Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 6 Aku Menyukainya


__ADS_3

Siang ini matahari bersinar dengan teriknya. Amira dan Leni sedang duduk manis di kantin kampus sambil menunggu kedua sahabatnya membawa makanan pesanan mereka.


Amira yang sedang menyeruput jus jeruk nya untuk melepas dahaga dikagetkan dengan kedatangan Tasya dan Ajeng.


“Eh guys, bentar lagi kita mau praktikum kimia dasar kan?" tanya Tasya.


“Iyess,” jawab Leni.


“Mi, kita hari ini kebagian praktikum apa ya?” tanya Tasya pada Amira, teman 1 kelompoknya itu.


“Kalo ga salah hari ini kita praktikum larutan elektrolit dan non elektrolit,” jawaban Amira pada Tasya.


“Eh itu kan praktikum nya kak Riko Mi,” ucap Ajeng mengingatkan.


“Oh iya ya jeng, kemarin lo praktikum bareng dia kan ya?” jawab Tasya.


“Iya Tasy,”jawab Ajeng singkat.


“Tuh kan kayaknya semesta ga ngizinin gue untuk ngelupain kak Riko deh, gue malah mau ditemuin gini coba,” celetuk Amira pasrah.


Teman-temannya berpandangan, bingung mau jawab dan memberi solusi apa ke Amira.


“Ya udah kita coba jalanin dulu ya Mi praktikumnya, kan ada gue yang satu kelompok sama lo. Tenang tenang,” ucap Tasya mengingatkan.


Amira mengangkat bahu dengan ekspresi lesu namun juga sedikit bahagia di dalam hatinya karena ia akan berhadapan langsung dengan kakak tingkat pujaannya.


Ya, Amira merasa begitu bahagia membayangkan dia akan berhadapan langsung dengan Riko pada saat praktikum nanti. Amira bahkan melupakan tekadnya kemarin yang akan melupakan Riko tanpa mengenal lelaki itu.


Amira menyerah, bahkan sebelum ia mencoba untuk melupakan wajah manis berkacamata Riko.


“Baru jatuh cinta lalu diharuskan untuk lupa, baru mau coba lupain sekarang malah ketemu, sebercanda itukah semesta padaku?” batin Amira sambil mengaduk aduk jus jeruknya menggunakan sedotan dengan tatapan kosong.


“Eh mikirin apa sih Mi? bengong aja. Noh siomay nya dimakan jangan dianggurin.” Celetuk Ajeng.


“Mikirin apalagi selain kak Riko, pasti Ami berbunga bunga deh karena mau ketemu sama pujaannya,” ledek Tasya.


“Ih apaan sih kalian ini,” jawab Amira melengus.


“Eh tapi inget Mi, dia udah punya pacar lohh, lo jangan berharap terlalu jauh yahh,” ucap Lena bernada khawatir.


Amira langsung menoleh ke arah Lena dan menganggukkan kecil tanda persetujuan.


Sebenarnya dalam hati Amira tak berjanji untuk menyetujui Lena, tapi daripada jadi masalah, pikir Amira.


******


Di laboratorium..


Amira masuk dengan semangat ke dalam Laboratorium dan segera duduk di meja praktikum larutan elektrolit dan non elektrolit. Tasya yang memperhatikan tingkah sahabatnya itu geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Katanya mau lupain tapi ini malah yang paling semangat praktikum karena asisten nya kak Riko, ck.ck.ck,” batin Tasya


Tak lama berselang para asisten pun memasuki ruangan dan duduk di meja praktikum nya masing-masing.


Riko melihat satu persatu peserta praktikumnya, dan matanya terhenti pada sosok manis berponi yang diikat kuncir kuda. Riko tersenyum pada amira dan mulai mengabsen satu persatu.


Sebenarnya praktikum ini tak perlu mengabsen peserta satu persatu, karena nanti juga ada penilaian di buku praktikum sesuai dengan nama peserta. Namun Riko ingin tahu nama gadis yang belakangan ini membuatnya memikirkan pertemuan pertamanya Ketika ia ditabrak Amira.


Setelah selesai mengabsen satu persatu, akhirnya Riko tau nama gadis itu, Amira Dania. Sekali lagi dia melontarkan senyuman manisnya karena senang telah mengetahui nama amira. Amira yang melihat kakak tersayangnya itu tersenyum ikut tersenyum bahagia sambil terus menatapnya.


Tasya memperhatikan Amira dan juga Riko sedari tadi seketika berfikir kalau Riko juga sepertinya menyukai sahabatnya itu.


“Gimana mungkin? Masa iya sih?” batin nya.


Riko mulai menjelaskan bagaimana urutan dan prosedur praktikum. Sepanjang Riko menjelaskan, tatapan mata Riko memang hanya tertuju pada Amira sambil sesekali melihat yang lain.


Amira yang memang sudah terpesona dengan Riko dari awal sampai sekarang sudah tidak sadar lagi dengan tatapan Riko padanya. Yang ia tau ia menyukainya dan bisa terus melihatnya sepanjang praktikum ini sudah sangat bahagia buat Amira.


“Tuhan, aku menyukainya,” batin Amira dengan mata berkaca-kaca sangking senangnya dia hari ini bisa melihat dari dekat wajah Riko.


Pemandangan itu tak luput dari mata Tasya.


“Gue yakin kak Riko dari tadi ngeliat ke arah Ami terus.


Apa artinya ini Tuhan? Suka tah sama Ami? Tapi kan dia udah punya pacar?” batin Tasya bingung sendiri.


