
Digo dan Amira akhirnya telah menyelesaikan packing barangnya. Amira pamit dengan Ibu kosnya dan mengembalikan kunci kamar sang pemilik.
Amira pun memberikan makanan yang tadi sempat dibelinya kepada tetangga kamar nya, karena Amira dan Digo akan sarapan bersama di Bandara.
Digo dan Amira pun pergi meninggalkan tempat itu menggunakan taksi online.
Di dalam taksi, tiba-tiba Amira teringat akan Nisa yang saat ini tengah berada di kota yang sama dengannya.
"Kak, kemarin Nisa ke tempat aku, kira-kira dia masih di sini gak ya?" Tanya Amira.
"Dia masih di sini Mi, kenapa?" jawab Digo dan bertanya balik.
Amira menoleh ke Digo. "Kok kakak tahu? Kakak ketemu dia?"
"Enggak, kakak cuma telpon dia aja tadi pagi sebelum menemui kamu, nanya alamat kamu," jawab Digo menatap Amira.
"Aku mau ketemu dia sebentar ya?" Tanya Amira.
"Boleh, kakak telpon dulu ya, dia ada dimana sekarang," ucap Digo lalu mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Nisa.
Amira mengangguk dan membiarkan Digo menelpon Nisa.
Nisa saat ini baru saja selesai sarapan dan sedang kembali menuju kamar hotel bersama Riko. Ponsel yang dibawanya pun berdering, Nisa pun langsung mengangkat telpon itu.
"Halo, iya Go?" Sapa Nisa membuat Riko yang saat ini berjalan di sebelahnya menoleh.
"Oh aku ada di hotel Grand Rohan Go, kenapa?" terdengar Nisa menjawab lawan bicaranya di telpon.
"Kamu sama Amira mau kesini?" Tanya Nisa lalu menoleh ke Riko sebentar.
"Oke, aku tunggu ya nanti kalo udah di loby kabarin aja," sahutnya lagi lalu menutup telponnya.
"Jadi mereka udah ketemu ya," ucap Riko sambil berjalan beriringan dengan Nisa.
"Iya dan mereka katanya mau kesini," jawab Nisa lalu menoleh ke Riko.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya nya lagi.
Riko menoleh Nisa. "Aku? Kenapa memangnya aku?" jawab Riko cuek.
"Aku gak apa-apa, tapi kamu aja kan yang nemuin mereka?" tambahnya.
__ADS_1
"Kamu gak mau ikut?" Tanya Nisa.
Riko menggeleng. "Lebih baik mereka gak tau aku di sini."
Biar bagaimana pun Amira adalah perempuan pertama yang berhasil manjatuhkan hatinya terlalu dalam. Amira juga pernah menjadi mimpinya untuk merajut masa depan bersama. Tidak mudah rasanya menghilangkan sosok seperti itu di dalam hati Riko.
Nisa pun mengerti maksud Riko. Ia pun tak mempermasalahkannya. Nisa membiarkan Riko dengan pikirannya sendiri, dan ia juga tak akan bilang jika Riko berada di sini bersamanya.
Akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar masing-masing. Tapi ada yang aneh, Nisa kaget melihat Riko ingin membuka pintu yang terletak tepat di depan kamarnya.
"Kamu tidur di kamar itu Rik?" Tanya Nisa.
"Iya," jawab Riko santai.
"Sejak kapan kamar kamu ada di depan kamar aku?" Tanya Nisa merasa heran.
"Ya sejak aku datang ke hotel ini memang aku tidur di sini," jawab Riko berbohong.
"Masa sih?" Nisa masih tak percaya, rasanya kebetulan banget kalau Riko dari kemarin ada di depan kamarnya, kenapa gak pernah simpangan ya?
"Iya lah, kamu pikir aku sengaja nyari tempat di sini? Aku aja gak tau kalo kamu ada di sini," jawab Riko mengelak sehalus mungkin.
"Oh gitu ya? Bisa kebetulan banget ya," jawab Nisa polos.
"Kamu ini mudah banget percaya sama orang sih Nis," ucap Riko dalam hati.
