
Digo telah sampai di kediaman Amira, yaitu kosannya di Yogyakarta.
Ia memastikan lagi apakah alamatnya sama dengan yang diberikan Nisa.
Lalu ia pun masuk ke halaman kosan Amira yang terdapat halaman parkir dan kamar yang berdempetan.
Ia mengetuk pintu kamar Amira, namun tak ada jawaban. Ia mencoba lagi mengetuknya, masih tetap tak ada jawaban.
"Ini bener gak sih kamar Amira?" batin Digo jadi ragu.
Digo mengambil ponselnya lalu mencoba menelpon Nisa untuk memastikan lagi apakah kamar yang dimaksud Nisa adalah benar.
Baru saja iya menempelkan ponsel di telinganya, terdengar sebuah suara dari arah belakangnya.
"Kak Digo," suara Amira terdengar begitu candu baginya.
Digo pun segera memutar tubuhnya jadi menghadap Amira. Dipandangnya wajah wanita yang begitu dicintainya. Ah betapa ia sangat merindukan wanita yang ada di hadapannya ini.
Amira yang baru datang setelah membeli sarapan sangat terkejut melihat sosok Digo yang saat ini berada di depan kamarnya.
Ia menatap laki-laki yang selama ini dirindukannya diam-diam, laki-laki yang ia cintai bahkan tanpa diketahui orangnya.
Amira tak kuasa lagi menahan airmata nya. Betapa ia sangat mencintai laki-laki ini, dan betapa rindunya ia selama ini.
Melihat Amira menangis tanpa suara, Digo langsung memeluk Amira. Mendekapnya dengan seluruh rasa cintanya. Amira membalas pelukan Digo dalam tangisannya. Amira benar-benar meluapkan segala rasa rindu yang selama ini ditahannya sendiri.
"Amira, tolong jangan lari lagi dari kakak," ucap Digo lirih dan semakin mengencangkan pelukannya.
"Kakak mencintai kamu Amira, jangan lagi berpikir untuk pergi, karena mulai sekarang, kakak akan terus peluk kamu kayagini, gak akan lagi ada kesempatan kamu untuk pergi dari kakak."
Amira hanya mengangguk dalam pelukan Digo. Rasanya tak ingin melepas pelukan yang sangat ia rindukan itu.
Setelah cukup lama mereka melepas rindu, akhirnya Digo melepaskan pelukannya dan memegang kedua lengan Amira.
"Kenapa kamu nekat pergi jauh begini Mi? Ninggalin semua orang yang sayang sama kamu dan memilih sendiri di sini?" Tanya Digo menatap lembut bola mata milik Amira.
"Kalo aku gak pergi, aku gak tau lagi gimana caranya untuk lupain rasa cinta aku ke kakak, aku takut gak bisa lupain kakak kalo aku gak pergi," jawab Amira jujur.
__ADS_1
Digo tersenyum lalu menghapus airmata Amira. "Harusnya kamu jujur Mi, kalo kamu juga mencintai kakak."
Digo memeluk Amira lagi. "Mulai sekarang kamu gak boleh lupain kakak, kamu harus terus mencintai kakak dan bersama kakak."
Amira terdiam. Bagaimana dengan kuliahnya? Dia telah diterima menjadi mahasiswa baru di universitas Yogyakarta, dan kuliah lamanya kan telah mengajukan cuti, pikirnya.
Amira melepaskan pelukan Digo dan menatap pemilik mata coklat itu. "Aku udah jadi mahasiswa di universitas sini kak, dan kuliah lama ku di sana juga udah mengajukan cuti, jadi aku gak bisa balik kesana dalam tahun ajaran ini kan?"
"Nggak sayang," ucap Digo dengan mengusap wajah Amira lembut.
"Kamu gak cuti di kampus, Lena blm ngasih berkas pengajuan cuti kamu, jadi kamu bisa lanjut kuliah di tempat pertama kali kita ketemu," ucap Digo lagi.
"Jadi Lena belum nyerahin berkas aku? Tapi kenapa?" Tanya Amira heran
"Karena Lena dan semua orang yang menyayangi kamu sebenernya ga menginginkan kamu pindah Mi, mereka berharap kamu akan kembali," jawab Digo penuh cinta.
