
Amira dan Riko sudah sampai di rumah Amira.
“Mampir dulu yuk kak,” ajak Amira pada Riko.
“Boleh?” tanya Riko berharap.
“Ya boleh lah kak, yuk masuk,” jawab Amira sambil mempersilahkan Riko memasuki pagar rumah Amira.
“Duduk dulu disini ya kak, aku ke dalem dulu,” ucap Amira pada Riko sambil mempersilahkan Riko duduk di kursi teras rumahnya.
“Makasih ya mi,” jawab Riko tersenyum.
Amira tersenyum lalu segera masuk ke dalam rumahnya, meletakkan tas kemudian mengganti bajunya dengan baju rumah.
“Kayak mimpi yah, waktu itu gue cuma bisa mandangin dia dengan kekaguman sendiri, bahkan ga kebayang untuk kenalan,”ucap Amira di cermin sambil senyum sendiri.
“Terus beberapa hari lalu gue patah hati dan ngerasa ga mungkin banget Kak Riko bisa kenal sama gue, dia kayak bintang di langit. Tapi sekarang, dia ada di depan rumah gue, ya Tuhan.. bener-bener ga kepikiran bisa kayak gini,” ucap Amira lagi dengan mata berkaca-kaca bahagia.
Amira mengambilkan minum untuk Riko dan membawanya ke teras, tempat Riko duduk.
“Ini kak minumnya,” ucap Amira sambil meletakkan teh di meja sebelah kursi Riko.
“Makasih ya mi,” jawab Riko.
“ya kak, diminum kak,” ucap Amira bahagia.
Riko mengambil gelas yang berisi teh itu kemudian meminumnya.
“Manis ya kayak yang buat,” kata Riko tersenyum menggoda.
“Ih apaan sih kakak ini gombal aja,” sahut Amira malu.
Dan begitulah sore itu mereka melanjutkan obrolan bersama di teras rumah Amira hingga jam 17.30 WIB.
“Mi, udah sore, kakak pulang dulu ya,” pamit Riko pada Amira.
“Iya kak hati-hati ya,”jawab Amira.
“Iya,” jawab Riko sambil berjalan menuju motornya.
Saat sampai di pagar rumah Amira, tiba-tiba Riko berbalik menghadap ke Amira.
“Besok kuliah jam berapa?" tanya Riko lembut.
__ADS_1
Amira berfikir dan mengingat-ingat. “Besok kuliah jam 9 kak,” jawab Amira.
“Kakak jemput ya, kakak anter ke kampus,” tawar Riko.
Amira tersenyum senang mendengar tawaran Riko. Dia sangat bahagia sampai merasa ini seperti mimpi.
“Ga ngerepotin kakak?” tanya Amira.
“Ya enggak dong, masa repot sih,” jawab Riko sambil tertawa kecil.
“Boleh kak,” jawab Amira tersenyum.
"Oke besok jam setengah 9 kakak udah sampe ya,”ucap Riko.
“Oke kak,” jawab Amira dengan senyum sumringah di wajahnya.
Riko pun memakai helmnya dan bersiap pergi kemudian melambaikan tangan pada Amira.
Setelah kepergian Riko, Amira pun membereskan bekas minum Riko tadi dan membawanya ke dapur. Kemudian ia bergegas ke kamarnya.
Amira mengambil ponsel di tas nya dan melihat ada 1 pesan masuk. Ia segera membukanya.
“Sudah sampe rumah?” tanya si pengirim pesan yang tak lain adalah Digo. Amira mengernyitkan dahinya membaca pesan itu.
“Udah,” balas Amira.
Amira merebahkan dirinya di tempat tidur sambil mengenang perjalanannya pulang tadi bersama Riko.
Bagaimana mereka bercerita sepanjang jalan, mengingat kembali kepala Amira yang maju di pundak Riko agar terdengar obrolan mereka, dan saat mereka mengobrol di teras rumahnya.
“Ah kak Riko,” ucap Amira smbil senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba Amira terduduk dan berfikir. Dia teringat akan cerita Tasya yang mengatakan bahwa Riko memiliki pacar.
Apalagi dia ingat kalau dia pernah melihat pacarnya Riko di kantin dan itu pun sedang Bersama dengan Riko.
