Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 62 Sekali lagi


__ADS_3

Digo berjalan menuju saung tempat teman-temannya berada. Ia melihat Nisa bersama Erwin dalam satu saung dan Lena bersama Erwin di saung yang lain. Digo tersenyum miris melihatnya.


“Harusnya gue lagi sama Amira saat ini,” ucapnya pelan. Lalu melanjutkan berjalan.


“Hei Go,” panggil Riski ketika melihat Digo berjalan mendekat. Mendengar itu Nisa pun ikut menoleh.


“Kamu darimana Go?” tanya Nisa setelah Digo tiba di saung mereka.


“Tadi liat-liat bentar ke sana,” jawab Digo sambil menunjuk ke arah tempat yang tadi dikunjunginya.


“Oh danau buatan itu ya Go? kalo ga salah ada kaya tempat makan bentuk kapalnya juga kan?” tanya Nisa.


“Iya,” jawab Digo singkat.


Riski merasa ada yang kurang pada acara hari ini. Ia baru tersadar, kenapa ada Nisa?


“Kenapa yang dibawa Digo ke tempat ini adalah Nisa bukan Amira? Bukannya Digo pesan tempat ini untuk bikin acara bareng Amira?” pikir Riski bingung sambil garuk-garuk kepala.


Riski masih memperhatikan Digo dan Nisa yang saat ini bersama. Ingin bertanya, tapi takut salah. Ia benar-benar merasa bingung.


Tidak hanya Riski yang sebenarnya bingung dengan situasi ini. Erwin pun ikut bingung, mengapa ada Nisa di acara wisudanya Digo.


“Sayang, enak makanannya?” tanya Erwin pada Lena yang sedang sibuk makan gurame asam manisnya.


“Iya kak ini enak banget, aku baru kali ini dateng ke restoran ini, hehe,”jawab Lena.


“Oh iya, si Amira kemana Len? Kok dia ga dateng di acara wisudanya Digo?” tanya Erwin yang sedari tadi sudah penasaran.


Mendapat pertanyaan itu dari Erwin membuat Lena salah tingkah. Dia belum menyiapkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini. Lena terlihat kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya dengan mata yang tertunduk ke bawah.


Erwin merasa heran dengan tingkah kekasihnya itu. “Kamu kenapa sayang?”


Lena langsung menoleh ke arah Erwin, merasa terpojok dengan situasi ini. Mau tidak mau dia harus menjawab dengan alasan paling logis, agar Erwin tidak curiga.


“Aku ga apa-apa kok kak,” jawab Lena lalu tersenyum kepada Erwin.


“Oh syukurlah,” sahut Erwin. “Terus Amira kemana? sebenernya dari tadi kakak heran kok yng dateng di wisuda nya Digo malah Nisa, bukan Amira,” lanjutnya.


“Amira tadi katanya ada acara keluarganya kak jadi dia pergi sama keluarganya. Kalo masalah kenapa ada Nisa aku ga tau deh,” jawab Lena mencoba bersikap se-netral mungkin.


Erwin terlihat berfikir.


“Bukannya kata kakak waktu itu Nisa dateng ke rumah kakak mau ketemu sama kak Digo? Ya mungkin sekarang saatnya mereka ketemu kak,” ujar Lena lagi mencoba memprovoksi Erwin.

__ADS_1


“Emm iya juga ya, tapi kasian aja Digo, harusnya dia hari ini bisa menghabiskan waktu sama Amira,” jawab Erwin.


Lena tertegun. Apa keputusan Amira untuk meninggalkan Digo adalah salah?


Tapi Lena sudah berjanji pada Amira, tak akan memberitahu Erwin apalagi Digo tentang kepergiannya.


“Ngomong-ngomong tempat ini terlalu romantis ga sih kak buat acra makan-makan gini?” tanya Lena mengalihkan pembicaraan.


“Iya Digo memang sengaja milih di sini, kan dia mau menghabiskan waktu sama Amira sampe nanti malem. Kalo kamu mau juga kita boleh di sini smpe tutup,” jelas Erwin membuat Lena terpana.


“Jadi ini dipesan untuk Amira?” batinnya.


“Sebenernya apa yang lo lakuin sih Mi,” ucapnya lagi dalam hati, menyayangkan keputusan Amira untuk meninggalkan Digo.


Lena menoleh ke saung Riski, terlihat mereka bertiga sedang makan sambil berbincang. Samar-samar terlihat Nisa yang sedang ngobrol sambil memandang Digo dengan pandangan cinta.


“Memang keliatan banget pandangan Nisa ke Kak Digo masih ada cinta,” batinnya.


“Aku mau lihat-lihat tempat ini ah,” ucap Nisa.


“Yuk Go, Ki,” ajaknya kemudian.


