
Amira berjalan menghampiri Riko yang sudah menunggunya dari tadi. Riko membukakan pintu mobil untuk Amira. Setelah Amira masuk, Riko kemudian segera menuju tempatnya. Tak lama mobil pun segera melaju dari tempat itu.
“Mau pulang atau makan dulu Mi?” tanya Riko.
“Emm.. Kebetulan tadi aku udah makan kak, kalo pulang aja gimana?” Amira balik bertanya.
“Oke deh, kakak anter kamu pulang,” jawab Riko sambil tersenyum memandang Amira.
Amira pun balas tersenyum ke arah Riko lalu kembali menghadap ke depan.
Riko memperhatikan Amira, belakangan ini Amira banyak terdiam dan sudah jarang sekali menghabiskan waktu bersamanya.
“Mi,” panggil Riko.
Amira menoleh. “Iya kak?”
“Emmm.. Rencananya kakak lusa mau ketemu Desi,” sahut Riko lalu melihat ekspresi Amira.
Amira terdiam tapi tapi tak merasakan apapun. Tak ada lagi perasaan sakit ataupun sedih ketika mendengar nama Desi. Bahkan saat Riko mengatakan ingin bertemu Desi, sungguh tak ada kesedihan yang Amira rasakan.
Riko menatap Amira yang tengah terdiam seperti memikirkan sesuatu. Ekspresi Amira tak lagi menunjukkan rasa sedih ataupun kecewa, seperti yang biasa ia lihat ketika sesuatu berhubungan dengan Desi.
Tiba-tiba Riko merasakan sakit pada hatinya. Apakah ini adalah saatnya ia harus merelakan kehilangan Amira? Wanita yang menjadi satu-satunya cintanya.
“Mi, lusa kakak berencana memutuskan hubungan kakak dengan Desi. Hal yang seharusnya udah lama kakak lakukan,” ucap Riko lagi.
“Kakak mau mutusin mba Desi? Apa kakak udah yakin?” tanya Amira memastikan keputusan Riko.
Riko menganggukkan kepala. “Iy, kakak udah yakin banget Mi, udah lama kan kakak mau melakukan ini. Cuma kemarin-kemarin Desi lagi nyusun skripsi dan mau sidang, makanya jadi kakak undur.”
Pandangan Amira menunduk, menatap pada kedua kakinya. "Aku ga merasa cemburu lagi atau bahkan sakit ketika kak Riko mengatakan ini. Aku bahkan ingin mencegah Riko untuk memutusskn Desi,” batin Amira.
“Kakak ga sayang mutusin hubungan yang udah lama terjalin?”
Riko menoleh ke arah Amira. Ada debaran hati yang tak lagi terasa bahagia, namun debaran keresahan. Amira benar-benar telah berubah.
Wajahnya tak lagi menunjukkan kesedihan tetapi saat ini wajahnya justru menunjukkan kekhawatiran.
__ADS_1
"Apakah ia khawatir jika aku memutuskan hubunganku dengan Desi?” gumam Riko dalam hatinya.
“Kamu udah tau alasannya Amira,” jawab Riko dengan pandangan lurus ke depan.
Amira terdiam, ia sungguh bingung harus menjawab apa. Ia tak mau membuat sedih Riko, tapi apa yang harus dia lakukan?
“Kamu kenapa Mi?” tanya Riko
“Emm.. Nggak apa-apa kak, aku cuma takut kakak nyesel aja kalo putus dengan mba Desi," jawab Amira sambil memainkan jari pada tasnya.
“Kakak ga akan nyesel Mi,” jawab Riko lalu menoleh sebentar ke arah Amira.
“Tenang aja Mi, kakak putus dengan Desi bukan karena kamu kok. Tapi memang udah jadi rencana kakak dari awal.
Kakak kan nunggu Desi selesai dulu, nah sekarang waktunya, walaupun agak mundur dari yang pernah kakak rencanakan kemarin,” ucap Riko menjelaskan agar Amira tak merasa bersalah atas keputusannya.
“Hmm iya kak," jawab Amira menganggukkan kepalanya.
Riko kembali menyetir dengan pikiran tak menentu. Riko menatap Amira yang sedang melihat jendela mobilnya.
“Mi, apakah saat ini semestamu adalah Digo? Apakah di hatimu sudah tidak ada lagi namaku?
