
Selesai acara pisah sambut, perkuliahan libur 1 Minggu. Namun anak kampus yang memang sangat rajin atau mencintai kampusnya sepertinya tidak rela jika perkuliahan libur.
Terbukti, kampus Gunajaya tempat Amira kuliah terutama Fakultas FMipa masih terlihat beberapa mahasiswa yang berlalu lalang.
Termasuk Riko dan Tofan yang terlihat sedang duduk sambil menikmati kopi di depan gedung laboratorium Kimia Dasar.
"Desi udah tinggal ujian skripsi fan," Riko tiba-tiba membuka obrolan.
"Oh ya? Kapan sidang nya?" tanya Tofan antusias
"Minggu depan," jawab Riko singkat
Sesaat mereka berdua terdiam, seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Apa setelah itu Lo dan Desi akan putus?" tanya Tofan.
"Iya, gue udah mikirin ini lama, memang kita akan putus setelah dia selesai kuliah," jawab Riko
"Karena Amira?", tanya Tofan kemudian.
Riko sesaat melihat Tofan kemudian memandang ke depan kembali.
"Ada atau ga ada Amira di kehidupan gue, memang itu yang akan gue lakukan, Krn harusnya gue lakukan ini 3 tahun lalu Fan, tapi karena dia mudah depresi gue takut kuliah nya jadi terganggu," jawab Riko
"Iya sih, Lo udah cukup lama ya bersandiwara Rik, gue kagum sama Lo. Demi ga menyakiti perempuan itu lo rela bertahan dalam hubungan yang kacau dan rela nahan semua perasaan Lo ke Amira," ucap Tofan coba menenangkan.
"Amira ga ada hubungannya dengan semua ini Fan, gue dan Desi yang memang ga cocok, dan kebetulan Amira masuk di saat itu," jelas Riko.
"Amira yang polos dan hatinya selembut sutra itu seharusnya punya kisah cinta yang indah dan membahagiakan, bukan dengan kisah cinta yang rumit begini," sambung Riko.
"Ya serumit itu, antara Lo dan Desi kemudian Kak Digo, ini cinta segi berapa sih? Segi empat? Biasanya kan cinta tuh segitiga ya ini kenapa ribet amat jadi segi empat," canda Tofan pada Riko.
Riko pun tertawa kecil mendengar sahabatnya itu.
"Lo kira apaan segiempat? Hahahaha ada-ada aja Lo", jawab Riko kemudian.
"Amira harus bahagia, dan gue akan mewujudkan itu semua. Kalo dia mau kisah cinta seperti putri dalam dongeng gue akan turutin, atau kalo dia mau kisah cinta kaya drama Korea, gue juga akan berusaha penuhin itu," ucap Riko mantap.
Mendengar itu Tofan langsung memandang Riko dengan heran.
"selama 4 tahun gue jadi sahabat lo gue ga pernah liat Lo begini ke perempuan Rik, Lo beneran sesayang itu sama Amira?"tanya Tofan.
"Bahkan gue ga bisa mendeskripsikan rasa sayang yang gue punya Fan, semua mengalir begitu aja, bahkan gue rasa kalo dia minta jantung yang gue punya pun gue rela," ucap Riko yang malah terdengar lebay di kuping Tofan
"Dih lebay banget dah ah Lo ini emang nya Lo hewan kurban apa," jawab Tofan gemas
"Yee makanya Lo punya cewek sana, biar tau gimana rasanya mencintai perempuan ," jawab Riko.
********
Di tempat lain, terlihat Digo sedang berkumpul dengan Riski dan Erwin di rumahnya.
__ADS_1
"Gimana perkembangan hubungan Lo sama Amira go?" tanya Erwin
"Ga gimana-gimana Win, gini-gini aja," jawab Digo santai sambil sesekali memetik gitar yang ada ditangannya.
"Lo ga nembak dia?" tanya Erwin.
Digo tersenyum tipis lalu memetik gitarnya kembali.
"Nembak gimana? Amira nya aja masih belum buka hati buat gue, biar lah begini dulu, sambil pelan-pelan gue rebut hatinya ," jawab Digo datar.
Riski yang dari tadi sibuk dengan game nya pun ikut membuka suara.
"Gimana kalo lo ajak jalan aja Amira?" usul nya.
"udah pernah gue ajak, tapi dia banyak alasan untuk nolak gue," jawab Digo.
"Kalo gitu jangan jalan berdua, tapi berempat atau kita semua aja sekalian," usul Erwin.
"Maksud Lo?" tanya Digo tak mengerti.
