Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 14 Amiraku


__ADS_3

Hari itu Digo ada di laboratorium Kimia Dasar Bersama Erwin dan Riski. Mereka memang banyak jam kosong karena mereka hanya mengambil mata kuliah yang mengulang saja.


Digo berada di sebuah ruangan kecil dalam lab itu yang hanya disekat saja. Ia sengaja berada di situ agar bisa memperhatikan Riko.


Kebetulan Desi pun sedang bersama Riko karena Desi lagi ada jam kuliah pada hari itu.


Mata Digo tertuju pada Riko dan Desi yang sedang mengobrol 1 meja di ruang praktikum kimia dasar.


“Udah ada perempuan yang dampingin lo, kenapa lo masih mau Amira,” batin Digo dengan wajah yang marah.


Riski dan Erwin yang sedang berada satu ruangan dengan Digo memperhatikan ekspresi wajah yang ditunjukkan Digo, dan melihat arah padang Digo.


Seketika mereka tersadar apa yang membuat Digo berekspresi seperti itu.


Riski dan Erwin pun berpandangan namun tak berkomentar apa-apa. Mereka juga sebenarnya tak habis pikir pada Riko yang bisa menyukai Amira sementara dirinya masih punya kekasih seperti Desi.


Riski dan Erwin sebenarnya gemas ingin menghampiri Riko dan memberi pelajaran. Tapi Digo melarang mereka untuk ribut atau bertengkar karena perempuan.


Digo yang merasa kesal melihat Riko dan juga perasaannya yang merindukan Amira lalu mendengarkan musik yang volumenya bahkan bisa terdengar sampai luar ruang praktikum.


Digo memilih lagu-lagu yang menurutnya sesuai dengan keadaan hatinya saat ini. Lalu diputar lah lagu yang berjudul "Pecinta wanita" yang dulu sempat dipopulerkan oleh Irwansyah dan menurutnya bisa mewakili hatinya.


Digo pun ikut bernyanyi bersama si penyanyi dengan suara yang setengah berteriak saat lirik yang sesuai


"Aku memang pencinta wanita yang lembut seperti dia,


Kini saat ku akhiri semua..


Pencarian dalam hidup


Dan cintaku ternyata


yang kumau hanya Amira"


Begitulah lagu itu diubah oleh Digo, yang sengaja ia lakukan agar Riko mendengarnya.


Riko yang memang berada tidak jauh dari Digo pun mendengar suara Digo yang benyanyi sambil menyebut nama Amira.


Meskipun saat itu ada Desi di sebelahnya, namun ia tetap merasakan perasaan yang gemuruh dalam hatinya.


Ada rasa marah yang tak bisa ia luapkan dan juga rasa takut. Takut akan kehilangan Amira, takut kalau nanti Amira akhirnya jatuh cinta pada Digo.


Karena kalau hal itu sampai terjadi, Riko tak akan bisa merebut Amira dari tangan Digo. Untuk itulah saat ini Riko gencar untuk menanamkan bunga-bunga cinta di hati Amira untuknya, agar Amira hanya akan mencintainya, dan terus bertambah mencintainya di setiap harinya. Sehingga ia tak perlu takut Amira akan pergi darinya.


Tapi sayangnya saingan Riko adalah Digo.

__ADS_1


Digo tak akan mungkin melepaskan apa yang ia klaim sebagai miliknya, yaitu Amira. Walaupun bahkan hubungan itu belum terjalin.


"Aku memang pencinta wanita yang lembut seperti dia,


Kini saat ku akhiri semua..


Pencarian dalam hidup


Dan cintaku ternyata


yang kumau hanya Amira"


Terdengar Digo terus menyenandungkan lagunya itu.


Riko yang merasa tak karuan hatinya karena memikirkan banyak hal tentang Amira dan Digo, akhirnya pergi meninggalkan Desi dan juga ruangan lab itu.


Desi terlihat bingung dengan tingkah kekasihnya itu, dan kemudian mengikuti Riko keluar.


Digo yang melihat adegan itu lalu tersenyum merasa puas.


“Kamu kenapa Rik?” tanya Desi sambil menarik lembut tangan Riko.


Riko hanya diam dan tak melihat ke arah Desi.


