
Kereta Amira telah berangkat dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Amira menatap jendela, melihat pemandangan yang dilintasinya. Lagi dan lagi, kenangannya bersama Digo kembali terlintas dalam benaknya. Membuatnya menjatuhkan airmata yang sedari tadi terus ditahannya.
Kak Digo, maaf jika aku harus menutup buku pada kisah kita yang bahkan belum dimulai.
Hingga kepergianku, kamu ga tau kan seberapa keras aku menahan kesakitanku agar tak terlihat olehmu?
Kamu ga tau kan jika selama ini setiap kita bertemu aku menyembunyikan luka ku.
Aku berharap seiring berjalannya waktu dan kepergianku tak hanya mampu menghapus lukamu tapi juga mampu menyembuhkan aku.
Amira tersenyum dalam tangisannya. Kemudian ia memejamkan matanya untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya yang masih selalu tetang Digo.
*****
Digo saat ini sedang dalam perjalanan menuju restoran outdoor yang telah dipesannya untuk acara perayaan kecil-kecilan atas wisudanya. Erwin dan Riski juga akan datang ke tempat itu karena dia memang sengaja mereservasi tempat itu untuk acara wisudanya bersama dengan kedua sahabatnya itu.
Nisa meminta Digo untuk ikut pada mobilnya saja, karena pagi tadi saat ke acara wisuda, Digo pergi diantar kedua orang tuanya dan saat ini orang tua nya sudah pulang terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan Digo hanya terdiam, pikirannya sibuk mengingat Amira yang tak muncul dalam acara pentingnya. Bahkan dalam keadaannya memohon pun, hati Amira seolah tak peduli terhadapnya.
Baru kali ini ia merasakan menginginkan seseorang dengan teramat sangat, bahkan tak mempedulikan rasa sakit yang dihasilkan dari keinginannya itu.
Nisa memandang Digo dengan tatapan kosong. Ia menyadari bahwa saat ini dia bukan lagi bagian dari hati Digo.Ya, ia sadar bahwa semua sudah berlalu. Ia hanyalah bagian dari masa lalu Digo yang telah terkikis waktu.
Namun mengetahui Digo tak menaruh kebencian padanya, dan masih ingin berteman dengannya membuatnya bersyukur. Bukankah hubungan mereka berawal dari pertemanan? Maka berakhir dengan pertemanan juga adalah hal yang baik bukan?
"Go, kamu nyewa restoran itu untuk acara makan-makan wisuda kamu?” tanya Nisa memecah keheningan.
Digo yang sedang melamun pun menoleh ke arah Nisa. “Iya, kan ada Erwin dan Riski, kali aja mereka mau bawa keluarga atau pasangan ke sana,” jawab Digo.
“Kamu ga bawa pasangan juga?” tanya Nisa.
__ADS_1
Digo tersenyum getir lalu menatap keluar jendela. “Entahlah,” jawab Digo seperti seorang yang terdengar putus asa.
Nisa terdiam, mencoba memahami suara dan ekspresi Digo. “Apakah sebenarnya ada seseorang yang ditunggunya?”Nisa berkata di dalam hatinya.
Tak terasa perjalanan mereka pun telah tiba di restoran outdoor yang telah Digo pesan. Tempatnya bersih dan masih asri, berlantaikan paving dan juga rerumputan sebagai tempat berpijaknya. Suasana seperti ada di dalam pedesaan sangat terasa karena terdapat beberapa saung-saung beratapkan jerami. Saat melangkahkan kaki semakin dalam pun terdapat danau kecil buatan dan sebuah tempat makan berbentuk kapal di tengahnya.
Terlihat kapal itu telah dihiasi dengan beberapa furniture serta bunga yang membuatnya semakin indah. Sebenarnya Digo telah memesan tempat itu untuk dia dan Amira. Ia bermaksud untuk meminta Amira secara resmi menjadi kekasihnya. Namun apalah daya, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan kenyataannya.
Kenyataan Amira tidak datang menemuinya membuatnya semakin terluka.
