
Seminggu berlalu, Amira mulai mondar-mandir ke Universitas yang ia pilih sebagai tempat menimba ilmu, menggantikan Unversitas sebelumnya di Jakarta yang telah ia tinggalkan.
Amira sibuk mengisi formulir pendaftaran dan belajar untuk tes masuk Perguruan Tinggi pilihannya itu. Selesai dengan urusan calon kampusnya, Amira mampir ke malioboro untuk sekedar berjalan-jalan. karena ia masih baru berada di Yogyakarta dan masih sendirian (belum punya teman) jadi dia kemana-kemana masih sendiri.
Amira sangat menyukai malioboro, karena baginya ini adalah pemandangan yang baru.
Tempatnya terlihat klasik, menurutnya sangat estetik dan sulit ditemukan di Jakarta. Ia duduk di salah satu kursi yang tersedia pada trotoar Malioboro.
Ia ingin mengisitirahatkan kakinya setelah berjalan yang cukup melelahkan. Hari ini di Yogyakarta cukup terik. Ia meminum boba yang tadi sempat dibelinya.
Meminum boba sendirian di pinggir jalan membuatnya memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Banyak sekali terlihat pasangan muda-mudi yang sedang nongkrong bersama di tempat itu.
Melihat itu, Amira kembali mengingat kehidupan lalunya.
Sudah seminggu berlalu sejak aku meninggalkan Kak Digo, apa kabarnya dirimu kak? Apa kau sudah melupakanku?
Aku disini masih sama seperti aku satu minggu yang lalu, ketika aku meninggalkanmu. Rindu dalam hatiku pun masih sama besarnya dengan hari itu. Luka yang aku bawa juga masih sama sakitnya dengan hari itu kak.
Padahal udah satu minggu aku berada di tempat yang berbeda dengan udara yang kau hirup. Tapi aku masih tak bisa mengobati luka aku sendiri.
Amira berkata dalam hatinya, lalu mengusap airmata nya. Kemudian ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Rasanya sedih sekali,” batin Amira ditengah tangisnya.
Cukup lama Amira melepas kesedihannya dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Setelah sudah cukup puas menangis, Amira menurunkan kedua tangan dari wajahnya, lalu mengusap sisa airmata nya.
__ADS_1
Amira kembali meminum bobanya, karena merasa haus setelah menangis yang cukup lama. Makin sore pasangan yang mengunjungi tempat itu semakin banyak saja. Amira memutuskan untuk pulang ke kosan nya dengan membawa boba yang masih diminumnya.
“Orang lain udah sibuk menciptakan kebahagiaan dengan pasangannya, sementara aku disini masih sibuk minum boba sambil melupakan kamu Kak. Kenapa melupakan satu orang saja begitu sulit?” ucap Amira dalam hati sambil berjalan sendiri.
Sementara itu, Nisa yang telah satu minggu tidak bertemu Amira ingin mengunjunginya di rumahnya. Satu hari setelah wisuda Digo, ia mencoba menelpon Amira namun nomornya tidak aktif.
Hari ini ia ingin datang ke rumah Amira untuk berterima kasih karena Amra telah mempertemukannya dengan Digo dan ingin menanyakan kenapa Amira tidak bisa di telpon setiap kali ia mencoba menelponnya.
Tentu saja Nisa tidak bisa menelpon Amira karena sejak memutuskan untuk pergi, Amira telah mengganti nomor ponselnya dengan yang baru. Gadis itu berpikir ingin memulai kehidupan barunya di perantauan.
Sesampainya di depan rumah Amira, Nisa melihat rumahnya sepi seperti tidak ada orang yang menempati. Nisa turun dari mobilnya lalu mendekati rumah Amira. Nisa mencoba memencet bel yang ada di luar pagar rumah.
Tak lama kemudian muncul seorang perempuan yang tidak lain adalah si mbak, membuka pagar untuk berbicara dengan tamu yang datang itu.
Si mbak agak terkejut melihat wajah tamunya mirip seperti Amira, tapi mana mungkin Amira sudah berada di rumah ini lagi? Sedangkan tadi siang masih telponan dengan mamanya mengabarkan bahwa dia masih sibuk mengurus administrasi calon kampus barunya.
