Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 70 Bertemu


__ADS_3

Erwin, Lena dan Riski sudah pulang karena Digo harus istirahat yang cukup. Ayah dan Ibunya Digo akan datang setelah makan malam, karena Digo yang memintanya sendiri. Digo ingin menghabiskan waktunya sendiri di tempat tidurnya, merenungi Amira. Ia ingin lebih banyak waktu untuk mengingat Amira dengan dirinya sendiri.


Bagaimana caranya Amira menahan rasa cintanya hingga tak ada seorang pun yang menyadarinya?


Digo tak habis pikir, bagaimana Amira melewati harinya dengan membawa rasa sakit bahkan hingga ke luar kota. Tiba-tiba Digo teringat buku yang tadi dibawa Nisa. Digo mengambil buku yang tadi ia letakkan di bawah bantalnya. Ia membuka lembaran buku yang tertulis nama Amira.


Lalu ia baca kalimat demi kalimat yang ditulis oleh wanita yang dicintainya itu (Ada di Bab 43 ya, silahkan dibaca kembali).


Digo merasa dadanya begitu sesak, seketika mengingat saat ia datang ke rumah Amira menyatakan perasaannya namun ditolak oleh Amira. Ternyata saat itu Amira sedang menahan rasa sakit dan rindunya, sendirian.


Amira, terbuat dari apa sebenarnya hati kamu? Kenapa semua rasa sakit bisa kamu pikul sendiri? Apa kamu ga capek menyakiti diri kamu sendiri, dan juga aku? yang seharusnya kamu bahagiakan?


Digo menutup buku itu, lalu meletakkannya di sebelah tangannya. Rasanya ingin sekali menemui Amira, lalu memeluknya. Berbagi rasa sakit yang mungkin saat in sedang Amira lawan sendirian.


******


Malam itu, Nisa memutuskan untuk menemui Amira. Ia ingin pergi ke Yogyakarta besok pagi, kebetulan dia mendapat tiket kereta jam 10.00 WIB. Nisa telah selesai membereskan barang dan baju yang dibawanya, ia bawa seperlunya saja, karena ia pikir tak akan lama di Yogyakarta.


Pagi harinya Nisa izin ke orang tuanya untuk pergi berlibur ke Yogyakarta. Nisa pun berangkat dari stasiun Gambir menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta.


Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, Nisa langsung menuju hotel yang sudah di reserve olehnya untuk makan dan beristirahat. Malam harinya, ia makan malam di restoran hotel, namun matanya tak sengaja melihat sosok Riko. Dia mengucek matanya sekali lagi, takutnya salah melihat.


"Tapi ini bener kok, lah bukannya dia di Jakarta kemarin?" pikirnya


Riko sudah berangkat ke Yogyakarta kemarin malam, setelah bertemu dengan Nisa. Sepupunya yang tinggal di Yogyakarta akan menikah, sehingga dia pun harus ikut kondangan bersama ayah dan ibunya. Biar cepat menyusul, begitu alasan Ibunya.


Karena itu kemarin saat wajahnya babak belur, ia malas untuk pulang ke rumah, lebih tepatnya malas ikut pergi ke Yogyakarta. Masa kondangan dengan wajah tak karuan begitu? Tapi apa boleh buat, karna nasibnya yang sungguh malang bertemu dengan perempuan bawel seperti Nisa, akhirnya mau tak mau ia pulang juga dan tetap pergi ke Yogyakarta.

__ADS_1


Riko yang saat ini juga sedang duduk sendiri di restoran hotel tempatnya menginap, yang ternyata sama dengan Nisa itu pun menangkap sosok Nisa.


Ayah dan Ibu Riko sedang pergi ke gedung untuk melihat gladi resik acara pernikahan keponakannya itu, karena memang ada semacam ritual adat yang akan di lakukan.


“Nisa,” ucapnya pelan dengan tatapan bengong nya.


“Ya ampun, kenapa dimana-mana ada dia sih? Kaya hantu aja,” gerutunya kesal.


Nisa yang justru malah sumringah karena merasa mendapat teman di tempat itu langsung tersenyum cerah, lalu melambai-lambaikan tangannya.