Erwin dan Lena yang baru saja tiba, terlihat kaget karena Digo datang bersama Nisa. Lena sekarang mengerti, mengapa Amira memilih pergi meninggalkan dirinya dan juga Digo. Ternyata kenyataan yang ada di depan Amira se-menyakitkan ini. Bagaimana bisa kita menerima cinta dari laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya?
“Eh Nisa, kok lo bisa tau acara wisuda Digo?”tanya Erwin setelah jarak mereka sudah dekat.
“Oh iya tadi temen gue yang anter gue Win,” Jawab Nisa sambil memandang Lena.
“Hei Len, kita ketemu lagi,” sapa Nisa bersalaman dengan Lena.
“Mi, pasti sakit banget jadi lo ya,” ucap Lena dalam hatinya.
“Ya udah yuk masuk, udah laper nih,” ajak Erwin pada Nisa dan Lena.
Sesampainya di dalam, Lena terlihat kagum dengan design restoran itu. “Ya ampun Kak Digo nyewa tempat ini cuma untuk makan-makan gini?” tanya Lena tak percaya.
“Dia mah uangnya ga berseri sayang, ini mah ga seberapa deh buat dia” jawab Erwin menjelaskan.
“Dia masih ga berubah ya, suka melakukan hal yang dia senangi,” sahut Nisa membuat Lena menoleh ke arahnya.
“Oh gitu ya mba? Emang beda ya orang kaya dengan rakyat jelata kaya aku,” ucap Lena sambil nyengir kuda.
“Eh Ki,” teriak Erwin sambil berjalan menghampiri Riski yang berada di salah satu saung dengan sajian makanan di depannya.
__ADS_1
“Ah lo bukannya nunggu, malah makan duluan sih,” ucap Erwin yang telah mendekat ke dalam saung Riski.
“Kalian lama sih, gue laper ya gue duluan aja deh,” jawab Riski sambil memakan dimsum nya.
“Dasar lo, eh si Digo kemana ya? Perasaan tadi barengan sampe nya di depan, malah ngilang tuh anak,” tanya Erwin heran.
“Tadi gue sempet ketemu tapi kayaknya dia ke sana deh,” jawab Riski sambil menunjuk arah danau.
“Ya udah kita ke saung sebelah aja yuk Len makan juga, Nis kamu mau ikut kita apa sendiri?” tanya Erwin.
“Aku di sini aja bareng Riski udah lama kan ga ketemu, sambil nunggu Digo,” sahut Nisa kemudian duduk di saung Riski.
Riski yang baru tersadar jika itu adalah Nisa langsung terbatuk-batuk. “Ya ampun Nis, ini elo? Gue kira siapa tadi, gue ga ngeh."
“Yee lo kira siapa emangnya?” tanya Nisa sambil tertawa kecil.
“Gue kira tadi orang yang mirip sama lo,” jawab Riski takut salah bicara.
“Maksudnya?” sahut Nisa bingung.
“Iya kirain bukan lo, karena gue ga tau lo ada di Indonesia Nis, kan lo lagi di Singapura buat kuliah?” tanya Riski bingung.
“Iya, gue lagi cuti,”jawab Nisa.
Sementara Digo sedang berada di Kapal tengah danau yang telah terhias itu. Ia duduk termenung pada sebuah kursi makan dimana seharusnya tempat itu menjadi saksi ia menyatakan cinta pada Amira.
“Aku telah mencoba segala cara untuk bahagiakan kamu Amira, aku coba dengan semua kekuatanku untuk merebut hati kamu. Tapi ternyata semuanya gak semudah yang aku bayangkan. Kamu tetap gak menginginkan aku untuk ada di sisi kamu,” ucap Digo dalam hatinya.
Kemudian Digo beranjak dari duduknya, mengambil bunga mawar merah yang terletak di atas meja lalu membuangnya dalam tempat sampah.
Ia bahkan menarik kain yang menghiasi meja dan membuangnya.
__ADS_1
“Amira, kamu adalah perempuan terkejam yang pernah aku temui, tapi juga perempuan pertama yang ga bisa aku lepaskan. Bahkan dalam sakit ku aku masih ingin menemui kamu,” ucapnya lirih dalam hati, kemudian pergi meninggalkan tempat itu.