“Hai mbak, aku Nisa, temannya Amira,” sapa Nisa ramah.
“Amira nya ada mbak?” tanya Nisa.
Si mbak memperhatikan Nisa sesaat, lalu berpikir, sepertinya teman-teman Amira yang sering datang tidak ada yang berwajah mirip dengannya.
“Emm maaf mbak, Amira lagi pergi sama keluarga nya untuk beberapa hari,” jawab si mbak yang berbohong kepada Nisa.
“Oh gitu mbak, emm.. kira-kira kapan pulangnya ya mbak?” tanya Nisa lagi.
__ADS_1
“Maaf kalau itu saya kurang tahu mbak,”jawab si mbak dengan ekspresi yang tidak dibuat-buat.
“Baiklah mbak, terima kasih ya infonya, nanti aku main ke sini lagi kalau Amira sudah pulang,” ucap Nisa ramah dan tersenyum kepada si mbak dan dijawab dengan anggukan kepala oleh si mbak.
“Oh iya mbak, ini aku tadi beli kue untuk Amira, tapi karena dia ga ada ya udah buat mbak aja ya kue nya, masa mau aku bawa pulang lagi,” ucap Nisa sambil memberikan bingkisan yang dibawanya.
“Wah terima kasih ya mbak,” sahut si mbak yang merasa bersyukur karena saat ini ia di rumah sendirian, orang tua Amira sedang pergi acara keluarga. Lumayan buat camilan.
“Kalo gitu saya permisi dulu ya mbak,” pamit Nisa lalu pergi meninggalkan rumah Amira.
Nisa berjalan ke mobilnya dan langsung pergi dari tempat itu. Tanpa ia tahu, di sudut jalan di dekat rumah Amira sebuah mobil sedang berhenti dengan pengemudi yang diam memperhatikannya.
Digo merasa ingin mendatangi Amira, ingin meminta penjelasan mengapa sikap Amira begitu tega menyakitinya. Setelah seminggu tidak datang di acara wisudanya, bahkan Amira menghilang tanpa kabar. Seperti ditelan bumi saja.
Namun saat sudah dekat di rumah Amira, ia melihat mobil Nisa sedang terparkir tepat di depan pagar rumah. Digo memperhatikannya yang sedang mengobrol dengan si mbak.
Setelah Nisa pergi Digo menjalankan mobilnya lalu berhenti di depan rumah Amira. Tempat Nisa tadi memberhentikan mobilnya. Namun tidak seperti Nisa yang bertamu, Digo memilih tetap berada dalam mobilnya sambil menatap rumah Amira.
Rumah yang terlihat sepi itu, sepertinya memang Amira tidak ada di rumah. Digo melihat jendela kamar Amira yang terlihat tertutup gorden berwarna coklat keemasan. Digo tersenyum getir, lagi-lagi merasakan sakit pada hatinya.
“Bahkan kamu pergi dengan begitu ringan tanpa mempedulikan aku Amira. Sedangkan aku di sini sedang menahan sakitnya hatiku karena keangkuhan sikap kamu. Apakah ini memang caramu untuk menolak ku?” ucap Digo sambil menatap jendela kamar Amira.
Sepert bunglon, ia merasa terkadang Amira mencintainya, tapi terkadang Amira seperti tak mempedulikannya, seperti saat ini.
“Kamu jahat Amira, terbuat dari apa sebenarnya hati kamu?” batinnya lalu menundukkan kepalanya pada stir yang saat ini digenggamnya.
__ADS_1
Cukup lama Digo berada pada posisinya itu. Meratapi takdir cinta yang tak pernah berpihak kepadanya. Cintanya tulus, tapi selalu mendapat perlakuan yang tak adil. ia pernah terluka karena masa lalunya, masa lalu bersama Nisa. Jika saat ini ia terluka lagi, bahkan dengan luka yang lebih menyakitkan dari yang dulu, sanggupkah dia mengobatinya?
Digo menegakkan kembali kepalanya, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Hari sudah akan gelap, lebih baik ia pulang ke rumah untuk menghabiskan malamnya.