
Amira,” ucap Digo dengan menatap Amra lekat.
Amira pun terkejut dan menatap mata coklat itu. Ada rasa rindu dalam hatinya yang sungguh sedang mati-matian ia tahan saat ini.
“Kak Digo,” ucapnya pelan.
Digo terdiam mematung di tempatnya. Ia merasa senang wanita yang selama ini ia rindukan ada di depan matanya. Namun ia juga sedih mengingat wanita ini selalu berusaha pergi darinya.
Digo berjalan menghampiri teman-temannya dengan mata tetap memandang Amira.
“Hai Mi," sapa Digo ketika telah sampai di dekat Amira, mencoba bersikap sesantai mungkin.
“Hai kak," jawab Amira sambil tersenyum.
Riski, Erwin dan Lena pun berpandangan. Benar-benar tak habis pikir dengan kedua orang itu. Tinggal jujur saja pada hatinya masing-masing malah dibuat rumit.
Digo kemudian duduk di sebelah Amira. Ia memperhatikan gadis itu, ada guratan sendu dalam wajahnya.
“Kok dateng ke kampus Mi?” tanya Digo heran, karena tak biasanya ia melihat Amira di kampus kalau tidak ada jam kuliah.
“Iya kak tadi aku nemenin Lena beli baju di toko yang ada di belakang kampus, sekalian mampir kesini karena Lena mau ketemu sama Kak Erwin,” jawab Amira panjang lebar.
“Oh gitu,” jawab Digo lalu matanya melihat ke arah teman-temannya yang sedang sibuk mengunyah bakso malang.
“Eh kalian makan apa?” tanya Digo penasaran.
“Ini tadi Lena bawa bakso malang, buat gue sama Riski deh jadinya," ucap Erwin menunjukkan cup berisi bakso malangnya.
“Kak Digo mau?” tanya Amira karena melihat Digo sepertinya juga menginginkan bakso itu.
Digo menoleh ke Amira. ”Memangnya ada lagi?” tanya nya dengan polos.
“Aku bawa satu cup kok kak,” ucap Amira sambil menunjukkan bakso malang di tangannya.
“Nggak usah deh Mi, itu kan kamu beli buat kamu,” jawab Digo.
“Nggak apa-apa tadi aku beli ini karena nemenin Lena beli aja, jadi akui ikutan beli juga,” jawab Amira kemudian membuka plastik yang membungkus cup bakso itu.
Digo memperhatikan Amira yang saat ini sibuk membuka tutup cup bakso lalu menyerahkan cup itu kepada Digo.
Amira tersenyum lalu mengambil sebelah tangan Digo untuk menerima cup bakso nya. “Ini ambil, gak baik nolak rezeki.”
__ADS_1
Digo tertegun. Amira yang dikenalnya hatinya begitu dingin kini bersikap lembut dan hangat kepadanya.
“Pasti beruntung sekali ya Mi laki-laki yang bisa mendapatkan cinta kamu,” batin Digo
Amira yang sadar Digo sedang memperhatikannya pun bingung. “Kak?” panggilnya
Digo pun segera tersadar dari lamunannya lalu segera menerima cup berisi bakso itu dari tangan Amira.
Erwin, Riski dan Lena pun seketika merasa seperti obat nyamuk di sana. Riski yang baru selesai menghabiskan baksonya segera beranjak dari tempatnya.
“Gue mau beli minum dulu ya, ada yang mau nitip ga?” tanya nya.
“Beli aja sebanyak orang di sini Ki," jawab Digo lalu memasukkan bakso ke dalam mulutnya.
“Oke," jawab Riski lalu pergi meninggalkan mereka.
Sementara Lena dan Erwin saling berpandangan, bingung mau alasan pergi kemana.
“Gue ke tukang es doger ya Go, mau beliin Lena es,” pamitnya mencari alasan.
“Eh aku ikut kak,” ucap Lena mengikuti langkah Erwin.
“Mereka kok aneh ya,” gumam Amira yang masih terdengar di telinga Digo.
“Mereka kayaknya memang mau ngasih waktu buat kita berdua aja Mi,” jawab Digo lalu kembali memakan baksonya.