“Iya nanti aku temenin, tapi aku makan dulu yah,” jawab Digo yang saat ini memang sedang makan.


Setelah kepergian Nisa, Riski baru berani menanyakan tentang Amira kepada Digo.


“Go, kok jadinya Nisa yang bareng lo, bukan Amira?” tanya Riski yang dari tadi penasaran.


Digo hanya mengangkat bahu sambil terus makan. Riski yang melihat itu merasa heran, tumben ekspresi Digo acuh ketika ditanya tentang Amira.


“Lo berantem?” tanya Riski bingung.


“Enggak,” jawab Digo.


“Terus?” Riski masih penasaran.


Digo menghentikan makannya lalu menatap Riski. “Dia yang ga mau dateng Ki, mungkin dia masih ga bis berpaling dari Riko.”


Riski terkesiap. Merasa kasihan kepada sahabatnya itu, sudah lama berjuang, ujung-ujungnya tetap sakit hati yang diterimanya.


Sementara Nisa saat ini sedang berjalan mengelilingi resto yang terasa seperti ada di tengah sawah itu. Ia memilih untuk mendatangi kapal yang terletak di danau buatan restoran itu.


Ia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat dekorasi yang seperti hanya sisa-sisanya saja. Ia berjalan semakin dalam dn mendekati meja yang terletak di pojok dekat jendela. Dimana dari meja itu terlihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Pemandangan danau serta taman yang mengitarinya.

__ADS_1


“Ini past sangat cantik jika dilihat malam hari,” batin Nisa.


Lalu ia melihat meja itu polos tanpa alas yang membalutnya. Ia merasa heran mengapa tempat sebagus ini mejanya tak diberi alas yang cantik?


Ia melihat ke sekeliling, matanya tertuju pada tempat sampah yang tak jauh dari meja tersebut. Terlihat seperti ada tumpukan kain dan juga bunga yang masih terlihat rapih.


Ia berjalan mendekati tempat sampah itu, dan melihat beberapa bucket bunga mawar dan juga kain yang menjadi alas meja tergeletak di dalamnya.


“Ini…seperti baru saja dibuang,” pikir Nisa. Lalu ia menatap ruangan itu lagi.


“Memang kelihatan bekas didekor lalu dirusak sih, tapi kenapa? Siapa yang merusaknya? Apakah Digo?” ucapnya sambil berpikir menebak-nebak.


“Apakah Digo bermaksud membuatkan acara untuk pacar barunya? Tapi kenapa dirusak? apa karena pacarnya gak datang? Atau karena mereka putus?” Nisa masih menebak-nebak.


Tapi apapun itu saat ini ia sadar bahwa ia tak berhak untuk ikut campur dalam urusan Digo kecuali Digo yang memintanya.


“Bertemu denganmu dan mendapat maafmu saja sudah cukup untukku, aku tak akan mengotori hubungan yang telah membaik ini dengan hal-hal yang mungkin membuat Digo tak suka,” ucapnya kemudian memutuskan pergi dari tempat itu.


Ia berjalan keluar dari kapal itu dan berjalan kembali mengelilingi tempat itu.


“Nisa,” panggil Digo yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.


“Hei Go,” ucap Nisa sambil melambaikan tangannya.


“Aku cariin ternyata kamu di sini,” ucap Digo ketika sudah tiba di dekat Nisa.


“Iya kan aku bilang tadi mau jalan-jalan, kamu udah selesai makannya?” tanya Nisa.


“Iya udah,” sahutnya sambil berjalan, lalu diikuti oleh Nisa.


“Ngomong-ngomong kamu kenapa cuti Nis?” tanya Digo membuka obrolan.


“Sebenarnya aku lagi jenuh aja Go dan kangen sama Indonesia. jadi aku ambil cuti aja deh, lagian juga mata kuliah aku tinggal dikit lagi, dan nanti aku bisa sambil nyusun skripsi. Jadi ga ketinggalan banget," jelasnya.


Digo manggut-manggut mendengar penjelasan Nisa.


“Kamu sendiri? kenapa kamu baru wisuda? bukannya harusnya kamu wisuda 1 tahun lalu ya?” tanya Nis yang merasa heran.


“Iya, karena kemarin aku sempet males-malesan kuliahnya Nis, pengennya main terus, jad aku ngulang beberapa mata kuliah hehe,” jawab Digo sambil tersenyum merasa malu.


Dan begitulah hari itu, dilewati mereka dengan mengobrol bersama.


Meskipun tidak bisa kembali menjadi yang dicintai Digo, tapi mengulang kenangan mengobrol tanpa jarak dan rasa canggung sekali lagi, sudah cukup, pikir Nisa.

__ADS_1


__ADS_2