Melihat itu Desi langsung menyentuh wajah Riko dan mengarahkan wajah Riko ke wajahnya, ditegakkannya dagu Riko agar melihatnya.


Amira yang memang selalu melihat Gedung lab kesayangannya itu setiap lewat di depannya, tak sengaja melihat adegan itu, langsung menghentikan langkahnya.


Dia memperhatikan Desi yang sedang memegang wajah Riko dengan kedua tangannya itu.


Amira kaget, bahkan ia tak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Kemarin ia merasa sangat jatuh cinta, kemudian dia merasa cintanya berbalas, lalu berbunga bunga, tapi kini tiba-tiba hancur berantakan.


Ajeng yang melihat Amira berhenti itu pun mengikuti arah pandang Amira.


Ajeng tahu, saat ini Amira pasti merasa sedih, ia tak mau banyak bicara. Ia memegang tangan Amira dan Pundak Amira, sambil terus berdiri di samping Amira yang sedang memperhatikan Riko.


Saat itu, terlihat Desi sedang mengusap wajah Riko penuh cinta dengan mata mereka yang saling berpandangan.


Di saat yang sama, Digo dan teman-temannya pun keluar untuk pergi ke kantin, lalu melihat Riko dan Desi serta Amira yang berada tak jauh dari mereka.


Amira merasa tak tahan lagi, ia tak mau menangis tapi rupanya airmata nya sudah tak mampu lagi bertahan di mata nya.


Ia pun berjalan setengah berlari, melepaskan genggaman tangan Ajeng.


Saat ini Amira ingin sekali langit menurunkan hujannya, agar airmata nya menetes bersama hujan, agar orang-orang itu tak melihat ia sedang menangis.

__ADS_1


Tapi sayangnya hari ini justru panas terik, seperti perasaan yang ada dalam hatinya.


Sungguh ini menyakitkan sekali, pikir Amira.


Ajeng segera berlari menyusul Amira sambil berteriak namanya.


“Amira.. tunggu,” teriak Ajeng.


Mendengar itu Riko kaget dan langsung menoleh ke arah suara Ajeng.


“Amira,” batin Riko.


Riko langsung menurunkan tangan Desi yang berada di wajahnya, ingin segera berlari mengejar Amira, namun hal itu tak jadi dilakukannya karena Desi sedang di depannya.


Riko terus mengepalkan tangannya sambil berfikir untuk segera menyusul langkah Amira.


“Kenapa?” tanya Desi lagi sambil melihat sekeliling mencari arah pandang Riko


Riko hanya terdiam, dia bahkan bingung ingin berbicara apa.


Digo dan teman-temannya yang menyaksikan itu, terlihat puas dan segera pergi meninggalkan mereka.


“Aku gapapa Des, aku cuma ngerasa ga enak badan aja. Tiba-tiba kepalaku pusing,” jawab Riko berbohong pada Desi.


“Ya udah kamu pulang aja gih, aku bisa pulang sendiri. Udah ga ada mata kuliah lagI kan?”tanya Desi khawatir.


“Ga ada kok,” jawab Riko cepat.


“Ya udah aku pulang duluan ya Des, kamu gapapa kan aku tinggal?” tanya Riko


“iya gapapa, gih sana pulang,” jawab Desi.


“Hati-hati ya,”tambahnya.


“Iya, makasih ya," jawab Riko sambil berjalan ke dalam lab untuk membereskan barang-barangnya.


Sebenarnya Riko tak tahu harus apa karena pikirannya sangat kacau dipenuhi dengan Amira.


Tapi berada di sisi Desi juga membuatnya semakin tak karuan. Ia tak ingin pulang, ia inginnya mengejar Amira. Tapi hal itu tak mungkin dilakukannya sekarang.


Riko berjalan menuju parkiran motornya dengan hati bimbang.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikirnya


"Amira tadi pergi kemana ya? Aku kejar aja deh takutnya kenapa-kenapa di jalan," ucap Riko dalam hati ketika sudah sampai di motornya.

__ADS_1


“Maaf Amira,” batin Riko sedih.


"jJangan tinggalin kakak Amira, maafin kakak," ucapnya lagi dalam hati.


__ADS_2