
Setelah membantu Riko mengobati lukanya, Nisa pun pergi mengunjungi Digo. Sebelum berpisah dengan Riko, Nisa menyuruh Riko untuk segera pulang ke rumahnya dengan sedikit memaksa. Sehingga mau tak mau Riko langsung pulang ke rumahnya karena Nisa benar-benar menunggunya hingga masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu.
Digo yang baru saja siuman merasa kaget melihat ada Riski dan Erwin serta Lena yang mengelilinginya. Dan.. apa ini? kenapa ada infus segala? Digo mencoba mengingat-ingat.
Erwin dan Riski yang sedari tadi sudah mengkhawatirkan Digo, langsung menyerangnya dengan pertanyaan.
“Lo kenapa sih Go? Tiduran di basement gitu?” tanya Riski.
“Lo berantem apa kecelakaan Go? Kok lo sampe bonyok banget? Lo kan jago bela diri masa iya sampe begini babak belurnya," ucap Erwin yang tak kalah sewot.
Digo yang baru saja membuka mata masih merasa pusing, bukannya membaik malah tambah sakit kepala Karena ulah teman-temannya itu.
“Go? Lo digebukin orang?” tanya Riski lagi.
“Ckckck temen macam apa kalian ini, baru juga bangun udah diserang pertanyaan, bikin kepala sakit aja,” jawab Digo kesal.
“Oh iya sampe lupa… gimana kondisi lo sekarang?” tanya Riski lagi yang baru menyadari jika Digo masih dalam kondisi lemah.
“Basi lo,” jawab Digo malas.
"Ya udah, ya udah, nih mending lo makan ini aja dulu, gue tadi beli ini sma Lena,” ucap Erwin sambil memberikan sebuah apel merah utuh.
“Kak ih dipotong dulu itu,” cegah Lena namun tak dihiraukan Erwin karena ingin cepat-cepat memberikan pada Digo.
Digo yang tadinya merasa terharu dengan Erwin mendadak jadi lebih kesal. “Lo mau bikin gue kelolotan makan apel utuh kaya gitu? Rahang gue aja ga bisa mangap lebar gimana makannya?”
“Tuh kan apa aku bilang,” ucap Lena sambil menepuk lengan Erwin.
“Aku potongin ya kak,” ucap Lena pada Digo kemudian mengambil apel dari tangan Erwin.
“Bener-bener kalian ini, bukannya bikin gue sembuh malah bikin gue kesel,” ucap Digo dengan wajah masamnya.
“Ya sorry Go, kita kan maksudnya mengkhawatirkan lo ini juga,” sahut Riski dan Erwin.
Tak lama kemudian muncullah Nisa dari balik pintu, membuat semua yang ada di ruangan menoleh.
“Hai,” sapa Nisa ketika memasuki ruang rawat Digo.
“Hai Nis,” ucap Riski dan Erwin hampir bersamaan.
“Nisa, tau darimana aku ada di sini?” tanya Digo merasa heran.
__ADS_1
“Oh tadi kebetulan aku nelpon Riski, nanyain kamu, terus kata Riski kamu ada di sini. Jadi aku dateng ke sini deh. Ini aku bawain tiramisu kesukaan kamu,” ucap nisa lalu memberikan kue yang tadi dibelinya.
“Aku bawa banyak kue, jadi kalian yang mau juga ambil aja ya di sini,” ucapnya lagi sambil mengangkat papper bag yang ada di tangannya. Kemudian ia meletakkan papper bag itu di dekat meja. Ia pun melihat Lena baru selesai memotong apel.
“Buat Digo Len?” tanya Nisa ramah.
“Iya mbak,” jawab Lena tersenyum lalu memberikan potongan itu pada Erwin.
“Nih apelnya udah jadi, lo bisa makan sendiri kan?” tanya Erwin.
“Bisa, naikin dulu kepala kasur gue biar gue bisa agak duduk,” pinta Digo agar temannya membuat tempat tidur Digo bagian kepalanya agak naik.
“Ini tiramisu nya Go, makan sekalian,” ucap Nisa menaruh kue di dekat tangan Digo.
“Makasih ya,” ucap Digo tersenyum. Nisa hanya mengangguk lalu duduk di tepi ranjang Digo.
Digo memakan apel dan tiramisu itu secara bergantian, sepertinya dia lapar, karena peristiwa baku hantam tadi adalah waktu makan siangnya.
“Kamu kenapa nyari aku Nis?” tanya Digo disela makannya.
“Hemm.. ada yang mau aku bicarakan sama kamu tadinya, tapi karena kamu kondisinya begini, nanti aja deh,” jawabnya ragu untuk mengutarakan maksud hatinya.
