Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 53 Skripsi


__ADS_3

Digo hari ini telah bersiap-siap ingin berangkat ke kampus. Ia ingin bertemu dosen pembimbingnya untuk menyelesaikan skripsinya. Erwin dan Riski juga saat ini sudah berada di kampus, sedang merevisi skripsi mereka masing-masing.


Digo melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang tidak terlalu padat. Mungkin karena mahasiswa saat ini sedang berlibur sehabis ujian jadi jalanan tidak terlalu ramai.


Walau kuliahnya sudah habis, Digo masih sering ke kampus untuk bimbingan, begitu juga dengan teman-temannya. Tak terkecuali Riko.


Digo telah sampai di Universitas kebanggaannya, lalu memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang terlihat sepi. Tapi ada satu mobil yang dikenalnya, Riko. Ternyata Riko datang ke kampus juga, pikirnya.


Ia lalu mengunci mobil dan berjalan ke jurusannya untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya.


“Hei Go,” sapa Riski yang terlihat sedang membawa es doger di kedua tangannya.


“Eh elo Ki, buat siapa tuh es beli dua gitu?” tanya Digo.


“Ini buat Erwin satu, katanya otaknya panas skripsinya direvisi terus,” ucap Riski sambil tertawa.


Digo pun tertawa, lalu berjalan berdampingan bersama Riski. Sesampainya di gedung yang mereka tuju, terlihat Erwin yang lagi sibuk mengerjakan skripsinya.


“Sibuk bener nih kayaknya,” ucap Digo ketika telah sampai di sebelah Erwin.


“Iya gue mau ngejar wisuda ini Go yang sebentar lagi, 2 bulan lagi ya kalo gak salah,” jawab Erwin dengan mata yang tetap fokus pada layar laptopnya.


“Iya, gue juga,” sahut Digo.


“Eh iya, Pak Ali ada gak di ruangannya?” tanya Digo sambil melihat ke gedung dimana ruangan dosen pembimbingnya itu berada.


“Tadi gue liat ada kok, dia baru selesai bimbingan. Sana gih ntar keburu ngantri lagi,” ucap Riski sambil meminum es dogger yang tadi dibelinya.


“Ckck… ya udah ya, gue masuk dulu," ucap Digo lalu berjalan meninggalkan Erwin dan Riski.


Sementara di sisi lain, Amira sedang menemani Lena membeli baju yang dipesan online. Lena membeli barang online namun karena saat itu ia memilih ambil sendiri barangnya maka ia harus datang sendiri ke tokonya yang kebetulan tidak jauh dari kampusnya.


Ia pun mengajak Amira karena malas jika sendirian pergi, lagipula ia mengajak Amira karena tau kalau Amira sangat menyukai belanja baju.

__ADS_1


“Lo ini, udah banyak aplikasi online yang bisa dianter ke rumah tapi malah milih belanja online yang ambil sendiri gini sih," protes Amira saat sudah tiba di tempat tujuannya.


“Ih lo ini Mi, kan sekalian bisa liat langsung bajunya dan kalo ada yang bagus bisa beli lagi,” jawab Lena sambil menarik tangan Amira masuk.


Dan benar saja, begitu masuk ke dalam, ia melihat begitu banyak baju yang tergantung rapih. Dari luar terlihat rumah biasa, begitu masuk ternyata seperti butik dengan dominasi cat warna pink pastel.


Amira yang memang menyukai baju seperti lupa telah mengomeli Lena. Ia buru-buru masuk melihat-lihat baju yang digantung di sudut ruangan.


Lena yang sudah bisa menebak hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu yang selalu kalap jika ke toko baju.


“Mi, katanya kesel gak mau kesini, tapi malah yang paling seneng pas udah masuk tempatnya, heran,” ujar Lena ketika berhasil menyusul Amira.


“Ya kan gue harus mengapresiasikan diri gue karena udah nganter lo Len, jadi gue harus dapet ni baju yang gue bawa pulang, paling nggak 1 baju lah,” jawabnya sambil sibuk memilih-milih baju.


