
Sepeninggalan Nisa dari kosannya, Amira merenung menatap jendela. Hatinya terasa sakit mendengar kabar Digo dirawat namun ia bahkan tak bisa menjenguknya.
“Aku telah menyakiti kamu begitu dalam ya kak?” lirihnya sendu.
Amira merasa menyesal karena telah melakukan hal yang menurutnya benar, tapi malah menyakiti banyak orang. Amira sangat merindukan kehidupan lama nya, sebenarnya ia juga sangat terpaksa mengasingkan diri di kota orang begini.
“Bagaimana kabar mama dan papa ya? Apakah mereka merasakan juga sedih setiap hari karena kepergianku? Seperti Kak Digo?
Ah sebenarnya aku pun di sini kesepian, tapi saat itu aku gak punya pilihan,” batin Amira merenung.
Sementara itu, Nisa yang saat ini telah kembali ke hotelnya, merebahkan dirinya pada tempat tidur. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Digo. Hari ini adalah hari ke-3 Digo dirawat di rumah sakit. Seharusnya ia sudah membaik hari ini.
“Halo,” terdengar sapaan Digo dari seberang telpon.
“Halo Go, gimana kondisi kamu?” tanya Nisa
“Aku baik Nis, sekarang udah pulang, baru tadi siang keluar dari rumah sakit,” jawab Digo.
“Oh, baguslah aku ikut seneng dengernya Go,” sahut Nisa dengan senang.
“Oh iya Go, aku sekarang lagi di Yogya loh,” ucap Nisa yang membuat Digo kaget.
“Yogya? Kapan kamu kesana nya?”
“Kemarin Go,” jawab Nisa singkat.
“Yogya bukannya tempat Amira Nis?” tanya Digo mengingat cerita kepergian Amira dari Lena. Digo memang bermaksud ingin mendatangi kota itu dalam beberapa hari setelah ia keluar dari rumah sakit.
“Iya Go, ini aku habis dari tempat Amira,” jawab Nisa.
Digo terperangah. “Kamu nemuin Amira?”
__ADS_1
“Iya, aku memang sengaja ke sini untuk ketemu Amira Go, aku mau bantu kamu untuk bisa bersatu sama Amira. Gara-gara aku kalian ga bersatu kan?” jawab Nisa sambil tersenyum yang sebenarnya tak bisa dilihat oleh Digo.
“Selama kenal dengan Amira, aku beberapa kali liat dia nangis sedih banget Go, yang ternyata airmata itu untuk kamu, rasanya aku akan jadi orang yang paling bersalah banget kalo sampe aku gak ngelakuin apa-apa untuk membuat Amira balik ke kamu Go,” jelas Nisa panjang lebar.
Digo hanya terdiam, mendengarkan penjelasan Nisa dengan hatinya yang terasa berdebar. Amira, gadis yang begitu diinginkannya selama ini sebentar lagi akan menjadi miliknya. Ah, rasanya sudah sangat tidak sabar.
“Amira ngomong apa sama kamu Nis?” tanya Digo antusias.
“Hmm.. intinya dia mencintai kamu Go. Kamu mau kesini atau Amira yang aku bawa ke Jakarta?” tanya Nisa.
“Hmm aku aja yang kesana Nis, aku akan cari penerbangan besok untuk ke Yogyakarta,” jawab Digo bersemangat.
“Oke Go, take care ya, aku tutup telponnya,” sahut Nisa lalu menutup telponnya.
Digo langsung memesan tiket pesawat Jakarta - Yogyakarta untuk besok, pada jam 10.20 WIB. Dengan hati yang tak sabar, Digo merebahkan dirinya dan mulai tidur, agar besok saat bertemu Amira tubuhnya kembali fit.
Sementara Nisa, setelah menutup telponnya, ia beranjak dari tempat tidurnya bermaksud ingin makan siang ke restoran hotel tempat ia menginap. Tapi belum sempat membuka pintu, terdengar ponselnya berbunyi.
“Ngapain ini anak nelpon?” pikirnya lalu segera mengangkat telpon itu.
“Halo,” jawab Nisa malas.
“Kamu dimana?” tanya Riko acuh.
