
Bab ini menceritakan kondisi tokoh utama dalam novel ini.
Riko
Riko masih memikirkan apa yang terjadi kepada Amira. Kemarin, setelah mengantar Amra pulang, gadis itu tak menceritakan apapun kepadanya. Riko terduduk di balkon rumahnya, berusaha memikirkan sesuatu yang mungkin terjadi pada Amira.
“Jika Amira menangis karena Digo, mungkinkah Amira telah berpaling dan mencintainya?” batin Riko resah.
Mengapa kini Amira menangisi orang lain? Apakah sudah bukan aku lagi yang ada di hatinya?”
Harusnya ia sudah mengakhiri hubungannya dengan Desi demi mempertahankan Amira di sisinya. Namun kenyataannya hingga saat ini hubungannya dengan Desi masih terjalin, meskipun sudah tak ada lagi perasaan bahagia.
Riko menyesali dirinya, ketidaktegasan dirinya bisa membuat Amira pergi dari sisinya.
Riko terus memikirkan bagaimana perasaan Desi jika ia nanti memutuskan mengakhiri hubungan mereka, tapi ia lupa menjaga perasaan Amira. Apakah hati gadis itu masih baik-baik saja atau tidak.
"Amira, tolong jangan usir aku dari hati kamu,” ucap Riko pilu.
Di rumah Amira
Lena, Tasya dan Ajeng sedang berkumpul di rumah Amira saat ini. Lena telah menceritakan kejadian kemarin di rumah Erwin kepada sahabat-sahabatnya. Untuk itu mereka datang ke rumah Amira demi menghiburnya.
“Mi, lo ga apa-apa?” tanya Lena terlihat khawatir. Ia memegang pundak Amira untuk memastikan apakah sahabatnya itu baik-baik saja.
Tasya dan Ajeng memandang Amira dengan tatapan sedih. Mengapa Amira harus terlibat dalam kisah cinta yang terus menyakitinya.
Amira menggeleng pelan. “Gue ga tau Len.”
Amira terlihat menahan airmata. Lena dan yang lain memeluknya agar ia merasa jika ia tidak sendirian saat ini.
“Lo ceritain aja yang lo rasain Mi,” ucap Tasya mengusap punggung Amira.
“Gue ga tau Tasy, gue bingung, yang gue tau gue cuma mau nangis, selain itu gue ga tau lagi,” ucap Amira.
“Lo mau nangis, karena hati lo sakit dengan masa lalu kak Digo?” tanya Ajeng pelan, lalu dibalas anggukan saja oleh Amira.
Ajeng menyentuh tangan Amira dan menatapnya. “Lo sayang sama Kak Digo Mi?”
__ADS_1
Amira menatapnya sebentar, lalu terdiam, namun tiba-tiba ia menangis. Airmata nya jatuh begitu saja.
Ajeng, Tasya dan Lena berpandangan.
“Mi,” panggil Lena sambil membelai rambut Amira.
Masih tak ada suara yang keluar dari mulut Amira. Gadis itu hanya diam membiarkan airmata nya berjatuhan.
“Gue ga tau... Yang gue tau hati gue sakit, gue benci tapi gue juga ga tau alasannya apa gue benci ini,” ucap Amira tiba-tiba.
“Gue kangen dia tap gu berusaha nolak itu gue berusaha ga peduli gue berusaha ga sakit waktu tau wajah gue dan masa lalunya mirip, gue udah coba untuk abaikan semua itu, tapi,” ucap Amira tertahan.
“Tapi gue ga tahan ketika orang manggil gue nisa Len, sumpah gue sakit,” jelas Amira sambil menangis.
“Gue pengen benci Nisa, tapi gue ga bisa, dia perempuan baik dan dia ga tau apa-apa dengan sakit di hati gue, gue harus apa? Gue ga tau harus apa,”ucapnya lagi dengan suara sendu.
“Apa..sakit ini sama dengan ketika lo liat kak Riko sama Mba Desi?” tanya Tasya.
Amira menggeleng. “Ini lebih sakit Tasy, karena gue ga ada tempat untuk pulang. Ketika sama kak Riko gue ada tempat untuk bersandar yaitu di pundaknya Kak Digo, tapi sekarang gue harus mengobati luka gue sendirian."