“Sebenernya Kak Riko itu beneran udah punya pacar apa belum sih?” tanya amira sendiri.
“Tapi kalo udah, kenapa kok kayaknya dia suka sama gue dan deketin gue gini ya? Apa mereka udah putus?” pikir Amira lagi.
“Ah pasti mereka udah putus ga lama setelah gue liat mereka di kantin. Ga mungkin kan kalo Kak Riko masih punya pacar tapi tetep ngedeketin gue. Apalagi gue udah ga pernah liat mereka bareng lagi, bahkan mba itu pun ga pernah gue liat lagi di kampus,” pikir Amira.
Sebenarnya Amira penasaran akan hubungan Riko dengan pacarnya itu. Dan kenapa ia jarang melihat perempuan itu di kampus. Tapi Amira tidak mau menanyakan hal itu kepada Riko.
__ADS_1
Amira menunggu Riko yang menceritakan sendiri kepadanya. Tapi melihat Riko yang sepertinya memang menyukainya, Amira berfikir kalau Riko memang sudah benar-benar sendiri alias jomblo.
Walau kadang hati kecilnya masih suka bertanya-tanya.
Desi bukan tak pernah ke kampus, namun ia sekarang sedang Menyusun skripsi. Ya, Desi memang pintar karena bisa lebih awal Menyusun skripsi dibanding teman-temannya yang lain.
Mata kuliah Desi sudah tidak sebanyak temannya yang lain, makanya ia jarang berada di kampus.
Namun Riko tau kapan Desi ada di kampus dan tidak.
Karena itu Riko pun tahu kapan ia bisa bertemu dengan Amira, mengantarnya pulang, atau bahkan menjemputnya untuk berangkat bersama.
Riko bukannya tak mau menceritakan semuanya ke Amira, tapi Riko takut Amira menjauhinya, karena sekarang ini Amira lah yang menjadi sumber kebahagiaannya.
Ia ingin mengambil hati Amira dan mendapatkannya dulu, baru kemudian akan jujur kepada Amira. Asal Amira tak pergi dari hidupnya dan terus ada di sisinya, dia akan melakukan apa saja.
Riko yang telah sampai di rumahnya merebahkan dirinya di tempat tidur sambil memikirkan Amira.
“Dia bener-bener membuatku jatuh cinta, bahkan dengan kesederhanaan yang dimilikinya. Aku tak bisa melepas dia, tapi sekarang aku bingung gimana aku dan Desi,” batin Riko lirih.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kalo aku putuskan Desi, gimana kalo nanti skripsinya malah terbengkalai, dan dia ga kuliah lagi padahal mata kuliahnya udah tinggal sedikit,” pikir Riko.
“Amira, maafin aku ya, aku bukan mau menyembunyikan semua ini dari kamu. Bukan maksud aku untuk egois, tapi aku bener-bener ga mau kehilangan kamu. Aku sayang kamu Amira, aku mencintai kamu,” ucap Riko sedih pada dirinya sendiri.
Riko terduduk dan mengambil ponselnya, dilihatnya layar hapenya foto Amira yang ia ambil saat Amira praktikum kemarin telah menjadi wallpaper nya.
Diperhatikannya wajah cantik itu.
“Aku janji akan melindungi kamu Amira, bahkan dari rasa sakit yang aku ciptakan ketika nanti kamu tau kenyataan hubungan ku dan Desi,” ucap Riko.
“Jangan tinggalin aku ya, kalau nanti kamu tau semuanya, aku sayang kamu,” ucap Riko berkaca-kaca sambil mencium layar ponselnya.
Riko lalu mengetik sebuah pesan yang akan dia kirimkan ke Amira.
“Terima kasih ya Amira, udah mau pulang sama kakak tadi,” ketik pesan nya pada Amira.
Amira yang menerima chat itu dari Riko langsung membalasnya.
“Sama-sama ya kak, aku yang harusnya makasih karena udah dianterin pulang,” balasan chat dari Amira.
Riko tersenyum melihat balasan chat Amira.
“Besok jangan lupa kakak jemput kamu ya, kita berangkat ke kampus bareng,” ketik Riko lagi.
__ADS_1
“Iya kakak, siaap,” balas Amira.