Pintu Hati Amira

Pintu Hati Amira
Bab 37 Mengapa sakit?


__ADS_3

Digo dan Erwin terus mengejar Amira yang berlari semakin kencang. Amira sendiri pun tak mengerti kenapa ia harus merasakan sakit hati? Bukankah ia tak ada hubungannya dengan ini? Bukankah seluruh cinta dan hatinya sudah habis ia berikan kepada Riko? Lantas, mengapa ia merasa sakit begini?


Amira telah sampai di pinggir jalan bermaksud untuk mencari taksi, namun Digo berhasil menyusul langkah Amira dan menarik tangannya. “Mi, tunggu Mi, kenapa kamu lari kaya gini?”


“Lepas kak aku mau pulang,” jawab Amira berusaha melepaskan tangannya dari Digo.


“Tunggu dulu Mi, kita omongin dulu baik-baik, kakak minta maaf kalo kakak salah, tapi tolong dengerin kakak dulu,”ucap Digo lagi menahan tangan Amira.


Melihat itu, Erwin melangkah maju mencoba mendekati Amira.


“Mi, kakak minta maaf, ibu kakak ga tau kalo kamu bukan Nisa, tolong maafin ya Mi,”kali ini Erwin bantu menjelaskan.


“Aku mau pulang kak, tolong,” jawab Amira dengan suara lemah dan tatapan tertunduk.


Digo terdiam melihat Amira seperti ini. Hatinya terasa sakit, apakah kali ini ia menyakiti gadisnya itu? Hingga mengeluarkan airmata seperti ini?


“Mi,” ucap Digo sambil memegang tangan Amira.


Namun di saat yang bersamaan terdengar suara seseorang memanggil Amira


“Amira”, terdengar suara dari arah berlawanan.


Seketika mereka menoleh ke sumber suara, terlihat sosok Riko sedang berjalan menghampiri mereka.


“Maaf tadi aku kebetulan lewat dan melihat kalian ada di sini, dan...”ucapan Riko terhenti ketika ia melihat Amira.


“Mi, kamu kenapa? Kamu nangis?” tanyanya lalu berjalan mendekati Amira.


Ia tak mempedulikan bahwa Digo saat ini masih memegang pergelangan tangan Amira.


“Ga usah ikut campur Rik,”Ucap Digo kesal sambil mengusir Riko untuk pergi.


Riko tak mengindahkan perkataan Digo, ia tetap berjalan ke arah Amira.


“Gue bilang jangan ikut campur dan pergi dari sini Riko,” teriak Digo dengan satu tangannya menunjuk ke arah Riko.


“Rik, udah Rik, jangan nambah urusan jadi lebih ribet,” ucap Erwin mencoba menengah kan.


“Ami?” panggil Riko, langkahnya terhenti karena ia menghargai ucapan Erwin.

__ADS_1


“Riko!” teriak Digo kesal sambil menoleh ke arahnya.


Kalau saja tidak ada Amira di depannya saat ini, ingin sekali rasanya Digo menghajar Riko saat itu juga.


Suasana menjadi bertambah tegang karena kedatangan Riko. Tak lama Lena dan yang lainnya pun telah sampai ke lokasi tersebut dan melihat apa yang terjadi.


Lena berjalan mendekati Amira, sementara Andi dan Irwan tetap berada di tempatnya.


“Mi,”sebut Lena saat ia sudah mendekat pada Amira. Ia ingin sekali membawa Amira pergi dari situ, namun keadaan tak memungkinkan dia melakukan hal itu.


Amira tak merespon Lena. Ia hanya diam tertunduk. Merasa jengah dengan semua ini.


“Kak Riko”panggil Amira tiba-tiba.


Riko kaget dan menoleh ke arah Amira.


“Tolong antar aku pulang Kak Riko,” ucap Amira lirih.


Digo menoleh ke arah Amira lalu memegang kedua tangannya. Mencoba menahan gadis itu untuk tak pergi darinya.


“Enggak Mi, kamu dateng sama kakak, artinya kamu pulangnya juga sama kakak, bukan sama Riko, atau dengan siapapun, ya?” ucap Digo sambil mengusap air mata Amira dengan lembut.