Di rumah Digo
Ia tak mengerti kesalahannya sehingga Amira harus memilih pulang bersama Riko daripada bersamanya.
Ia tak tahu jika panggilan nama Nisa yang dilontarkan untuk Amira justru membuat gadis itu sedih.
“Andai aku tau bahwa ini menyakitimu, aku tak akan membawamu kesana Amira. Harusnya aku menceritakan semuanya kepadamu. Bahwa Nisa bukanlah bagian dari hatiku saat ini,” batinnya sambil menghirup rokok dalam-dalam.
Hanya kamu yang ada di hatiku Amira, sungguh hanya kamu seorang. Bahkan ketika kamu mencintai orang lain di depanku, aku tetap memilihmu.
Bagaimana caranya agar kamu menyadari ini?
Apa yang harus aku lakukan agar kamu mengerti bahwa kamulah pemilik satu-satunya hatiku? Apa yang bisa aku lakukan untukmu Mi?” ucap Digo tanpa sadar meneteskan airmata nya.
Nisa
Nisa pamit kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke luar sebentar. Ia meminta supir untuk mengantarkan ke tempat tujuannya.
__ADS_1
Dalam mobil, Nisa meminta supirnya untuk memutar sebuah lagu berjudul “terendap lara ku” yang dahulu dipopulerkan oleh grup band Naff.
Mendengar lagu itu, Nisa tersenyum miris.
“Aku pikir ini adalah lagu yang mungkin dinyanyikan Digo untukku, tapi ternyata lagu ini jadi kisahku.” batinnya.
Nisa memejamkan matanya. Kenangannya bersama Digo seolah terekam jelas di dalam ingatannya saat ini. Hari-hari yang mereka lewati bersama seolah terlihat jelas kembali.
“Aku sungguh tak bisa menahan rindu ini terlalu lama,” batinnya.
Kemudian ia mengarahkan sang supir untuk mengambil jalan menuju rumah Digo.
Ia ingin setidaknya sekali saja melihat Digo walaupun itu dari jauh.
Setibanya di daerah rumah Digo, Nisa meminta sang supir untuk menunggu nya di persimpangan jalan.
Lalu ia berjalan kaki menuju rumah Digo. Ia masih sangat mengingat jalan ini, jalan yang dulu sering ia lewati bersama Digo.
Ia teringat bagaimana Digo menggandeng tangannya melewati jalan ini. Bagaimana rasa bahagia nya saat itu.
Ia terus berjalan hingga ia melihat sebuah rumah tingkat 2 yang sangat dikenalinya.
Ia mendekat ke rumah itu lalu berdiri di depan pagarnya. Ia memandangi kamar Digo yang terletak di lantai 2 dan dapat dilihat jendelanya dari tempatnya berdiri.
“Aku tak pernah menyangka jika pergi mu dariku telah mengambil senyumanku Digo. Aku tak pernah menyangka bahwa penyesalan itu akan sesakit ini,” ucapnya lirih sambil terus memandangi jendela kamar Digo.
Saat itu jendela kamar Digo terlihat terbuka, dan bisa dilihatnya sosok yang ia rindukan selama ini. Digo sedang duduk di dekat jendela dengan wajah sedihnya.
Terlihat Digo sedang meneteskan airmata.
Nisa terkejut. Tiga tahun bersamanya ia tak pernah melihat Digo menangis. Mengapa saat ini Digo terlihat begtu lemah?
“Wanita mana yang bisa membuatmu menangis seperti ini Digo?” batinnya dengan mata terus tertuju pada Digo.
Sementara itu, Erwin yang sedari tadi dalam perjalanan ke rumah Digo, kini sudah tiba. Namun ia kaget melihat ada seorang perempuan yang tengah berdiri di depan rumah sahabatnya itu.
Ia menghentikan motornya untuk memperhatikan gadis itu sebentar.
__ADS_1
“Amira,” batinnya heran. “Ngapain Amira ada di- ah tidak. Itu bukan Amira. Apakah itu Nisa?”