"Gini, kan gue lagi Deket sama temennya Amira, nah kenapa ga lo manfaatin aja hubungan gue dengan Lena ini, jadi double date atau ya kalo perlu semua geng nya diikutsertakan lah jadi ala-ala piknik gitu," Erwin menjabarkan ide nya.
"hahh piknik ala-ala keluarga Cemara? Ya ampun yang bener aja Lo Win,"protes Riski
"Eh tapi ide Lo bagus juga ya, bisa tuh mumpung lagi liburan gini" ucap Digo tiba-tiba antusias.
"Bagus gimana sih Go? Piknik gini kok dibilang bagus, yang bagus tun nonton bioskop, makan bareng atau apa kek," ucap Riski masih meneruskan protesnya
"Eh tapi go, Lo itu sebenernya suka sama Amira, obsesi atau Krn dia mirip mantan Lo itu?" tanya Riski yang tiba-tiba ingat mantan kekasihnya Digo.
Tepat setelah Riski berbicara itu, Andi dan Irwan datang
.
"Wah wah kak, gue ga salah denger? Jadi Amira mirip sama mantan Lo ya kak?" tanya Irwan begitu masuk ke rumah Digo.
"Kalian ini emang minta di ospek lagi ya, bukannya salam masuk rumah orang malah nguping," ucap Riski.
"Hehehe tadi kita udah mau salam, tapi pembicaraan kalian terlalu serius kayaknya kalo dipotong," jawab Andi sambil cengar cengar ga jelas.
"Hmm jadi Amira mirip mantan pacar Kak Digo ya makanya Kak Digo suka sama Amira?" tanya Irwan menyelidik.
"Awalnya memang gitu, gue kaget pas liat dia pertama kali, gue kira Nisa kuliah bareng gue, tapi begitu gue tatap lama ya kemiripan itu hilang," jawab Digo
"Semakin gue deket sama Ami, semakin gue kenal sifatnya, karakternya bahkan penampilannya beda banget 180 derajat.
Kalo Nisa...dia menyukai karate, motor, tapi Amira begitu anggun dan feminim, lemah lembut dan manja.
Penampilannya pun sederhana banget tapi tetap keliatan cantik. Kalo Nisa dari baju aja udah keliatan fashionable banget," jelas Digo panjang lebar
"Gue ga liat ada diri Nisa dalam Amira," ucap Digo kemudian.
__ADS_1
"Iya sih emang yang gue liat Amira ya beda banget sama Nisa, cuma memang sekilas mirip, tapi ya ga semirip itu juga," tambah Erwin.
"iya gue juga mikir gitu," ucap Riski
"oh gitu, gue jadi penasaran sama yang namanya Nisa," celetuk Andi
"kalo gue naksir emang boleh?" canda Andi lagi
"ya boleh aja, asal bukan Amira, Lo bebas naksir perempuan manapun di muka bumi ini," jawab Digo asal.
Dan begitulah obrolan mereka berlanjut jadi pembahasan yang semakin tidak jelas
*****
Amira yang merasa bosan di rumah memutuskan untuk pergi ke mall dengan Tasya.
"Mi, gue mau liat tas di situ yuk," ajak Tasya sambil menunjuk outlet tas yang diminatinya.
"Boleh, ayuk," jawab Amira.
Mereka pun berjalan sampai di outlet tass CnK yang ada di mall tersebut.
Tasya terlihat antusias memilih tas sedangkan Ami tidak terlalu tertarik dengan barang branded tersebut.
Namun karena ia saat ini sedang menemani Tasya, maka ia juga melihat-lihat tas yang ada di outlet itu.
Amira mengambil tas yang menurutnya cantik, namun saat bersamaan ada yang memegang tas itu juga.
Amira melihat orang yang memegang tas yang sama dengannya dan sedikit terkejut.
"kenapa aku ngerasa dia wajahnya mirip sekali denganku?" batinnya.
Untuk sesaat mata mereka bertemu, lalu begitu tersadar perempuan itu melepaskan tas yang ia pegang dan menyerahkannya kepada Amira.
"Ini kalo kamu suka kamu boleh memilikinya," ucapnya sambil tersenyum.
Amira yang baru tersadar dari lamunannya seketika refleks menolak.
"Oh ga usah mba, buat mba aja tas nya,"jawab Amira sopan.
"Kamu yakin?" tanya perempuan itu.
"Ya mba, aku cuma liat-liat aja kok," jawab Amira
"Oke, terima kasih," jawab perempuan itu dengan ramah.
"Ih iya kenalin, namaku Nisa," ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Amira," jawab nya sambil mengulurkan tangannya.
"senang bertemu denganmu, Amira dan terima kasih" ucap Nisa lalu pergi meninggalkan Amira
__ADS_1