“Aku mohon,”lirihnya sambil menatap Digo dengan airmata yang hampir tumpah.


“Enggak mi, kamu tetep harus pulang sama kakak,”sahut Digo kembali dan bermaksud menarik tangan Amira agar kembali bersamanya.


Namun Amira menahan tangan Digo. “Aku mohon kak pahamin aku kali ini, tolong jangan menambah luka aku."


Amira melepaskan tangan Digo kemudian berjalan lemah ke arah Riko.


“Tunggu mi,” ucap Digo ingin menghentikan Amira, namun ditahan oleh Erwin.


“Udah Go, kali ini biarin Riko anter Amira pulang, Amira butuh waktu untuk sendiri, untuk ngertiin semuanya," ucap Erwin bijak kemudian menepuk pundak Digo.


“Enggak Win, gue ga boleh membiarkan Amira pergi sama Riko, Amira harus tetep sama gue Win,” jawab Digo hendak berjalan mengikuti Amira.


“Go, udah Go stop, lo juga harus kasih ruang untuk Amira,” ucap Erwin menahan Digo.


“Jangan Egois,” tambahnya.

__ADS_1


Digo berhenti, ia menuruti perkataan Erwin. Ia akhirnya hanya diam dan memperhatikan Amira berjalan ke arah Riko dengan hati pilu.


Seperti tak rela namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ingin marah tapi kepada siapa?


Digo merasa frustasi pada dirinya sendiri.


Ketika Amira telah tiba di sisi Riko, ia menghapus air mata yang masih tersisa di wajah Amira, tanpa banyak bicara Riko membawa Amira pergi dari tempat itu.


Mereka berjalan menuju mobil Riko yang terparkir tak jauh dari sana.


Digo hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya dan terus memperhatikan Amira bersama Riko hingga mereka menghilang dari pandangannya.


“Sabar Go, jangan paksa Amira, biarin dia menenangkan dirinya dulu untuk saat ini,” ucap Erwin menenangkan Digo.


“Gue masuk dulu ya,” pamit Erwin dan mengajak Lena masuk ke dalam rumahnya, diikuti oleh Andri dan Iwan meninggalkan Digo sendiri dalam kekalutannya.


Digo hanya diam tanpa ekspresi. Pandangannya masih tertuju pada tempat Amira pergi. Rasa penyesalan mulai merasuki hatinya. Ia merasa baru saja dapat mengetuk pintu hati Amira, namun belum sempat pintu itu terbuka kini sudah tertutup lagi.


"Sejak pertama kali aku menghapus air matamu, ini adalah yang paling menyakitkan untukku Amira, karena kali ini akulah penyebab air matamu jatuh.


Dan penyebab kau pergi meninggalkanku.


Apakah masih mungkin aku bisa menempati sudut ruang di hatimu Amira?” batin Digo lirih.


Sementara itu, di perjalanan, Riko terus memperhatikan Amira yang sesekali masih mengeluarkan air mata. Ia ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi sepertinya Amira sedang butuh waktu sendiri.


Riko tetap fokus menyetir sambil sesekali menatap Amira.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Amira bisa bersama dengan Kak Digo?” batinnya.


Amira menatap ke luar jendela tempat duduknya, air mata masih saja setia menemaninya.


Sudah sedekat itu Digo dan Nisa, bahkan sampai dikenalkan oleh orang tua dari sahabat Digo.


Harusnya saat Nisa menceritakan kisahnya, ia tau sudah sejauh apa hubungan mereka. Harusnya sejak ia melihat wallpaper ponselnya Nisa ia sudah paham jika mereka adalah dua insan yang begitu saling mencintai.


“Harusnya ini tidak ada hubungannya denganku, tapi mengapa begitu sakit ketika orang lain memanggilku dengan namanya? Apa ada yang salah dengan hatiku? Apakah aku mulai tidak rela jika Digo melepaskan genggamannya padaku?


Apakah ini artinya Digo benar, bahwa jauh dalam lubuk hatiku, Digo adalah pemilik tahta sebenarnya?”batin Amira dengan pikiran yang terus menerawang jauh.

__ADS_1


__ADS_2