“Bisa?” Riko bertanya kepada Amira membuat gadis itu kaget sekaligus senang.


“Bisa kak,” jawab Amira dengan senyum manisnya.


“Oke nanti kalau ada apa2 bisa langsung ke kakak ya,” sahut Riko.


“Baik kak,” jawab Amira.


Dan praktikum pun dimulai. Riko setia menunggu pesertanya dan mengajarkan praktikum nya ke pesertanya. Biasanya jika sudah mulai praktikum Riko akan berjalan sebentar di ruangan sambil melepas jenuh dengan melihat peserta praktikum lainnya.


Namun kali ini ia lebih memilih tetap berada di tempatnya. Karena saat ini di depannya ada Amira, gadis yang belakangan ini mengusik pikirannya.


Setelah praktikum selesai, Riko membagikan buku tugas praktik kepada pesertanya. Kemudian dia menatap Amira.


“Kalau nanti ada yang tidak mengerti bisa ditanyakan ke kakak ya,” ucapnya kepada peserta praktikumnya, namun tatapan matanya hanya tertuju ke Amira.


“Kakak ini ngomong ke kita apa ke Amira aja sih? Kok yang diliatin Amira terus. Gimana nanti kalo yang lain sadar coba,” batin Tasya.


“Ini si Ami malah senyum senyum ga jelas diliatin gitu, gimana sih mi, ckckck,” batin Tasya lagi.


Tasya menarik Amira keluar lab setelah semuanya selesai, diikuti dengan tatapan mata Riko yang menatap kepergian Amira.


“Amii, heeii Amiii,” Tasya mengguncang guncang tubuh amira yang masih tersenyum dalam lamunan.

__ADS_1


Sementara Ajeng dan Lena baru sampai di tempat kedua sahabatnya itu.


“Apaan sih Tasy,” jawab Amira sebal


“Ck..ck, masa tadi pas praktikum gue liat si Kak Riko ngeliatin Ami terus loh guys,” adu Tasya kepada Lena dan Ajeng.


“Ah masa sih Tasy?" tanya Ajeng.


“Sumpah dari awal masuk, sampe praktikum, sampe selesai tu Kak Riko ngomong tapi sambil natap si Ami. Gue aja ngerasa kayak cuma ada mereka berdua aja di sana, gue ga keliatan, ih sumpah deh," Jelas Tasya panjang lebar.


“Tatapannya itu loh, bener-bener natap ke Ami, bahkan dia ngejelasin juga ya matanya ke Ami,” tambahnya.


“Lo ngerasa ga sih mi?” tanya Tasya lagi.


“Gue ga tau sih karena gue cuma liatin dia aja tadi, tapi ya gu ngerasa kadang dia lihat gue. Ahh kayaknya gue ga bisa lupain dia. Terlalu cakep dan sempurna buat gue guys,” ucap Ami.


“Gue rasa kak Riko suka deh sama Amira, gue bener-bener liatin tadi gimana sikapnya ke Amira,”ucap Tasya yakin.


“Tapi kan dia udah punya pacar Tasy, gimana ceritanya mau naksir sama Amira?” tanya Ajeng.


“Ya entahlah, mungkin mereka baru putus, atau memang mereka udah ga harmonis dan menuju putus.” Analisis Tasya.


“Gue rasa dia udah putus sama pacarnya, jadi gue bisa ada kesempatan buat deketin dia,” jawab Amira yakin.


Lena yang masih bingung mengiyakan kemungkinan yang Tasya dan Amira ucapkan.


“Mungkin bener putus guys, karena ga mungkin kan punya pacar tapi naksir cewek lain. Ah akhirnya lo bisa mulai deket sama kak Riko mi,” ucap Lena senang.


“Iya apalagi kayaknya ada lampu ijo gitu, Kak Riko kayaknya emang suka juga sama lo Mi,”tambah Tasya menyemangati.


"Iya, gue bahagia banget hari ini guys,” jawab Amira sumringah.


Sementara tak jauh dari tempat Amira dan teman-temannya, terlihat Riski dan Erwin yang sedang duduk dan memperhatikan gadis berambut lurus dan berponi depan itu.


“Itu yang namanya Amira Win,”ucap Riski pada Erwin.


“oh itu yang dikuncir ekor kuda poni depan yah? Cewek yang lagi dikejer Digo?” sahut Erwin.


“Lumayan mirip sama Nisa sih Ki, tapi kalo diperhatiin lama ya ga mirip juga, cuma sekilas aja.


Menurut gue lebih manisan Amira,” tambah Erwin.


“Ya ya, Amira mirip sekilas aja sama Nisa, tapi kalo diperhatiin lama ya ga semirip itu. Dan penampilan mereka juga dilihat-lihat beda banget. Nisa cenderung modis dan seksi, kalo Amira ini sederhana, tapi cantik,” Riski menimpali.


“Iya, menurut gue juga gitu, tapi kok dia ngomongin Riko ya? Si Amira suka sama Riko atau gimana? Riko kan udah punya cewek,” ucap Erwin heran.


“Kalo emang bener gitu, kurang ajar nih si Riko, dia malah ngasih harapan ke Amira padahal dia udah punya pacar, ga bisa dibiarin ini kita harus buat perhitungan,” ucap Riski.


“Gue setuju, kita harus lapor ini ke Digo Ki, cewek incarannya naksir cowok berpacar,”ucap Erwin mantap diikuti dengan anggukan dari Riski. 

__ADS_1


__ADS_2