Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 48 Menjemput


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir ujian di kelas Amira. Setelah ujian ini, maka Amira akan libur panjang kemudian masuk semester selanjutnya. Tak Terasa Amira telah menghabiskan 1 tahun kuliah di universitas ini. Setelah ini Amira akan naik ke semester 3.


Riko pun menjadi semester 6, dan sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya. Karena dia termasuk mahasiswa pintar, apalagi dia salah satu asisten yang menjadi andalan dosennya, tentu saja langkah yang ia lewati terkesan sangat mudah untuk menyusun skripsi.


Sementara Digo, yang kemarin sempat mengulang dua mata kuliah bersama mahasiswa tingkat pertama sedang menyusun skripsi, dia ingin mengejar jadwal wisuda yang akan diadakan 3 bulan lagi.


Amira datang ke kampus dengan sangat malas, mengingat ada banyak drama yang tidak mengenakan hati di kampusnya.


“Mi, lemes amat sih?” tanya Tasya ketika Amira baru saja masuk dan duduk di sebelahnya.


“Iya gue habis ngaduk semen,” sahut Amira asal sambil meletakkan tas di kursinya


“Hah? yang bener lo? Rumah lo lagi renovasi? Ngapain lo yang ngaduk semen sih?” tanya Ajeng dengan polosnya.


Amira menoleh sekilas ke Ajeng lalu memutar kedua bola matanya malas. Lena dan Tasya pun hanya menggelengkan kepala melihatnya.


“Lah, kenapa sih? gue salah ya?” tanya Ajeng masih dengan ekspresi bingung.


“Enggak, lo ga salah jeng, gue nya aja yang lagi males,” jawab Amira lalu menopang dagunya pada meja tulis.


“Mi, lo kemarin kemana?” tanya Lena yang mengingat Amira pergi kemarin.


“Gue ke Taman Kota Len,” jawab Amira masih dengan menopang dagunya.


“Emmm..” Lena ragu mau bertanya pada Amira. “Sama kak Digo?”


Amira langsung menarik dagunya dari atas meja kemudian menghadap ke Lena.


“Maksud lo Len?” tanya Amira tak mengerti.


“Emm itu, kemarin gue nelpon kak Digo, terus dia nyusul lo katanya,” ujar Lena menjelaskan.


“Jadi, kemarin ada Kak Digo?” gumam Amira dalam hatinya sambil menatap mejanya dengan tatapan kosong.


“Emang kalian gak ketemu?” tanya Lena yang kini jadi ikut bingung.


Amira menggeleng. “Gue kemarin sendirian, pulang juga sendirian. Gue ga liat ada Kak Digo,” sahut Amira yang tiba-tiba merasa sedih.


Andai saja ia tau kalau kemarin Digo datang menemuinya. Tapi memangnya apa yang akan dilakukannya jika ia tau di sana ada DIgo?

__ADS_1


Amira berfikir resah. “Apa yang aku harapkan? apakah aku mengharapkan dia datang padaku seperti basanya lalu memelukku? mengusap airmata ku lalu mengatakan jangan menangis?


Klise banget,” gumam Amira dalam hati sambil tersenyum miris.


Tapi kalau kemarin aku melihat Kak Digo, setidaknya itu bisa mengobati rasa rinduku padanya. Walaupun aku tak bersamanya.


Entah mengapa sejak ia menyadari perasaannya kepada Digo, hatinya justru semakin terasa sepi. Ia merasa lebih sering merindu akan kehadiran sosok Digo di sisinya. Namun harus melawan hatinya dengan kenyataan yang tak sejalan.


Karena kenyataannya Nisa lah pemilik sesungguhnya Digo.


Amira berfikir, selama ini Digo bisa berkata menyayanginya karena ia belum pernah bertemu langsung dengan Nisa.


Bagaimana jika nantinya mereka bertemu? Apakah akan ada cinta lama yang bersemi kembali?


Akankah ada getaran cinta yang merea rasakan?


Pastinya ada, karena Nisa adalah perempuan yang manis, yang bahkan sepertinya jika ia laki-laki ia pun akan jatuh hati kepada Nisa.


Tapi aku sangat merindukan Kak Digo. aku ingin melihat sosoknya saat ini.


"Ah menyakitkan sekali menahan rindu, apalagi kamu ya Nisa,” gumamnya berbicara sendiri dalam hati.


Ngomong-ngomong Nisa, Amira jadi teringat kejadian kemarin.