Riko terus berfikir dengan hati sendu.
Tiba-tiba Riko teringat perkataannya pada Amira dahulu, jika tidak ada lagi dirinya dalam hati Amira, maka ia akan melepaskan Amira dengan keikhlasan.
Jika saat ini memang dirinya sudah tak ada di hati Amira lagi, sanggupkah ia melepaskan gadis itu pergi dari sisinya dan memilih cinta yang dia mau?
Seketika Riko menyesal telah mengucapkan itu. Mungkin saat itu ia terlalu yakin bahwa Amira tak akan berpaling dari dirinya. Ia terlalu meninggi karena menganggap semesta Amira hanyalah dirinya.
Ia lupa bawa Digo saat itu sedang memperjuangkan apa yang dia sebut miliknya. Sementara Riko terlalu percaya diri, hanya karena Amira memilihnya bukan berarti Amira tak bisa berpaling.
Rasa kecewa dan penantian yang melelahkan bisa jadi membuatnya berbalik arah dan pergi meninggalkannya.
Riko menyesal mengapa ia selalu mengulur waktu untuk memutuskan hubungannya dengan Desi. Kini gadis yang menjadi impiannya selama ini harus bisa ia relakan.
Tak terasa perjalanan telah mengantarkan mereka di depan rumah Amira. setelah mematikan mesin mobilnya Riko terlihat diam dengan pandangan menunduk.
__ADS_1
Amira yang baru saja ingin pamit merasa heran dengan sikap Riko. “Kak Riko kenapa?”
Riko menegakkan kepalanya lalu menatap Amira.
Amira pun juga berbalik menatap Riko.
“Mi, apakah kamu mencintai Digo?” tanya Riko dengan tatapan yang terlihat begitu sedih.
Amira tersentak, ia tak menyangka akan ditanya seperti ini oleh Riko. Apa yang harus Amira jawab?
Sementara Riko masih diam menatap Amira seolah menunggu jawaban Amira.
“Enggak kak, aku ga punya perasaan apa-apa sama Kak Digo,” jawab Amira menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum kepada Riko. Senyum yang diusahakan terlihat senetral mungkin.
“Terus kenapa kamu beberapa kali pergi bersamanya? Bahkan ketika ujian kemarin kalian pulang bersama kan?”
Amira kaget, mengapa Riko bisa tau itu?
“Kakak lihat kamu pulang sama Kak Digo Mi, dan saat ujian itu juga kakak lihat kalo Digo itu serius sama kamu.”
“Enggak kok, kita ga ada hubungan apa-apa kak, itu juga kak Digo nya aja yang ganjen sama aku, lagi pula kalo pulang bareng biasanya kita kebetulan karena bisa bareng aja,” kilah Amira mencoba menolak kenyataan.
Riko mendekatkan pandangannya kepada Amira, ia menatap lekat mata hitam milik gadisnya itu.
“Tapi kok yang kakak lihat ga begitu ya Mi?” sahutnya dengan hati yang sendu.
“M-m–maksudnya?” tanya Amira gugup.
“Yang kakak lihat kamu mencoba menutupi perasaan kamu untuk Kak Digo Mi. Kakak lihat ada cinta di mata kamu untuk dia tapi kamu selalu coba untuk menepis itu semua. Apa kakak benar?” tanya Riko sambil menatap Amira dalam-dalam.
Sungguh dalam hatinya ia ingin Amira menjawab tidak.
Amira hanya terdiam. Pandangannya tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
Baiklah, hanya dengan melihat Amira seperti itu saja sudah membuat hati Riko hancur sehancur-hancurnya. Kali ini ia harus benar-benar merelakan Amira.
“Maafin aku Kak Riko,” jawab Amira dengan kepala yang masih tertunduk dan sekuat tenaga menahan airmata nya.
__ADS_1
Mendengar itu Riko memajukan badannya mendekat ke arah Amira. Ia melepaskan seatbelt yang masih terpasang pada Amira lalu memegang dagu Amira agar bisa melihatnya.
“Kakak ga apa-apa Mi, mungkin dari awal memang cinta ini salah, tapi kakak ga menyesal mencintai kamu. Mulai hari ini kakak melepaskan kamu Mi. Kamu boleh mengejar apa yang menjadi cinta kamu," ucap Riko lalu mencium punggung tangan Amira, mungkin untuk terakhir kalinya.