Riko merasa tersentak, agak malu. Ia meletakkan tangannya di dahi lalu menengok ke kanan dan ke kiri, takut ada yang lihat tingkah Nisa yang menurutnya agak memalukan.


Nisa yang tak peduli dengan tingkahnya pun menghampiri Riko dengan membawa piring dan gelasnya.


“Ya ampun, bisa ketemu kamu disini juga Rik, aku ga nyangka banget deh,” ucapnya senang ketika telah duduk di kursi depan Riko.


Riko melengos lalu tersenyum penuh kepura-puraan. “Kamu ngapain di sini?”


“Sakit? Sakit apaan?” tanya Riko heran.


“Kemarin kan wajah kamu masih biru-biru bekas berantem Rik, tapi sekarang kayanya udah mendingan ya, ga begitu keliatan,” shut Nisa sambil meneliti wajah Riko.


“Ya, udah lumayan,” jawabnya lalu memakan makanannya.


“Untunglah karena aku kamu bisa balik ganteng lagi,” sahut Nisa riang, membuat Riko yang sedang makan jadi terbatuk-batuk karena tersedak.


“Pelan-pelan dong kalo makan itu Rik,” ucap Nisa lalu mengambil air dalam gelasnya yang berisi air putih.

__ADS_1


“Ini minumnya air putih jangan minum jus,” ucapnya lagi memerintah.


Riko mengambil gelas yang disodorkan Nisa lalu meminumnya.


Terus kamu ngapain ke sini?” tanya Nisa setelah Riko selesai minum.


“Aku mau ada acara pesta, sepupuku nikah, jadi aku diminta datang. Kalo kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Riko kembali masih sambil makan makanannya.


“Aku kesini mau ketemu Amira,” jawab Nisa singkat, lalu mulai makan makanannya.


Riko terdiam, meletakkan sendok dan garpu yang sedari tadi menyibukkannya. Lalu ia menatap Nisa yang kini sedang sibuk makan. “Amira ada di sini?”


“Iya, dia pergi ninggalin Jakarta karena dia mau aku kembali lagi sama Digo, padahal aku sama Digo udah ga mungkin kembali. Digo udah ga mencintai aku lagi,” jawabnya lalu menghentikan makannya.


Riko sedikit terkejut, ternyata Amira yang ia lepaskan untuk Digo malah memilih melepaskan kebahagiaannya dan mengasingkan diri begini.


“Kamu pasti heran ya, kenapa jadi ribet gini ceritanya?” tanya Nisa menatap Riko.


Riko hanya diam memandang Nisa.


“Selama ini tuh aku selalu cerita ke Amira kalau aku kangen dengan Digo, ya memang aku masih mencintainya dalam hatiku, dan selalu merindukannya, tapi aku ga pernah bilang ke Mira kalau aku ingin kembali menjadi pasangannya,” jelas Nisa.


“Tapi mungkin Mira kasihan sama aku, jadi dia malah mau buat aku balikan sama Digo,” imbuhnya.


“Hanya karena kamu merindukan seseorang, bukan berarti kamu membutuhkan dia untuk kembali dalam hidup kamu,” ucap Riko tiba-tiba dengan pandangan kosong.


Nisa menatap Riko. Ah ya, Riko benar, mungkin ini juga yang dirasakannya saat ini pada Amira. Setelah berpisah, adanya rasa sakit, rasa sedih, dan juga rasa rindu karena kehilangan adalah hal yang biasa. Tapi bukan berarti kita membutuhkan orang itu untuk kembali kan? Karena hubungan yang terjalin kembali setelah adanya perpisahan itu seperti mengulang cerita dalam buku yang sama.

__ADS_1


Sebaik apapun perpisahan itu pamit, tetap ada luka dan kesedihan yang ditinggalkannya.


Riko dan Nisa terdiam dengan pikirannya masing-masing. Mengingat apa yang telah ditinggalkan oleh kenangan yang mereka rindukan. Mulai mengikhlaskan adalah cara terbaik untuk melenyapkan luka perpisahan dan mengawali kisah baru yang mungkin akan datang di hidup kita nantinya. Tanpa membawa luka dan kesedihan masa lalu.


__ADS_2