Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 33 Kabar Gembira


__ADS_3

Siang itu terlihat Amira sedang duduk sendirian di kantin kampusnya. Ia menunggu teman-temannya datang karena hari ini mereka ada kuliah siang.


“Lama banget sih nunggu mereka ini,” ucap Amira sambal melihat jam di tangannya.


Tiba-tiba Lena menghampirinya bersama Erwin.


“Mi, kok sendirian?” tanya Lena lalu bergegas duduk di depan Amira, disusul dengan Erwin yang juga duduk di samping Lena.


“Eh kalian kok berdua?” Amira bertanya balik.


Lena dan Erwin berpandangan, kemudian keduanya tersenyum. Apalagi Lena, terlihat sekali senyumnya sangat merekah seperti bunga yang baru bermekaran.


Amira menaikan sebelah alisnya. “Biar gue tebak, kalian udah jadian ya?”


“Ahh Amiiii, lo emang paling tau gue,” jawab Lena kemudian berdiri menghampiri Amira lalu memeluknya.


“Serius?? Ya ampun gue ikutan seneng ya Len,” ucap Amira sambal membalas pelukan Lena.


Kemudian lena berjalan Kembali ke tempatnya duduk tadi yaitu di sebelah Erwin.


“Kemarin Mi, waktu gue pulang duluan gue janjian ketemu sama Kak Erwin,” jawab Lena.


“Dasar, pantesan lo ngilang gitu aja,” protes Amira.


“Tapi gue ikutan seneng dengernya, selamat ya Len,” ucap Amira penuh senyuman.


“Hehe, kemarin gue buru-bru banget Mi, soalnya Kak Erwin udah nunggu gue di sana,” jawab Lena.


“Iya iya nggak apa-apa, yang penting kan sekarang lo ngasih kabar gembira ke gue,” sahut Amira dan dijawab anggukan oleh Lena sambil tersenyum bahagia.


Tiba-tiba Digo datang dari arah belakang Amira. Erwin yang melihat kedatangan Digo segera memanggil sahabatnya itu.


“hei Go, di sini,”panggil Erwin sambil melambaikan tangannya.


Melihat itu Digo pun menghampiri mereka. Ia mengambil kursi yang terletak di sebelah Amira. Menatap Amira sebentar, lalu mendudukinya.


“Hai Mi,” sapa Digo.


“Hai juga kak,” balas Amira.


Digo dan Amira sudah lebih dari seminggu tak bertemu sejak kejadian di rumah Amira itu.


Suasana mendadak terasa canggung. Bahkan Lena dan Erwin yang sedang hangat-hangatnya karena baru menjadi sepasang kekasih itu pun tak mampu mencairkan suasana antara Amira dan Digo.


“Emm, gue sama Lena pergi dulu ya Go, kalian lanjut aja berdua,” ucap Erwin tiba-tiba lalu menggandeng tangan Lena.

__ADS_1


“Eh pada mau kemana?” tanya Amira.


“Gue mau nemenin Kak Erwin dulu ke Lab mi,” jawab Lena sekenanya.


Padahal mereka hanya ingin memberi waktu agar Amira dan Digo bisa mengobrol berdua.


“Ya udah kita duluan ya Amira, Go,” pamit Erwin lalu menggandeng tangan Lena menjauh dari sana.


Sementara itu Amira yang hanya berdua saja dengan Digo merasa semakin canggung saja. Mereka memang terasa sangat jauh sejak kejadian di rumah Amira yang juga bersama Riko itu.


“Mi,” panggil Digo memecah keheningan.


“Hmmm iya kak,” jawab Amira masih dengan rasa canggung.


“Udah cukup waktunya Mi?” tanya Digo.


“Waktu apa maksud kakak?” tanya Amira bingung.


“Kemarin kan kamu minta waktu sendiri dulu katanya, dan ini udah lebih dari seminggu, masa kita ada perkuliahan bareng di beberapa mata kuliah tapi ga saling tegur Mi,” jawab Digo.


Amira tersenyum kikuk. “Sebenernya aku biasa aja sih kak, kemarin tuh aku cuma bingung aja.”


“Bingung kenapa?” tanya Digo.


“kenapa ga bisa?” taya Digo lagi.


“Ya aku ga tega kalo salah satu harus pergi sia-sia,” jawab Amira lagi.


Digo tersenyum. Seakan ia tau apa yang ada jauh di dalam relung hati Amira.


