Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 73 Restoran


__ADS_3

Pukul 11.30 WIB Digo telah mendarat di Bandara Udara Internasional Yogyakarta. Dengan wajah yang sumringah dan hati yang bahagia, ia melangkahkan kakinya di Yogyakarta untuk menemui Amira.


"Oh iya ya, kemarin Nisa belum ngirim alamat kosan Amira," gumam Digo lalu ia mengeluarkan ponselnya.


Digo menelpon Nisa untuk menanyakan alamat yang kemarin lupa dikirimkan oleh Nisa.


Nisa yang sudah bersiap ingin turun ke restoran hotel untuk makan siang pun segera bergegas turun. Ketika memasuki lift, tak sengaja pintu lift ditahan oleh seseorang. Nisa menoleh ke arah pintu lift dan terkejut melihat Riko yang saat ini sedang berjalan masuk ke lift dengan gaya santainya. Ciri khas Riko Anggara.


Nisa pikir Riko sudah kembali ke Yogyakarta, bukankah pesta keluarganya telah berlalu?


“Kamu belum balik ke Jakarta Rik?” tanya Nisa ketika Riko telah berdiri di sebelahnya.


“Belum, aku masih pengen lihat-lihat kota ini, kamu udah pernah kesini sebelumnya?” tanya Riko balik.


“Udah sih tapi waktu sekolah aja, itu juga karena ikut study tour, kamu tau lah kalo study tour itu gimana, sebentar banget” jawab Nisa menoleh sesaat ke Riko.


“Ya udah temenin aku yuk, aku berniat mau cari oleh-oleh nih buat Tofan dan yang lainnya di Jakarta,” ajak Riko tanpa basa-basi.


“Ah boleh juga,” jawab Nisa bertepatan dengan pintu lift terbuka.


Saat keluar dari lift ponsel Nisa berdering. Nisa pun menghentikan langkahnya dan menjawab ponsel tanpa melihat si penelpon.


“Halo,” sapa Nisa membuat Riko yang sudah melangkah lebih dahulu menoleh ke arah Nisa yang ada di belakangnya.


“Oh Digo, iya kenapa Go?” terdengar suara Nisa menjawab panggilannya.


Riko melangkahkan kakinya ke arah Nisa hingga saat ini ia berada di hadapan gadis itu. Ia diam memperhatikan Nisa yang sedang menjawab telponnya.


“Kamu udah sampe? Oh iya aku lupa kemarin mau kirimin alamat nya Mira sama kamu Go, bentar aku kirim lewat wa ya,” jawab Nisa lalu menatap sebentar ke Riko.


“Oke, bye Go, semoga sukses untuk urusan kamu dan Amira ya Go. Dan jangan lupa bawa Amira pulang,” sahut Nisa lalu mengakhiri telponnya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu ia segera mengirimkan alamat kosan Amira pada Digo melalui wa.


“Siapa? Digo?” tanya Riko setelah urusan Nisa selesai dilakukan.


“Iya, katanya dia mau nemuin Amira hari ini dan sekarang udah ada di bandara,” jawab Nisa lalu melangkahkan kakinya, dikuti oleh Riko.


“Terus kamu mau ketemu Digo dulu?” tanya Riko lagi.


“Enggak, tadi dia nanya alamat kosan Mira. Kayaknya aku gak usah ketemu Digo deh, kan dia lagi mau ketemu Amira setelah kejadian kemarin,” jawab Nisa tersenyum tipis.


Riko memperhatikan ekspresi wajah Nisa. Ada sedikit kesedihan yang masih terpancar dalam sorot matanya, namun berusaha untuk ditepis sendiri oleh wanita itu.


Riko mengingat beberapa waktu lalu juga ia merasakan itu. Merelakan hal yang paling diharapkannya. Hingga saat ini sebenarnya ia pun belum sembuh dari rasa itu.


“Kamu sendiri, udah sampe sini gak mau ketemu sama Mira?” tanya Nisa membuyarkan lamunan Riko.


