
Tasya yang masih sibuk memilih tas kesukaannya memanggil Amira untuk menanyakan pendapat mengenai tas tersebut.
Namun ketika melihat ke sampingnya dia tidak menemukan Amira.
Tasya berjalan mencari Amira lalu menemukan Amira sedang berdiri terdiam di dekat rak tas.
“Heh Mi, lo ngapain sih?” tanya Tasya sambil menepuk pundak Amira.
Amira seketika tersadar dari lamunannya
“Ih ngagetin aja sih lo Tasy,” jawab Amira kesal.
“Ya lagian, lo ngapain deh berdiri bengong disini, ntar kesambet loh,” ucap Tasya heran.
“Tadi disini gue ketemu cewek wajahnya mirip sama gue Tasy,” sahut Amira.
“Mirip gimana? Sama kaya lo maksudnya? Kembar?” tanya Tasya heran.
“Ya kembar sih enggak, cuma pas sekilas tadi mirip sama gue, cuma beda di bentuk hidung sama mata, dia mancung gue pesek hehe,” jawab Amira sambil tertawa
“Oh iya sama rambut dia sebahu tapi bergelombang,” jawab Amira lagi.
“Mungkin cuma kebetulan aja Mi, kan di dunia ini memang ada manusia yang wajahnya mirip walau bukan sedarah,”jelas Tasya.
“Hmm iya sih, cuma masih heran aja bisa liat sendiri hahaha,” jawab Amira sekena nya.
“Ya udah yuk, kesitu, gue mau nunjukin tas yang mau gue beli mi, menurut lo bagus apa enggak, yuk,” ajak Tasya sambil menarik tangan Amira agar beranjak ke tempat yang ia tuju.
********
Keesokan harinya Amira dan keluarganya sedang sarapan di ruang makan rumahnya, Amira yang merupakan anak tunggal sering merasa kesepian karena tidak memiliki saudara yang tinggal serumah.
Tiba-tiba Amira teringat perempuan yang tak sengaja bertemu dengannya di mall kemarin.
“Mah, mungkin ga ya kalo aku tuh punya kembaran?" tanya Amira tiba-tiba.
Mama dan papa Amira langsung saling pandang, merasa heran mengapa putri mereka tiba-tiba menanyakan hal itu.
“Tumben, kenapa kamu tiba-tiba berfikir begitu?” tanya sang mama.
“Ya nggak apa-apa mah, kemarin tuh aku ketemu sama perempuan, tapi dia mirip sama aku, cuma beda di mata sama hidung nya sih,” jawab Amira mulai bercerita.
“Masa sih? Di mana?” tanya papanya kemudian.
“Kemarin waktu aku ke mall sama Tasya, pas kita lagi di toko tas, dia lagi pilih tas juga,”jawab Amira.
__ADS_1
Mama nya tersenyum mendengarkan cerita anak tercintanya itu.
“Ada yang mirip dengan kita itu biasa sayang, namanya juga manusia, pasti dari sekian ribu orang ada 1 yang mirip dengan kita, itu pun pasti ga mirip banget,” jelas sang mama.
“Iya, misalnya mirip di hidung saja, atau mirip wajahnya tapi berbeda di bentuk mata, dan sebagainya,” papa menambahkan.
“Iya ya mah,” jawab Amira kemudian.
“Ya udah lanjutin makan nya gih,” lanjut mama.
Selesai sarapan, Amira segera masuk ke kamarnya. Baru saja Amira merebahkan badannya di tempat tidur, pintu kamarnya diketuk dari luar.
“Amira, mama boleh masuk?” tanya sang Ibu dari luar kamar.
“Boleh mah, masuk aja ga Ami kunci kok,” jawab Amira sambil rebahan di tempat tidurnya.
Bu Rani membuka pintu kamar Amira secara perlahan.
“Ami lagi apa sayang?” tanya mamanya lembut, sambil berjalan ke kasur Amira.
Amira bangkit dari tidurnya dan duduk di kasur menunggu Bu Rani menghampirinya.
“Baru aja rebahan mah, paling mau baca novel aja nanti, kenapa mah?” tanya Amira.
“Hehe mama ni bisa aja, kirain ada apa mah,” jawab Amira.