“Kayaknya penting banget Nis?” tanya Riski.
“Tentang apa?” tanya Digo mulai penasaran.
“Amira,” jawab Nisa tegas. Membuat Digo langsung menghentikan makannya.
Begitupun yang lainnya saling berpandangan.
Digo langsung terdiam, mengingat ucapan Riko saat menghajarnya tadi.
“Kamu kenal dia kan Go?” tanya Nisa menatap serius Digo.
Digo masih terdiam.
“Waktu aku bilang dia temen aku, sebenarnya kamu tau dia kan? Makanya kenapa kamu waktu itu menanyakan tentangnya terus ke aku,” ucap Nisa perlahan.
Kemudian ia mengambil buku yang ia bawa dalam tasnya.
“Maaf ya Go, karena aku kamu harus kehilangan perempuan yang kamu cintai sekali lagi,” ucap Nisa dengan memegang buku diary milik Amira.
__ADS_1
“Aku ga akan berlama-lama di sini Go, aku cuma mau kasih ini ke kamu, aku harap kamu cepet sembuh ya,” ucap Nisa menyerahkan buku diary Amira.
“Apa ini?” tanya Digo bingung setelah menerima buku itu.
“Itu buku diary Amira Go, kamu akan tau kalau kamu membacanya, betapa Amira sangat mencintai kamu Digo. Tapi dia menyembunyikan itu dengan sangat baik sehingga kamu atau pun aku ga menyadarinya sedikitpun,” ucapnya lalu berdiri dari duduknya.
“Mungkin selanjutnya Lena akan membantu kamu untuk mengungkap semuanya,” ucap Nisa lagi sambil melirik Lena.
Lena tersentak, merasa seperti terdakwa yang sedang melindungi buronan kabur.
“Aku permisi ya semuanya,” pamit Nisa lalu meninggalkan ruangan Digo.
Nisa menutup pintu ruang rawat Digo dengan perasaan sedih namun juga lega. Sedih karena mulai saat ini ia harus membuang semua kenangannya bersama Digo, namun lega karena ia telah melakukan hal yang benar dan menempatkan perasaan yang sempat berserakan pada tempatnya.
Ia berjalan dengan mengusap setitik airmata yang sempat jatuh di sudut matanya sambil tersenyum.
“Amira, aku pernah bilang aku ingin berguna untuk kamu, dan inilah saatnya aku melakukan sesuatu yang berguna untuk kamu,” batinnya dan berjalan menjauh dari ruang rawat Digo.
Sementara di dalam ruangan Digo, Lena saat ini benar-benar menjadi terdakwa yang siap di interogasi.
“Jadi Lena, coba bilang sebenarnya apa yang kamu tahu,” pinta Digo dengan menatap lena.
“Sayang, tolong ceritain semuanya ya, kamu bahkan ga cerita sama kakak, kasian kan Digo sampe gila begini,” ucap Erwin menyebalkan.
Digo sedikit kesal dengan ucapan Erwin, namun saat ini ia ingin fokus pada Lena. Fokus mendengarkan semua yang akan disampaikan Lena.
“Emmm.. Amira pergi karena dia mau lupain Kak Digo. Dia mau Kak Digo bisa kembali sama Mbak Nisa, makanya Amira memilih pergi. Dia juga udah ajuin cuti kuliah nya dan saat ini formnya di aku. Dia mau mulai kuliah di tempat baru dan ninggalin kuliahnya yang di sini,” jelas Lena agak takut dengan tatapan Digo yang mengintimidasi.
“Apa?? Jadi Amira pindah kota maksud kamu?” tanya Digo memastikan.
Lena mengangguk. “Dia bilang dia mau memulai kuliah dan hidupnya dari awal, mau lupain semua yang menyakitkan di kota ini.”
Digo terdiam. Tiba-tiba ia teringat pertemuan terakhirnya dengan Amira Ketika itu Amira menyebut kata perpisahan. Mungkinkah ini yang dimaksud Amira saat itu?
“Terus kamu udah serahin form cutinya Amira?” tanya Digo lagi.
“Belum kak, aku ragu mau serahin nya, karena dalam hati aku, aku masih berharap Amira kembali kuliah di sini lagi,” jawab Lena sedih.
“Amira, kenapa ngambil keputusan besar ini sendiri sih, selalu aja nyembunyiin perasaannya,” ucap Digo gemas.
“Gue akan bawa dia balik lagi,” ujar Digo mantap.
__ADS_1
Membuat Lena menatapnya dengan harapan.