Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 9 Tatapannya


__ADS_3

Amira dan Digo baru saja sampai di depan pintu kelas, terdengar sorak sorai dari Andi dkk.


“uhuuuyyyy Pangeran Digo akhirnya bertemu Permaisurinya,” sorai Andi.


“Putri Amira, kok ga digandeng pangeran tampannya, nanti diambil selir lohh,”goda Irwan.


Dan disambut dengan sorak dan tawa dari anak-anak yang lain.


Tasya, Ajeng dan Lena melihat kejadian itu saling berpandangan. Tasya dengan mulut menganga seolah tak percaya. Dia terus menatap Amira dan Digo yang sedang berjalan beriringan itu.


“Baru semalem gue denger dia bahagia dapet chat dari Kak Riko, kenapa sekarang dia jalan bareng kak Digo? Secepat itukah pindah hatinya?" gumam Tasya tak percaya.


“Hah?? Apa Tasy? Kak Riko wa si Ami semalem?” tanya Ajeng pada Tasya tanpa melepaskan pandangan matanya ke Amira.


“Iya, makanya gue mau interogasi dia hari ini, eh tapi malah nambah cerita nih,” jawab Tasya.


Amira yang merasa risih menjadi pusat perhatian segera berlari kecil untuk masuk duluan ke kelas.


“Kak Digo aku masuk duluan ya,” ucap Amira ke Digo dan langsung pergi meninggalkan Digo.


Digo tak sempat menjawab Amira karena gadis itu langsung kabur meninggalkannya.


Digo merasa puas karena semua orang yang dirasanya perlu tau akan perasaannya ke Amira sudah melihat dia jalan dengan Amira.


“Dengan gini ga akan ada yang ganggu kamu Amira, karena mereka tau kamu milik aku,” ucap Digo dalam hati sambil tersenyum puas.


“Wahh gila kak udah jalan bareng aja sama Amira,” ucap Andi Ketika Digo sampai di pinggir taman depan kelas mereka, tempat Andi dan yang lainnya duduk.


Digo tersenyum kecil.


“Ini mah belum seberapa Ndi, masih ada tahap selanjutnya,” jawab Digo.


“Gue siap bantu kak kalo lo butuh apa-apa,” Irwan menawarkan diri.


“Iya tugas kalian tu jagain Amira, jangan sampe dia kenapa-kenapa,” jawab Digo singkat.

__ADS_1


“Siap kak,” ucap Andi dan Irwan bersamaan.


Lalu mereka masuk ke kelas untuk memulai perkuliahan.


Kali ini Digo memilih duduk sejajar dengan Amira, hanya saja beda 4 kursi dari Amira. Berharap bisa melihat wajah Amira dari tempatnya duduk.


“aah ternyata tetep aja ga jelas dan ga keliatan muka Amira dari sini,” batin Digo kesal.


“Masa gue mau duduk depan Amira terus gue menghadap ke belakang sih?” Digo mulai berpikir aneh.


Amira merasakan ada yang sedang menatapnya. Dia menoleh ke arah Digo dan matanya bertemu dengan mata indah milik Digo.


“kakak akan buat kamu mencintai kakak Amira,” batin Digo dalam tatapannya kali ini.


Amira seolah seperti mengerti arti tatapan itu cepat-cepat melemparkan pandangan nya ke arah yang lain.


“Dia kok ngeliatin gue kayak gitu ya? Kaya mau nerkam gue.” Batin Amira.


Sepanjang perkuliahan berlangsung Amira gelisah, karena ia sering mendapatkan mata Digo yang menatapnya.


“Mi lo kenapa?” tanya Ajeng yang melihat tingkah amira tak seperti biasanya.


“Bingung kenapa? Pasti karena kak Digo tadi ya?” ucap Tasya.


“lo masih utang penjelasan sama kita ya mi,” Tasya menambahkan.


“Tapi guys tatapan Kak Digo ke Amira tuh kok tajam banget ya kaya nusuk, mana ganteng lagi si Kak Digo itu, gue aja kelepek-kelepek loh mi, masa lo enggak?” tanya Lena meledek.