Mamanya membelai rambut Amira dengan penuh sayang.
“Mama udah lama ga denger kamu cerita mi, biasanya kamu cerita temen-temen kamu, tapi ini udah jarang,” ucap mama nya lagi.
“Oh nggak apa-apa kok mah, hemm aku cerita apa ya?” jawab Amira sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya seperti orang berfikir
“Atau mau cerita tentang pacar mungkin?” tanya mama nya.
“Ah mama, aku ga punya pacar kok mah,” jawab Amira malu-malu.
“Masa sih? Anak mama yang cantik ini ga ada yang deketin di kampus?” tanya mama lagi.
Amira terdiam, Ia teringat akan kisahnya bersama Riko yang sampai saat ini tidak jelas. Tidak lepas namun juga tidak memiliki hubungan lebih lanjut.
“Mah,” panggil Amira tiba-tiba.
“Iya, kenapa sayang?” tanya mama nya.
“Kalo ada yang deketin kita tapi dia udah punya pacar gimana menurut mama?” tanya Amira ragu-ragu.
__ADS_1
“Hmmm menurut mama lebih baik laki-laki seperti itu dilepas saja, sampai dia memberi kejelasan statusnya,” jawab mama.
“Tapi hubungan dia dengan pacarnya memang udah ga sejalan mah, dia udah pernah mutusin pacarnya tapi saat itu pacarnya depresi, makanya dia bertahan sampe sekarang, padahal hatinya sakit,” jelas Amira dengan wajah sendu.
“Tapi dunia lebih mengetahui hubungan dia dan pacarnya kan daripada cintanya pada kamu?” tanya mama nya kembali.
Amira terdiam. Sesaat tersadar, bahwa sedalam dan sebesar apapun Riko mencintainya, dunia tetap menutup mata dan telinganya, karena yang mereka tahu adalah Desi sebagai kekasih Riko. Terlepas dari bagaimana hubungan mereka, Desi tetaplah pemenangnya di mata dunia.
Sedangkan Amira? Ia seperti bayangan yang akan menghilang dalam kegelapan.
“Menunggu itu bukan hal yang menyenangkan Amira, meyakinkan dunia bahwa kamu adalah satu-satunya bagi dia yang mencintaimu namun masih dimiliki orang lain adalah mustahil,” ucap mama sambil tersenyum.
Amira menatap mama nya kemudian tersenyum.
“Makasih ya mah,” jawab Amira sambil mencium pipi ibunya tersayang.
“Ya udah, mama sama papa nanti mau keluar ya, mau kondangan. Kamu mau ikut?”tanya mama.
“Enggak mah, mama sama papa aja yang berangkat, Ami dirumah aja,” jawab Amira.
“oke kalau gitu, mama ke ruang keluarga dulu ya nemenin papa,” ucap mama kemudian dan dibalas anggukan oleh Amira.
Bu Rani segera keluar dari kamar Amira, meninggalkan Amira sendiri dalam diam.
Di dalam kamar, dia terus memikirkan ucapan mama nya.
Amira membuka ponsel nya, terlihat ada 4 pesan masuk.
Dibukanya pesan itu, tertulis nama Digo ganteng. Amira memang belum mengganti kontak Digo sejak lelaki itu menyimpan nomornya sendiri di ponsel Amira.
“Amira” pesan pertama yang Amira baca.
“Kakak mau tanya” pesan kedua dari Digo.
“Amira Dania & Handigo Prasetyo,” Pesan ketiga.
“Menurut kamu cocok ga kedua nama di atas?” pesan ke empat dari lelaki tampan bernama Digo.
“Kak Digo apaan sih spam wa kayagini, ga jelas banget,” ucap Amira heran.
Amira meletakkan ponsel nya di atas tempat tidur tanpa berniat membalasnya, lalu merebahkan dirinya.
“Belum selesai mikirin kak Riko, muncul 1 lagi orang yang menguras pikiran,” batin Amira.
“Andai aku bisa memilih cinta ini untuk jatuh kepada siapa, aku pasti akan memilih jatuh cinta pada Kak Digo, setidaknya aku tak akan merasakan perasaan yang tak berarah ini” lirih Amira dalam hatinya.
__ADS_1