
Riko dan Nisa telah mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Setelah turun dari pesawat mereka berjalan berdampingan lalu menuju bagasi untuk mengambil koper masing-masing. Cukup lama menunggu antrian koper, akhirnya mereka pun mendapatkannya.
"Kamu mau makan dulu gak Rik? Udah jam makan siang loh ini," ajak Nisa yang melihat jam tangannya sudah pukul 12.00 WIB.
Riko pun ikut melihat jam di tangannya. "Oh iya sekalian aja deh makan siang di sini Nis."
"Oke, ayuk kita cari tempat yang gak ngantri," sahut Nisa bersemangat, ia suka sekali makan di Bandara entah mengapa.
Mereka pun akhirnya pergi ke salah satu restoran yang terdapat di bandara. Tempat itu tidak terlalu ramai namun nyaman untuk menikmati makan siang.
Riko heran melihat tingkah Nisa seperti bocah yang baru mendapatkan uang jajan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kadang dewasa, kadang seperti anak kecil, kadang cerewet dan mendominasi, kadang juga jadi begitu penurut," ucap Riko dalam hatinya sambil memperhatikan Nisa.
Mereka pun tiba di restoran itu lalu duduk berhadapan. Setelah memesan menu, Nisa mengambil ponsel dari tasnya bermaksud ingin mengirim pesan pada Amira.
Ia telah berjanji jika sudah tiba di Jakarta akan mengabari gadis itu.
"Mir, kamu lagi apa? Aku udah di Bandara Cengkareng nih."
Aku lagi sama teman-temanku di rumah ku Nis, wah kamu udah pulang ya? Habis ini langsung pulang atau kemana?"
"Aku langsung pulang aja Mir, pengen istirahat. Tapi ini lagi makan siang dulu di bandara."
"Oh ya udah kalo gitu, kamu take care ya Nisa."
"Oke Mir, see you."
Nisa meletakkan ponsel nya di meja. Riko yang dari tadi memperhatikan Nisa sibuk saja dengan ponselnya jadi penasaran.
"Serius banget sih chatingan nya," ucapnya yang entah kenapa jadi kepo. Tapi mau nanya juga malas, malah jadi begitu ngomongnya.
"Oh aku tadi wa Amira Rik," sahut Nisa dengan memandang Riko.
"Oh kenapa?"
"Nggak apa-apa kemarin kan aku janji mau kabarin dia kalo aku udah di Jakarta."
Dahi Riko berkerut lalu melihat ke arah luar restoran.
"Tapi kita belum di Jakarta loh, ini masih Tangerang."
__ADS_1
"CK.. iya in aja kenapa sih Rik, bentar lagi juga sampe Jakarta, tinggal masuk tol doang," sahut Nisa mulai sebal.
Riko tertawa pelan. "Iya deh iya, gitu aja cemberut."
"Abisnya kamu tuh selalu aja patahin argumen aku."
"Ya gak apa-apa kan, asal jangan patahin hati kamu aja Nis," goda Riko sambil tertawa.
"Dih, kalo kamu berani begitu, aku hancurin duluan hati kamu."
"Waduh, serem amat," sahut Riko masih dengan gaya menggoda.
Bersamaan dengan itu, makanan mereka pun tiba.
"Makasi ya mbak," ucap Nisa kepada waiter yang mengantarkan makanannya.
"Makanan ini yang bayar aku aja ya," ucap Nisa mengingatkan Riko.
"Ya ampun Nisa, masih aja kamu bahas soal bayar membayar, ampun deh," jawab Riko tak habis pikir.
"Ya kan tadi kamu udah beliin aku tiket Rik, kamu gak mau diganti, ya udah ganti nya aku bayarin kamu makan," sewot Nisa.
"Aku gak suka kalo dibayarin perempuan," jawab Riko lalu menyantap makanannya.
"Udah deh makan aja Nis, pusing aku dengerin kamu dari di Bandara Yogyakarta sampe di sini yang dibahas itu terus."
"Makanya kamu nurut."