“Bukannya perasaan kamu selama ini untuk Riko Mi, kalo kamu punya perasaan sayang sama dia, kenapa kamu ga pilih pergi sama dia aja?” tanya Digo.


“Aku ga mungkin pergi sama dia dan ninggalin kakak sendiri,” jawab Amira pelan.


"Kamu takut kakak sakit hati?” tanya Digo


Amira terdiam.


“Kalo kamu sayang sama Riko harusnya kamu pergi sama dia. Kenapa kamu malah mikirin kakak apakah kakak akan sakit hati atau ga, itu artinya jauh di dalam hati kamu, kamu punya rasa untuk kakak Mi,” jawab Digo.


Amira menoleh ke arah Digo, ditatapnya pria bermata coklat yang duduk di sebelahnya itu.


“Benarkah? Benarkah jauh di dalam lubuk hatiku, aku menyimpan perasaan untuknya?”batin Amira.


“Aku permisi duluan kak,” ucap Amira pada akhirnya. Ia terlalu bingung harus menjawab apa perkataan Digo.

__ADS_1


Jangankan menjawab Digo, menjawab pertanyaan di hatinya sendiri saja ia bingung. Lebih baik segera pergi dari sana.


Digo tak menahan kepergian Amira. Dia merasa senang karena akhirnya isi hati Amira yang terdalam diketahuinya, walaupun hal itu belum disadari oleh Amira.


“Biarkan dia mengerti lebih dalam dan mengetahui lebih jauh tentang apa itu cinta yang sebenarnya,” batinnya.


Kemudian ia pun meninggalkan kantin dan berjalan menuju ruang kelasnya.


“Sepanjang jalan menuju kelas, Amira terus memikirkan tentang perkataan Digo.


Jika ia menyukai Digo, lalu apa artinya perasaanya selama ini pada Riko?


Perasaan senang ketika ia tahu bahwa Riko mencintainya, senang ketika Riko bersama dengannya. Atau perasaan sedih dan cemburu ketika melihat Riko Bersama Desi.


Apa itu hanya ilusi?


Digo yang berjalan di belakang Amira sejauh 4 meter itu pun memperhatikan Amira yang terlihat sedang berfikir.


Cepat atau lambat kamu akan tau siapa sebenarnya yang kamu cintai begitu dalam Amira. Saat ini kamu hanya menutup matamu dalam cinta ilusi yang kau ciptakan sendiri. Kekagumanmu pada Riko mampu menjeratmu ke dalam lembah yang begitu dalam yang kau sebut itu cinta, padahal cinta yang sebenarnya masih bersembunyi jauh di dalam lubuk hati kamu,” batin Digo.


Amira telah sampai di kelas Kimia konstektual lalu ia segera duduk di bangku yang menurutnya nyaman. Tak lama Digo pun tiba di kelas itu, dimana ia mengulang mata kuliah tersebut. Digo dan Amira sesaat saling menatap namun Amira segera melepas pandangannya ke arah lain.


Digo pun berjalan menuju bangku kosong yang ada di depan Amira. Sesaat Ia menatap Amra, lalu menarik bangku itu dan mendudukinya.


Tercium harum tubuhnya Digo, ah entah parfum apa yang digunakannya, aromanya begitu enak di hirup yang sebenarnya membuat Amira candu.


Aroma ini pula yang ia hirup saat Digo memeluknya, begitu dekat, begitu hangat.


Tiba-tiba Amira tersadar. Apa yang ia pikirkan? Kenapa malah mengingat pelukan Digo?


“Ah enggak enggak, bisa-bisanya malah mikir ngeres di saat seperti ini,” batin Amira sambil menggelengkan kepalanya.


Bersamaan dengan itu Tasya dan Ajeng datang, lalu segera mengambil kursi di sebelah Amira.


“Lo kenapa Mi?” tanya Tasya ketika sudah duduk di kursinya.


“Enggak, gue nggak apa-apa kok,” jawab Amira lalu tersenyum ala pepsodent.


“Apaan sih lo?” sahut Tasya geli melihatnya tersenyum begitu.


“Eh si Lena kemana ya?” tanya Ajeng.


“Oh dia tadi bareng kak Erwin, paling bentar lagi nongol dia,” jawab Amira.


“Ih dasar ya tuh anak,” sahut Ajeng gemas.

__ADS_1


__ADS_2