Amira menatap Digo haru. Sebenarnya ia juga tak menginginkan untuk pergi, alangkah indahnya jika ia bisa memiliki orang yang dia cintai lalu hidup berdampingan bersama orang-orang yang menyayanginya.
"Dan sekarang kakak mau mewujudkan harapan mereka dengan membawa kamu pulang Mi, kamu mau kan ikut pulang sama kakak?" Tanya Digo.
"Bagus," ucap Digo sambil mengusap pipi rona Amira.
"Lagipula kakak juga gak akan terima penolakan mulai sekarang, kamu milik kakak selamanya," ucapnya lagi lalu menggandeng tangan Amira untuk pergi dari tempat itu.
Amira menahan tangan Digo. "Kak mau kemana?"
"Ya mau pergi lah, kita ke Jakarta sekarang," sahut Digo santai.
"Barang-barang aku belum diberesin, masa mau ditinggal gitu aja?" Tanya Amira bingung.
Mendengar itu Digo menepuk jidatnya lalu berjalan ke arah pintu kamar Amira.
"Ya ampun sampe lupa, sangking semangatnya bawa kamu pulang," jawab Digo nyengir kuda.
Amira hanya menggelengkan kepala dengan tertawa kecil melihat tingkah Digo. Ia pun membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
"Kakak gak apa-apa nih kalo masuk?" Tanya Digo agak ragu saat sudah di depan pintu.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa kak, sini masuk," sahut Amira. Lalu Digo pun menginjakkan kaki nya di dalam kamar Amira.
Ia memperhatikan seluruh ruangan kamar itu, ada harum ruangan yang begitu enak dinikmati. Ia pun duduk di lantai tepi kasur, karena tak tau lagi mau duduk dimana.
"Mi, apa kamu pernah juga nerima tamu laki-laki kaya sekarang?" Tanya Digo tiba-tiba.
Amira yang sedang membereskan barangnya pun menoleh. "Ya gak pernah lah kak, memangnya siapa yang mau datang kesini?"
"Tapi kalo seandainya kamu jadi mahasiswa di sini, pasti nanti ada temen laki-laki kamu dateng dan masuk sini," Digo mulai sewot.
Mendengar itu Amira pun menghentikan aktivitasnya lalu berjalan menghampiri Digo.
"Aku bisa jaga diri aku kak, dan kakak lupa kalo aku mencintai kakak? Kenapa aku harus mengizinkan laki-laki lain untuk datang kesini?" ucap Amira setelah duduk di hadapan Digo.
"Ah Amira udah mulai pinter menggombal rupanya," Digo berkata dalam hatinya.
"Kamu bilang apa?" Tanya Digo.
"Apa? Aku ga akan izinkan laki-laki lain masuk ke kamar ku," jawab Amira.
"Bukan, bukan yang itu," sahut Digo cepat.
Amira pu bingung dengan maksud Digo ini.
"Apa sih kak? Yang mana?"
"Ih tadi itu loh alesan kamu gak izinin laki-laki datang kesini kenapa?" Tanya Digo tak sabaran.
Ya ampun... Amira sampai geleng-geleng kepala.
"Karena aku mencintai kakak, aku mencintai Handigo Prasetya," jawab Amira tersenyum lalu memegang tangan Digo.
Digo yang mendengar itu langsung merasakan detak jantungnya saat ini berpacu lebih cepat dari biasanya.
Ditatapnya Amira lekat-lekat. Ah, ada debaran tak biasa pada kedua jantung mereka. Perlahan Digo memajukan tubuhnya hingga mengikis jarak antara wajahnya dan Amira. Kemudian ia mulai me*cium bibir Amira lembut dengan tangan yang saling menggenggam.
Amira kaget, matanya terbelalak. Tak menyangka Digo akan me*ciumnya secara tiba-tiba. Awalnya ia hanya diam saja, namun Digo menggigit kecil bibir bawahnya sehingga Amira membuka mulutnya dan terjadilah c*uman yang diinginkan Digo.
__ADS_1