“Oh iya, kemarin gue kan ga ketemu tuh sama lo, jadi gue masuk ke rumah Kak Erwin, tapi gue nunggu dulu sampe situasinya kondusif,” jawab Lena.


“Terus?” tanya Amira penasaran.


“Ya udah karena ada gue mungkin ya, ga lama dari itu Nisa pamit pulang. Dia pamit terus senyum sama gue mi, sekilas mirip sama lo ya,” ucap Lena sambil membayangkan kejadian kemarin.


“Iya memang, karena itulah makanya Kak Digo suka sama gue kan? Kalo bukan karena wajah gue yang mirip ya mana mungkin suka sama gue,” sahut Amira sedih.


“Mi, jangan gitu dong, lo kan ga tau sama apa yang sebenernya Kak Digo rasain dalam hatinya,” ucap Lena lalu memegang pundak Amira.


Amira menoleh ke arah Lena dan tersenyum. Tak lama dosen pun memasuki kelas dan memulai ujian mereka hari itu.


Ujian berlangsung selama 2 jam. Tidak ada satupun orang yang terlihat tidak bisa mengerjakan soal, sepertinya mereka terlihat sangat mengerti tentang ujian kali ini.


Selama 2 jam Amira mengerjakan soal ujian dengan tenang, walaupun ada 1 sampai 2 soal tak dimengerti, ia tetap mengerjakan sebisanya. Hingga akhirnya jam pelajaran pun usai. semua peserta ujian mengumpulkan jawaban beserta soalnya kepada Pak Dosen.

__ADS_1


“Kalian pada mau kemana habis ujian?” tanya Ajeng pada sahabat–sahabatnya itu.


“Gue sih pengen rebahan Jeng, kalo mau main kayaknya mending besok aja deh, kalo hari ini capek ga sih abis ngerjain soal yang memusingkan itu," jawab Tasya.


“Kalo gue sih pengen pergi sma Kak Erwin, hehe.” sahut Leni dengan cengiran nya.


"Dasar lo ya, mentang-mentang punya pacar kerjaannya pacaran melulu,” sahut Ajeng.


“Yee gue jarang-jarang kali ketemu Kak Erwin, soalnya dia sibuk skripsi kan bareng Kak Digo dan Kak Rizki,” jawab Lena lalu menoleh ke arah Amira karena ia tak sengaja menyebut nama Digo.


Sementara Amira diam saja tak ada ekspresi. Ya mau berekspresi seperti apa? Sudahlah.


Tasya membuka ponselnya lalu mendapati pesan masuk. Tasya membacanya, ternyata pesan itu ditujukan kepada Amira.


“Mi, hape lo mati tah?” tanya Tasya.


“Enggak kok Tasy,” sahut Amira lalu ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya.


“Eh iya ternyata hape gue lowbat, hehehe,” sahut Amira tersenyum kikuk.


“Oh pantesan orangnya ngirim pesan ke gue,” gumam Tasya dengan suara sangat kecil namun masih bisa terdengar oleh Amira.


“Apa Tasy? Siapa yang ngirim pesen ke lo?” tanya Amira.


“Itu lo udah dijemput Mi, orang nya ada di depan lagi nungguin lo," jawab Tasya.


“Siapa yang jemput gue?” tanya Amira lagi.


“Biasa lah kakak lo,” jawab Tasya singkat sambil senyum-senyum ga jelas. "Udah gih sono, orang nya udah nungguin tuh.”


“Hemm iya deh, ya udah gue duluan ya guys,” jawab Amira sambil berpamitan kepada teman-temannya.


Hatinya merasa berdebar karena ingin bertemu Kak Digo. Ia berjalan ke arah yang ditunjukkan Tasya, tempat yang menjemputnya menunggu.


Sesampainya ia di tempat itu, matanya sibuk mencari sosok Digo, tapi Tak menemukannya. Lalu ia melihat Riko yang berdiri di samping mobilnya, seperti sedang menunggu.


“Apa yang dimaksud Tasya adalah Riko?” batinnya.


Riko menoleh ke arah Amira lalu melambaikan tangannya agar Amira segera mendatanginya.

__ADS_1


Amira tersenyum getir kemudian mulai melangkahkan kakinya.


“Ternyata yang menjemput ku Kak Riko, bukan Kak Digo. Aku pikir tadi yang menjemput ku adalah Kak Digo. Mungkin karena aku terlalu merindukannya sehingga aku berharap dia yang menjemput ku," batin Amira lalu segera menghampiri Riko.


__ADS_2