Lena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa. Lalu ia mengambil ponsel dari tasnya dan menelpon Erwin. Jika Erwin sedang ada di kampus ia bermaksud mampir untuk bertemu Erwin sebentar lalu pulang lagi bersama Amira. Lena sudah rindu dengan Erwin.


Setelah menelpon dan mendapat kabar kalau posisi Erwin ada di kampus, Lena segera menuju kasir untuk mengambil baju yang sudah dibelinya. Lalu ia kembali menemui Amira yang masih sibuk memilih baju.


“Mi, ke kampus dulu mau gak? Gue mau ketemu Kak Erwin sebentar," tanya Lena.


"Ya mau ketemu aja, udah beberapa hari ga ketemu, kangen juga hehehe," jawab Lena sambil nyengir kuda.


“Huu dasar, ya udah abis gue bayar baju kita ke kampus, tapi bentar aja ya, gue males di kampus lama-lama," sahut Amira.


“Oke bos,” jawab Lena sambil mengacungkan jempolnya.


Setelah cukup lama memilih baju, Amira pun mendapatkan yang diinginkannya. Amira segera membayar baju itu menuju kasir kemudian berjalan menghampiri Lena yang sudah menunggunya di depan toko.


“Udah?” tanya Lena ketika Amira telah tiba di sebelahnya.


“Udah, ini," jawab Amira sambil menunjukkan tas belanjaannya.


“Wah beli banyak Mi?” tanya Lena.

__ADS_1


“Enggak, cuma 2 aja kok Len, tapi papper bag nya aja nih kegedean, yang ukurannya sedang pada habis kali,” jawab Amira.


“Ya udah yuk jalan,” ajaknya lagi. Lalu mereka pun meninggalkan toko baju itu.


Sesampainya di kampus, Amira dan Lena segera menuju tempat Erwin berada. Mereka tidak tahu jika Digo saat ini berada di kampus juga.


Ketika melewati gedung praktikum Kimia Dasar, Amira melihatnya sejenak. Mengingat akan cinta pertamanya yang pernah tumbuh di tempat itu bersama Riko. Tanpa Amira tahu bahwa saat ini Riko sedang memperhatikannya dari balik jendela lantai 2 gedung itu.


“Amira..” batin Riko masih terus memperhatikan Amira berjalan hingga menghilang dari pandangannya.


Masih terasa sakit dalam hatinya jika ia melihat langsung wanita yang menjadi impiannya itu. Namun kandas sebelum berkembang.


Amira dan Lena yang telah tiba di depan gedung dimana Erwin sedang mengerjakan skripsi pun segera menghampiri Erwin.


“Hai kak, aku datang," jerit Lena dengan tingkah random nya.


Erwin yang sangat mengenal suara itu pun tersenyum sumringah melihat kekasih tersayangnya mengunjunginya.


“Kamu bawa apa?" tanya Erwin ketika melihat Lena bawa beberapa bungkusan.


“Oh ini tadi aku beli bakso malang di depan, aku beli 2 buat kakak sama Kak Riski deh,” jawabnya.


Tadinya ia ingin makan bersama Erwin, namun karena ada Riski ia tak enak hati jadinya.


“Emang kamu gak mau?” tanya Erwin lalu mengambil bakso yang terbungkus 2 pack itu.


Lena menggeleng. “Aku kan gak lama kak, hehe."


Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara orang yang seperti ngomong sendiri sambil berjalan ke arah mereka.


“Wah gue udah lolos nih gak ada revisi lagi guys kayaknya gue bisa nih ngejar wisuda di…” ucapannya terhenti ketika ia sudah sampai di depan pintu dan terkejut melihat sosok Amira berada di depannya saat ini. Wanita yang selalu ia rindukan.


“Amira” ucap Digo dengan menatap Amira lekat.

__ADS_1


Amira pun terkejut dan menatap mata coklat itu. Ada rasa rindu dalam hatinya yang sungguh sedang mati-matian ia tahan saat ini.


__ADS_2