Riko terdiam sesaat, lalu pandangannya menatap lurus ke depan. “Kalo aku ketemu sama dia, akan memperlambat proses aku melupakan dia. Terkadang obat untuk hati yang dipaksa rela pada orang yang paling kita inginkan adalah dengan tidak melihatnya lagi, setidaknya hingga semua rasa sakit itu pergi.”


Tapi ia malah ingin menemui Digo, yang semakin membuatnya terpuruk dalam cinta yang tak bertuan. “Ah, bodohnya aku,” ucap Nisa dalam hati dengan tersenyum getir.


Riko memperhatikan Nisa yang kini terdiam dengan pikirannya.


"Kamu yakin kamu gak apa-apa Nis?" tanya Riko menoleh ke arah Nisa sesaat, lalu melanjutkan jalannya dengan menatap arah jalannya.


"Lagian aku kesini kan bukan karena ingin bertemu Amira, tapi karena ada acara keluarga. Kebetulan aja di kota yang sama dengan tempat tinggal Amira," Riko terus berbicara sendiri, tanpa menyadari jika yang diajak bicara sudah tidak fokus mendengarkannya.


Nisa tak menjawab. Sepertinya gadis itu masih sibuk dengan pikirannya. Nisa masih terus berjalan hingga tak sadar ia telah melewati tujuannya yaitu restoran hotel.


Nisa malah terus berjalan lurus dengan pikiran yang entah kemana. Riko yang awalnya telah masuk ke dalam restoran pun melihat Nisa tak ada di sampingnya. Ia celingak celinguk mencari sosok perempuan yang mirip dengan Amira itu.


Ketika ia melihat Nisa sudah berjalan menjauhi restoran, Riko pun akhirnya menyusul langkah gadis itu.

__ADS_1


"Ini cewek bener-bener ya, jadi dari tadi aku ngomong sendiri?" batinnya kesal.


“Nis,” ucap Riko memegang pergelangan tangan Nisa, ketika ia berhasil menyusul langkah Nisa.


Tentu saja hal itu membuat Nisa terkejut dan tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke arah laki-laki yang tengah memegang pergelangan tangannya itu.


“Kamu ini mau kemana? Mikirin apa sih?" tanya Riko kesal.


"Mau ke restoran kan?" sahut Nisa malah bertanya balik.


"Emang dimana restorannya?" tanya Riko memastikan titik fokus Nisa.


"Di sana bukan? Eh, kok itu udah loby ya, eh dimana sih? Apa salah jalan ya?" jawab Nisa bingung sendiri.


"Kamu ini, itu restorannya udah kelewat di sana, aku malah jadi ngikutin kamu sampe sini,” sahut Riko menunjuk arah restorannya yang kini berlawanan arah dari tempatnya berdiri.


“Oh kelewatan ya? Hehehe maaf deh maaf,” sahut Nisa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


Riko melepaskan pergelangan tangan Nisa. “Ya udah yuk ke sana, jangan sampe aku tarik kamu kaya hewan ternak.”


"Enak aja kamu ini," sahut Nisa tak terima lalu meninju pelan lengan Riko.


"Lah iya kan, ini aja kalo ga aku tarik mungkin kamu udah sampe loby sana tuh," sahut Riko menunjuk ke arah loby.


"Bukannya kamu panggil aku," ucap Nisa tak mau kalah.


"Ya masa aku mau teriak-teriak, dari tadi tuh aku kira kamu jalan di samping aku, bahkan aku ngomong sendiri," jawab Riko merasa kesal sekali.


Nisa menoleh. "Iya kah?" sahutnya lalu tertawa terbahak-bahak.


"Ye malah ketawa lagi, udah ah ayuk ke sana jadi mau makan gak? Dari tadi di sini gak selesai-selesai," ucap Riko menarik paksa tangan Nisa.

__ADS_1


“Ih bener-bener,” ucap Nisa dalam hati dengan kesal namun tetap mengikuti Riko.


__ADS_2