“Padahal rame-rame di sini juga gak apa-apa,” sahut Amira.
“Mungkin karena kakak mencintai kamu," jawab Digo lalu menatap Amira.
Amira yang tiba-tiba mendapat serangan tatapan mata itu langsung dibuat salah tingkah.
“Apa kamu mencintai kakak juga Mi?” tanya Digo masih dengan tatapan menusuknya ke Amira.
Amira terdiam, jika bisa ia juga ingin mengatakan bahwa ia mencintai Digo. Namun ada hati yang harus ia jaga saat ini yaitu Nisa.
Melihat Amira yang salah tingkah tanpa menjawabnya Digo tersenyum.
“Nggak apa-apa kalo kamu belum mau jujur Mi,” ucap Digo lalu memalingkan wajahnya ke baksonya lagi.
“Bakso nya kok pedes banget ya Mi," ucap Digo.
__ADS_1
“Pedes ya? Maaf ya kak tadi aku belinya sesuai selera aku, aku suka banget sama pedes, kakak ga suka ya? Maaf ya,” ucap Amura panik lalu mengeluarkan botol mineral yang tadi sempat dibelinya.
“Ini aku ada minum air putih kak, tapi cuma satu dan sayangnya udah aku minum tadi," ucap Amira dengan menunjukkan botol air mineral yang dibawanya.
Digo mengambil botol itu dan meminum nya tanpa banyak berpikir.
“Emang kenapa kalo bekas kamu Mi?” tanya Digo ketika selesai meneguk air di dalam botol.
“Ya takutnya kakak gak mau, kan itu bekasan orang,” jawab Amira.
“Kalo bekasan orang kakak gak mau, tapi kalo bekas kamu ya gak ada alasan kakak nolak, mau banget malah,” sahut Digo dengan senyum nakalnya.
Amira memalingkan wajahnya dari Digo. benar-benar dibuat salah tingkah deh.
“Mi,” Digo menghentikan aktivitas mengunyah nya lalu menatap Amira.
Amira masih menatap ke arah lain tanpa menoleh ke arah Digo. Kemudian Digo memegang tangan Amira dan menyentuh dagu gadis itu membawanya agar wajah Amira bisa berhadapan dengannya.
Digo menatap wajah cantik Amira yang selalu ada dalam pikirannya itu dengan cinta.
“Kamu masih jadi satu-satunya hal yang kakak semogakan Mi. Kenapa kamu selalu pendam semuanya sendiri?” tanya Digo dengan tetap menatap Amira.
“Pendam sendiri gimana maksudnya kak?” tanya Amira dengan hati berdebar karena saat ini wajah Digo begitu dekat dengannya.
“Waktu kamu liat Nisa di rumah Erwin, kamu kenapa nangis?” tanya Digo lagi.
Amira tersentak, tak menyangka Digo kan menanyakan hal ini. “Aku.. aku..” Amira seperti tidak tahu harus menjawab apa.
Amira menatap mata coklat Digo begitu lekat. Menumbuhkan keinginan dalam dirinya untuk memeluk Digo. Rasanya ia ingin memiliki Digo untuk dirinya sendiri saja, tapi apakah pantas?
Amira menyentuh tangan Digo yang sedang ada di dagunya, kemudian membawanya ke dalam genggamannya. Amira melakukan itu tanpa menyadarinya, karena ia terbawa oleh perasaan hatinya yang tak bisa dipungkiri bahwa ia mencintai Digo.
Cukup lama Amira menatap dan menggenggam tangan Digo sampai akhirnya ia tersadar dengan apa yang dilakukannya.
Amira segera melepas tangan Digo kemudian beranjak dari duduknya.
“Maaf kak kayaknya aku udah kesorean di sini, aku harus pulang,” ucap Amira lalu buru-buru pergi meninggalkan Digo.
Digo yang masih terkejut dengan apa yang Amira lakukan padanya tdi pun tak sempat menahan kepergian Amira.
“Kamu mencintaiku Amira, kenapa kamu terus bersembunyi?”ucap Digo dalam hatinya sambil menatap kepergian Amira hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
__ADS_1