
“Ya, Amira mencintai Digo Nis, karena itu aku melepaskannya agar dia bisa bahagia dengan pilihannya. Selama dia bersamaku, dia tak pernah aku buat bahagia, aku berharap dengan melepaskannya akan membuat dia bahagia,” jawab Riko menjelaskan.
Nisa yang sangat shock mendengar penjelasan Riko, masih diam mematung tak percaya. Jadi selama ini, ia bercerita kesedihan dan rasa cintanya kepada wanita yang juga mencintai Digo? Mengapa Amira tak pernah memberitahunya? Mengapa Amira justru memelukku dan menyimpan itu untuk dirinya sendiri?
“Kalau dia mencintai Digo kenapa dia justru membawaku pada laki-laki yang dia cintai?” ucap Nisa dengan suara lemah. Rasanya airmata nya sudah ingin menjatuhkan diri ke bumi.
“Amira itu hatinya lembut Nis, mungkin dia mengalah untuk kamu, aku juga ga begitu paham, karena Amira ga pernah cerita sama aku, tentang kamu atau tentang perasaannya pada Digo,” jawab Riko.
“Tapi kenapa Rik? Katanya aku sahabatnya, tapi kenapa dia malah berbuat ini sama aku? Ninggalin aku?” ucap Nisa sambil menangis.
Melihat itu, Riko merasa tak tega pada Nisa. Ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri tempat duduk Nisa dan berdiri di sebelahnya. Lalu ia mengusap-usap punggung Nisa agar tenang.
“Kenapa dia ga bilang aja dari awal sama aku Rik kalo dia mencintai Digo? Kenapa harus seperti ini?” ucapnya lagi dengan airmata berlinang.
Riko yang juga bingung harus bagaimana, hanya mengusap punggung Nisa saja, berharap itu bisa membantu meredakan airmata nya.
Cukup lama Nisa menangis merasakan penyesalan dalam dirinya. Selama ini ia sibuk mencari Amira, ternyata dirinya sendiri yang membuat Amira pergi. Nisa ga habis pikir, kenapa Amira tak jujur saja padanya?
“Aku harus ke rumah nya lagi Rik, aku mau cari tau sendiri kebenarannya,” ucap Nisa setelah tangisannya mereda.
Ia pun langsung pergi meninggalkan Riko yang berdiri mematung menatap kepergiannya.
“Kalian berdua sama-sama memiliki hati yang lembut Nis, kalian sama-sama saling menyayangi, tapi Amira terlalu egois memutuskan semuanya sendiri, bahkan dia rela menahan sakit demi melihat kamu bahagia tanpa menyadari bahwa tak ada satupun dari kamu ataupun Digo yang bahagia dengan kepergiannya,” ucap Riko dalam hatinya.
Riko meninggalkan tempat itu, lalu ia berjalan menuju parkiran untuk menjalankan mobilnya. Namun tanpa disangka, saat menuju basement, ia bertemu dengan Digo yang baru saja turun dari mobilnya. Digo baru keluar dari perusahaan ayahnya, bermaksud ingin makan siang di tempat itu.
__ADS_1
Melihat Riko yang memang sangat ingin ditemuinya, sungguh kebetulan sekali. Digo memang sedang mencari waktu untuk menemui Riko dan membahas masalah Amira.
Tanpa basa-basi Digo mendekat ke arah Riko lalu menghajar wajahnya. Riko yang tak siap menerima pukulan itu pun jatuh tersungkur di sudut mobil. Riko menatap Digo, mencoba bangun dan membersihkan darah yang keluar dari ujung bibirnya.
“Apa-apaan lo ini Go, tiba-tiba mukul orang kaya gini,” pekiknya ketika tubuhnya sudah berdiri lagi.
“Lo kemanain Amira? Lo tau kalo Amira ga ada di rumah kan? Lo tau kalo Amira menghilang hahh??” teriak Digo sambil memukul Riko berkali-kali.
Riko yang tak terima ia dipukuli seperti itu pun membalas Digo dengan tinjunya.