"Iya deh iya, padahal uang aku juga gak akan habis cuma untuk bayar begini," gerutu Riko yang akhirnya mengalah.
"Aku cuma gak mau punya hutang budi aja Rik, aku membiasakan diriku untuk bisa menyelesaikan semuanya sendiri, aku gak suka punya hutang budi," ucap Nisa menjelaskan.
Riko menatap Nisa. Dalam hatinya ada rasa kagum untuk wanita yang saat ini ada di hadapannya.
Jarang sekali ada wanita seperti itu, dan terbukti dengan yang terjadi antara dirinya dan Amira. Dia benar- benar melakukan sendiri apa yang menurutnya benar. Tapi pada akhirnya memang itu benar dan masalah pun selesai.
"Apa sih pikiran aku malah jadi kemana-mana," Riko tersadar dari lamunannya.
"Kenapa Rik?" Tanya Nisa yang melihat gelagat Riko aneh.
"Nggak apa-apa," sahut Riko lalu menyendok kan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Nisa tak memperpanjang itu lalu kembali memakan makanannya.
Ketika selesai makan sajian restoran itu, Nisa mengingatkan kembali pada Riko akan dompetnya.
"Dompet aku mana Rik? Aku mau bayar."
"Nanti aja lah males aku ngambilnya," jawab Riko asal.
"Kalo gak pake dompet itu aku bayar pake apa Riko?!"
"Pake kartu aku aja," Riko masih mencoba membujuk Nisa dengan caranya.
"Tadi kan kamu udah bilang iya katanya aku yang bayar," sahut Nisa kesal.
"Nis, aku tuh gak akan miskin cuma bayarin ini doang, udah deh nurut aja."
"Ya bukan gitu aku tuh cuma...." ucapannya terhenti karena dipotong oleh Riko.
"Iya iya paham, kamu gak mau hutang budi kan? Nanti kalo aku memerlukannya aku akan nagih ke kamu bayaran tiket sama makan ini, oke?" jawab Riko acuh lalu beranjak ke kasir.
"Hah ?? Apa bedanya?" sahut Nisa menatap Riko yang tak memperdulikannya dan malah terus berjalan.
Nisa melihat Riko dengan tatapan kesal. Sungguh laki-laki menyebalkan. Bagaimana awalnya sih Amira bisa menyukai laki-laki seperti itu, batinnya kesal.
Sementara itu di rumah Amira, teman-temannya masih ada di rumahnya. Mereka sedang makan siang bersama di ruang tamu Amira.
Hari ini Bu Rani memasak banyak makanan karena teman-teman Amira akan makan siang di rumahnya, sekalian merayakan kepulangan Amira yang sangat ditunggunya.
"Mi, mama Lo pinter masak ya, ayam bakarnya aja enak banget gini," ucap Tasya.
"Iya dong, tapi sayangnya gak nurun ke gue," sahut Amira jujur sambil mengunyah makanannya.
"Gimana sih Mi? Belajar dong, biar Kak Digo nanti betah di rumah kalo kalian udah nikah," ucap Ajeng dengan telapak tangan diletakkan di dagunya.
"Nah iya bener itu Mi, kasian Kak Digo kalo Lo gak bisa masak," Lena menimpali.
"Apaan sih kalian kok omongannya udah jauh banget," jawab Amira malu-malu.
Tapi karena perkataan teman-temannya itu Amira jadi memikirkan pernikahan. Apalagi Digo bilang mau menikahinya walau ia belum lulus kuliah. Bagaimana jika ucapan Digo itu serius?
Sepertinya ia memang harus belajar masak untuk suaminya nanti, yaitu Kak Digo. Ia jadi menghayal bagaimana rasanya jadi istri Digo.
__ADS_1
Tapi kalau nikah muda, gimana dengan kuliahnya? Cita-citanya kan ingin menjadi wanita karir.
"Ah Amira, dilamar aja belum udah mikirin jadi istri sih," ucap Amira dalam hatinya menyadarkan diri dari lamunannya.