“Aku di kamar hotel, kenapa?” tanya Nisa merasa heran.
“Buka pintunya, aku ada di luar pintu kamar kamu,” ucap Riko.
Nisa tak percaya dengan ucapan Riko. Ia kira Riko hanya mengerjainya saja. Tadi kan dia ada acara keluarga, masa udah di sini, pikirnya. Lalu ia mengintip melalui lubang pintu, dan terlihatlah Riko yang masih mengenakan pakaian tadi pagi membawa beberapa bungkusan.
Nisa pun membuka pintunya. “Kamu ngapain Ko?”
__ADS_1
“Tadi di pesta banyak makanan yang sisa, ini aku bawain buat kamu daripada kebuang kan sayang,” ucap Riko yang terdengar menyebalkan di telinga Nisa.
“Jadi kamu bawain aku makanan sisa?” tanya Nisa tak percaya.
“Ini makanan bagus, bukan sisa. Aku sengaja bungkus buat dimakan sama kamu, kasian kamu sendirian memperjuangkan cinta untuk orang lain,” sahut Riko dengan gaya khasnya.
“Kamu sweet banget inget aku di acara kamu hehehe ya udahlah aku ambil ya, kebetulan aku juga lagi laper banget,” jawab Nisa malah balik menggoda Riko.
Riko mendadak langsung terdiam. Ia menyerahkan makanan itu pada Nisa lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Nisa sampai terbengong-bengong melihatnya.
“Ih, main pergi gitu aja tuh orang, bener-bener ya kaya jelangkung, dateng ga dijemput pulangnya juga ga pamit,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Kemudian ia menutup pintu kamarnya lalu segera menikmati makanan yang diberikan oleh Riko. Makanan pesta biasanya tuh enak, pikir Nisa bersemangat.
Sementara Riko saat ini sedang berjalan menuju receptionist sambil memikirkan perkataan Nisa.
“Iya ya, ngapain aku mikirin dia sendirian atau gak di sini, pake acara bawain makanan segala lagi, dasar aku,” ucapnya dalam hati.
Sesampainya di receptionist, ia memesan satu kamar yang akan ditempatinya. Ia ingin kamarnya satu lantai dengan kamar yang digunakan Nisa. Yah entah kenapa Riko rasanya cukup kasihan melihat perempuan itu yang jauh-jauh datang hanya untuk membuat Amira luluh untuk menerima Digo.
Mungkin karena Riko tau betapa sakitnya hati yang dipaksa merelakan seseorang yang kita inginkan, untuk bersama orang lain. Setegar apapun kita menghadapinya, rasa sakit yang ditimbulkan bisa mengalahkan kewarasan yang kita miliki.
Sekuat apapun mental Nisa, ia tetap harus melewati proses yang menyakitkan sendirian. Sehingga Riko memutuskan untuk menemani Nisa dalam masa-masa sakitnya, karena sebenarnya ia pun belum sembuh benar dari lukanya.
Orang tua Riko akan pulang ke Jakarta malam ini, namun Riko mengatakan masih ingin ada di kota Yogya dalam beberapa hari lagi, karena ingin menikmati indahnya kota Yogyakarta.
Setelah menerima kunci kamar, Riko segera bergegas untuk istirahat di kamarnya. Rasanya menambah beberapa hari di Yogyakarta tak masalah. Justru lumayan untuk staycation, karena liburan kuliah kemarin tidak pergi kemana-kemana. Malah ia sibuk dengan hatinya yang tak jua menemukan kehangatan cinta.
Ketika ia telah merebahkan dirinya di tempat tidur, ia terpikir ingin mengirim chat kepada Amira. Tapi ternyata nomor handphone Amira sudah tidak aktif. Ia lupa jika Amira telah mengganti nomor telponnya tanpa seorangpun yang tahu.
“Amira, kali ini kamu harus bahagia, karena aku susah payah berjuang melawan sakit di hatiku untuk kebahagiaan kamu. Apalagi saat ini yang berjuang bertambah satu orang yaitu Nisa. Jadi aku mohon kamu harus bersatu sama Digo dan bahagia ya Mi,” batin Riko sambil memejamkan matanya.
__ADS_1