“Apaan sih lo Len, ganjen deh. Ga ada yang bisa gantiin Kak Riko di hati sama di mata gue,” jawab Amira.


“Tapi mi, gue takut nya lo sakit hati, gue takutnya kak riko belum putus sama pacarnya dan nyembunyiin ini dari lo,” ucap Lena.


“Iya mi, kalo gue jadi lo mah gue pilih yang udah pasti aja di depan mata kayak kak Digo mana cakep,” Ajeng menimpali.


“Lo yakin ga ada perasaan apa-apa sama Kak Digo? Kakak ganteng ini?” Ajeng menambahkan.

__ADS_1


Amira diam tak langsung menjawab kedua sahabatnya itu. Dia memang merasa ada yang tak biasa dalam hatinya, seperti senang dan bangga dengan perlakuan dari Digo kepadanya hari ini.


Amira merasa Digo memperlakukannya dengan spesial, bahkan di depan teman-temannya.


Namun karena wajah Riko terlalu memenuhi hati Amira, dia tak menghiraukan perasaan lain yang aneh aneh.


“Gue masih lebih pengen ketemu Kak Riko dibandingin gue jalan sama Kak Digo tadi,”jawab Amira.


“Ah cinta ni memang gitu ya, ga tau tempat, ga tau waktu dan ga bisa milih,” ucap Tasya.


Mendengar itu Amira langsung berfikir, benar juga kata sahabatnya itu.


Amira bahkan ga bisa memilih jatuh cinta dengan siapa, harusnya dia bisa memilih untuk jatuh cinta saja dengan Digo, yang pasti memilihnya, daripada jatuh cinta dengan Riko yang kemungkinan besar masih memiliki pacar itu.


Amira bahkan menutup telinga dan matanya jika memang Riko masih memiliki pacar. Amira tak bisa menghentikan perasaannya pada Riko begitu saja, apalagi Ketika Riko sudah memberi harapan kepadanya.


“Ahh masa bodoh lah, gue jalanin aja yang ada, kemana hati gue ini,” batin Amira kesal sendiri.


Digo yang melihat tingkah Amira yang seperti orang gelisah mengirim pesan wa kepada Amira.


“Jangan mikirin orang lain yang ga pantes kamu pikirin Amira,” pesan singkat Digo membuat Amira tersentak dan langsung melihat ke arah Digo yang juga sedang menatapnya.


“Apa maksudnya chat Kak Digo ini?” batin Amira.


“Aku ga mikirin siapa-siapa,” balas Amira di kolom chat Digo dan segera mengklik tombol send.


Digo tersenyum membaca balasan chat Amira, kemudian menatap lekat-lekat Amira.


“kakak mau bahagiain kamu amira, tapi kalo nanti kamu memang ga Bahagia sama kakak, kakak ga akan maksa kamu. Tapi kakak ga akan lepasin kami untuk Riko, karena orang yang udah punya pasangan kayak Riko tapi masih berani deketin cewek lain itu buruk di mata kakak. Dan kakak ga mau kamu atau hati kamu akan terluka nantinya.” Digo berucap dalam hatinya.


“Kakak akan buat kamu jatuh cinta sama kakak, dan ngelupain Riko. Ga akan ada lagi Riko dalam hati kamu meskipun hanya bayangannya,” batin digo sambil tersenyum tipis.


Digo kembali mengetik chat di ponselnya dan mengirimnya pada Amira. Amira langsung membuka chat dari Digo tersebut.


“Bagus, kalo gitu kamu mikirin kakak aja ya, Digo Prasetyo,” isi chat itu membuat Amira sebal dan segera memasukkan ponsel nya ke dalam tas. 

__ADS_1


"Kak Digo ini kayak hantu aja gentayangan di sekitar gue," batin Amira sambil melihat ke arah Digo.


"Berenti bersikap kayak gini kak, karena aku suka nya sama kak Riko. Sekarang, sampe nanti aku suka nya sama dia, bukan sama kakak," ucap Amira dalam hatinya lirih karena dia tak bisa mengatakan itu langsung pada Digo.


__ADS_2