"Kalo aku sih ga apa-apa karena gak punya niat buruk, tapi kalo laki-laki lain? Bisa-bisa kamu habis dikerjain," batinnya lagi.
Lalu mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
40 menit kemudian Nisa mengangkat telpon Digo karena Digo dan Amira telah tiba di lobi hotel. Nisa pun bergegas turun untuk menemui mereka.
"Mira," panggil Nisa ketika melihat Amira telah duduk di sofa loby hotel.
Amira pun segera menoleh ke Nisa lalu berlari memeluknya.
"Nis, gimana kabar kamu?" tanya Amira.
Nisa membalas pelukan Amira lalu tersenyum. "Aku baik Mir, kamu juga pasti semakin baik kan hari ini?" jawab Nisa menebak.
"Iya, ini berkat kamu, aku berhutang banyak sama kamu Nis," ucap Amira dalam pelukannya.
__ADS_1
"Hutang apa sih Mir? Kita kan sahabat, aku seneng akhirnya bisa berguna buat kamu Mir."
Amira melepas pelukannya lalu menatap Nisa. "Kalo bukan karena kamu, aku sama Kak Digo gak bisa bersama kaya sekarang Nis."
"Kalo bukan karena kehadiran aku di tengah kalian, mungkin kalian udah bersama dari lama Mira," jawab Nisa tersenyum.
Amira tak menjawab namun masih memandang Nisa. Lalu Digo berjalan mendekati mereka berdua.
"Aku yang harusnya banyak terima kasih, karena kamu sampe harus datang ke sini cuma untuk bantu aku Nis," ucapnya.
"Nggak masalah Go, anggap aja ini balasan aku untuk semua yang aku lakukan sama kamu," jawab Nisa.
Digo pun tersenyum menatap gadis yang dulu pernah mengisi hatinya itu.
"Nis, kita mau pulang ke Jakarta, kamu mau ikut?" Tanya Amira.
"Oh enggak Mir, kebetulan aku udah perpanjang menginap aku di sini," jawab Nisa jujur.
"Kamu mau liburan dulu di sini?" Tanya Amira memastikan.
Nisa mengangguk lalu tersenyum. "Lumayan kan Mir, mumpung ada di sini sekalian mau jalan-jalan dulu hehehe."
"Oke deh kalo gitu, aku sama Kak Digo duluan ya ke Jakarta nya," jawab Amira senang.
"Iya, kalian hati-hati ya di jalan," sahut Nisa tersenyum ke arah Amira dan Digo.
"Ya udah deh kalo gitu kita pamit ya, takut ketinggalan pesawat," ucap Amira lalu memeluk Nisa. "Kamu baik-baik ya di sini Nis."
"Iya Mir, kamu mau aku bawain oleh-oleh apa?" tanya Nisa.
"Ih apaan sih kan aku yang lebih lama di sini masa aku yang dibawain oleh-oleh," sahut Amira.
"Hehehe, kali aja ada yang mau kamu beli Mir, nanti kamu hubungin aku aja kalo memang ada ya," ucap Nisa menawarkan.
Amira mengangguk. Sebenarnya ia juga belum membeli oleh-oleh untuk dibawanya pulang, tapi nanti dalam perjalanan ke Bandara pasti ada toko oleh-oleh, pikirnya.
"Nanti kabarin aku kalo udah sampe Jakarta ya Mir," ucap Nisa lagi.
Amira melepas pelukannya lalu mengangguk. Tak lupa Digo juga berpamitan pada Nisa. Mereka pun meninggalkan tempat itu untuk menuju Bandara.
Nisa menatap kepergian mereka dengan hati yang tak menentu. Ada rasa sedih dan kelegaan yang bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Nisa terus menatap kepergian Amira dan Digo hingga mereka menghilang dari pandangannya. Sepertinya ia sudah merelakan cintanya menguap bersama angin, sehingga tak lagi menyisakan perih dengan kepergiannya.
Tanpa Nisa sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari balik tirai. Entah sejak kapan Riko berada di sana, memperhatikan wanita yang saat ini sedang menyembunyikan kerapuhannya.