“Tau apa lo soal Amira? Harusnya lo tanya sama diri lo sendiri sialaannn!” ucap Riko dengan meninju Digo pada wajahnya.
Terjadilah baku hantam antara Riko dan Digo.
“Gara-gara lo kan Amira pergi Ko? Gara-gara lo nyakitin dia terus karena lo masih berhubungan sama Desi, lo anggep apa hati Amira sialan?” ucap Digo menarik kerah baju Riko.
“Gue bilang lo tanya sama diri lo sendiri sialan!!” teriak Riko bangkit lalu balik menghajar Digo.
“Amira pergi bukan karena gue, tapi karena lo Digo, karena lo!!!” Ucap Riko sambil terus menghajar Digo bertubi-tubi. Entahlah saat ini Riko rasanya ingin meluapkan amarah dan juga kesedihan yang dipendamnya.
“Lo tau ga kenapa gue mutusin untuk melepas Amira? Tau ga sialannn??” teriak Riko di depan wajah Digo.
“Gue melepas Amira karena dia mencintai elo Digo!!!” ucapnya lagi lalu meninju wajah Digo.
Digo yang kaget mendengar ucapan Riko hanya diam saat pukulan itu mengenai wajahnya.
__ADS_1
“Amira mencintai elo sialannn!! Kemana aja lo selama ini hah?? “ ucap Riko lagi sambil menarik kerah baju Digo.
“Amira mencintai lo tapi lo malah pergi dengan perempuan lain? Dimana otak lo??” Teriak Riko penuh emosi.
“Sekarang gue tanya, Lo tau ga dia menghilang udah 2 minggu hahh?? Lo tau ga karena apa dia pergi??”
“Itu semua karena lo!! Karena lo dengan masa lalu elo!!”
“Gue udah rela melepas Amira untuk bisa lo bahagiain tapi malah lo buat pergi! Lo tau ga sakitnya gue ngerelain perempuan yang gue cintai sama laki-laki lain? Tau ga??? berhari-hari gue ngelawan rasa sakit itu sendirian, berharap Amira bahagia sama lo, tapi kenyataannya lo malah buat dia menghilang!”rutuk Riko masih memukuli Digo.
“Lo denger ya Go, kalo sampe gue temuin Amira, gue akan rebut dia lagi dan ga akan pernah gue lepasin untuk siapapun! Gue nyesel pernah ngelepas Amira untuk laki-laki kaya lo!” ucapnya melempar tubuh Digo hingga membentur mobil.
Lalu Riko memukul wajah Digo lagi. “Ini pukulan untuk sakit hati gue saat melepas Amira.”
Kemudian pukulan kedua. “Ini pukulan untuk airmata gue dan Amira.”
Dan pukulan ketiga. “Ini pukulan karena lo terlalu bodoh!!”
Lalu setelah itu Riko pergi meninggalkan Digo dengan keadaan yang babak belur. Tak jauh berbeda juga dengan dirinya, namun pukulan yang ia terima tak sebanyak yang diberikan kepada Digo.
Digo yang tersungkur dengan banyak luka pukulan pun mencoba untuk duduk dengan susah payah. Ia merenung memikirkan perkataan Riko. Jadi Amira pergi karena ingin menyatukan dia dengan Nisa? Bukan karena Amira memilih Riko atau patah hati karena Riko?
Tak terasa airmata Digo menetes di pipinya, mengaliri luka-lukanya yang masih basah. Perih luka pada wajahnya tak seberapa dibandingkan dengan perih hatinya saat ini. Sudah berapa lama Amira pergi? Dan dia baru mengetahuinya sekarang. Apalagi Amira pergi dengan membawa seluruh cintanya.
“Amira…maafin aku karena ga memahami kamu sayang,” lirih Digo dalam hatinya.
__ADS_1
“Aku mohon kembali ke sisiku, aku sangat mencintai kamu, aku mohon jangan tinggalkan aku Amira,” batinnya lagi lalu terjatuh tak sadarkan diri dengan airmata yang masih menetes di sudut matanya.