bu Rani kepadanya. Nisa duduk di sofa dengan membawa buku itu bersamanya. Ia mulai membuka dan membaca isi buku tersebut. Buku itu adalah curahan hati Amira yang ternyata sangat mencintai Digo namun memilih pergi karena tak ingin mengecewakan dirinya. (Bisa baca di Bab 43 ya).
Betapa menangisnya Nisa membaca coretan pena Amira. Ia menyesali dirinya mengapa tak pernah menanyakan tentang kehidupan Amira, hingga Amira harus menanggung perasaannya sendirian. Dalam tangisnya, Nisa berjanji akan mengembalikan Amira kepada Digo.
“Buku ini harus aku kasih ke Digo, mungkin selama ini Digo ga pernah tau tentang perasaan Amira yang sebenarnya,” ucapnya kemudian ia mengambil ponselnya lalu menelpon Digo.
Dua kali ia menelpon Digo namun panggilannya tak dijawab. Lalu ia pun menelpon Riski untuk menanyakan keberadaan Digo, mungkin saja Riski tahu.
“Halo kenapa Nis?” sahut Riski to the poin.
“Ki, lo tau ga Digo kemana? Gue telpon ga diangkat, ada hal penting yang mau gue omongin,” jawab Nisa.
“Digo lagi di rumah sakit Nis, sekarang lagi di rawat,” jawab Riski.
“Hah?? Digo kenapa? Sakit apa Ki?” tanya Nisa kaget dan merasa khawatir.
__ADS_1
“Emm.. gue juga bingung, kayaknya kecelakaan atau digebukin orang, ga paham juga gue,” jawab Riski bingung.
“Ya udah lo share lokasi aja ya, gue kesana sekalian mau liat kondisinya,” jawab Nisa cepat lalu langsung memutuskan telponnya.
Nisa bergegas keluar rumah dan memasuki mobilnya, tak lupa buku diary Amira ia bawa dan dimasukkan ke dalam tasnya. Mungkin dengan buku ini juga bisa mempercepat kesembuhan Digo, pikirnya.
Ia mulai menjalankan mobilnya, lalu bermaksud mampir ke toko kue untuk dibawanya menjenguk Digo. Saat membelokkan mobilnya di salah satu persimpangan, tak sengaja matanya menangkap seseorang yang dikenalnya. Ia sedang duduk di pinggir taman yang terdapat di jalan itu.
“Itu kan.. Riko,” ucapnya memperhatikan sosok laki-laki yang sedang duduk merenung itu.
“Tapi kenapa wajahnya kaya habis digebukin gitu ya?” pikir Nisa bingung.
Akhirnya Nisa memutuskan untuk menghampiri Riko terlebih dahulu sebelum membeli kue. Karena Riko sepertinya sedang putus asa apalagi dengan wajah babak belur begitu.
Ia memarkirkan mobilnya di sebuah minimarket dekat tempat itu dan membeli beberapa minuman kaleng. Lalu ia berjalan menghampiri Riko yang masih duduk terdiam sendirian.
Riko yang sedang bersandar di kursi dengan memejamkan matanya itupun segera membuka mata. Ia terkejut melihat sosok Nisa di hadapannya saat ini. Nisa tersenyum menatapnya kemudian duduk di sebelahnya.
Riko segera membenarkan posisi duduknya dan menatap Nisa. “Kamu kok bisa ada di sini?”
“Bisa dong, ini kan jalanan umum, kamu ngapain sendirian di sini? Ini minum dulu,” ucap Nisa dengan memberikan minuman kaleng yang dibelinya.
Riko menerima minuman itu lalu meminumnya dalam diam.
“Tadi siang ketemu aku kamu masih ganteng. Kenapa sekarang wajah kamu kaya gini? Kaya siluman,” ucap Nisa mengejek.
Riko tertawa kecil mendengar Nisa, namun karena ujung bibirnya robek ia jadi meringis sedikit kesakitan. Nisa yang melihat itu reflek langsung mengambil tissue di tas nya lalu menyeka darah di ujung bibir Riko.
Riko merasa terkejut melihat Nisa yang memperlakukannya seperti itu. Ia menatap Nisa dengan pandangan sendu.
__ADS_1
“Andaikan kamu adalah Amira, mungkin aku rela babak belur berkali-kali agar dapat diperlakukan seperti ini. Mengapa wajahmu mirip sekali?” ucap Riko dalam hatinya.
“Kamu ini ya, udah tau wajah babak belur kaya gini bukannya ke klinik dulu untuk ngobatin luka malah duduk-duduk di sini sih,” sewot nisa yang saat ini mengambil alkohol dari tasnya.
“Kamu mau ngapain?” tanya Riko heran melihat nisa sedang meneteskan alkohol ke tissue yang dipegangnya.
“Ya mau bersihin luka kamu lah, kaya gini kok didiemin sih Ko, ini bisa infeksi tau,” ucapnya lagi kemudian memulai ritualnya.
“Ga usah deh aku ga apa-apa,” tolak Riko.
“Terserah kalo kamu ga mau tetep aku paksa sampe mau, jadi mendingan kamu diem aja pasrah,” sahut Nisa mendominasi lalu memaksa menangkup wajah Riko.
“Liat ni udah mulai pada bengkak, darahnya mulai kering, kamu ini ga mikirin kesehatan banget,” omel Nisa sambil membersihkan lukanya.
Riko akhirnya diam saja dan pasrah dengan yang Nisa lakukan. Toh dia membersihkan lukanya sendiri saja malas, apalagi mau ke klinik. jadi biarlah ada yang berbaik hati membantunya.
Sepanjang aktivitas itu, Riko sesekali memperhatikan gadis di hadapannya itu. Nisa benar-benar telaten membersihan luka-luka yang ada di wajahnya tanpa banyak bicara. Ya, walau sesekali ngomel seperti burung beo tapi tak jadi masalah.
“Aku seperti melihat Amira dalam dirinya,” batin Riko memperhatikan Nisa.
Nisa yang sadar kalau dirinya diperhatikan Riko, bukannya salah tingkah malah bertingkah.
“Kenapa kamu liatin aku? Aku cantik ya? Atau kamu belum pernah diobatin sama perempuan kaya aku?” goda Nisa sambil mengedipkan matanya.
Riko yang melihat tingkah Nisa itu pun tersenyum sedikit tertawa. Bisa-bisanya dia berpikir sosok Amira ada dalan diri Nisa. Perempuan yang sedikit bawel dan ceplas-ceplos ini, bahkan belum lama kenal udah berani mengomelinya dan memaksanya begini.
Benar-benar..
Dan begitulah akhirnya Riko menuruti saja Nisa yang sibuk membantu mengobati lukanya. Nisa memang selalu menaruh p3K dalam mobilnya, sehingga ketika ia melihat Riko yang babak belur tadi, dia langsung mengambil betadine dan alkohol dari mobil lalu dimasukkan ke dalam tas nya.
__ADS_1